Mabur.co – Mencurahkan isi hati (curhat) bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang senang berbicara dengan orang lain, termasuk banyak orang sekaligus, baik kepada teman, keluarga, gebetan, selingkuhan, atau bahkan sesuatu yang sifatnya benda mati, seperti tembok atau angin. Atau juga curhat secara spiritual, melalui ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan seterusnya.
Namun bagi Hernando Rifmanda Anwar, salah satu lulusan program Temu Karya Sastra (TKS) dari Dinas Kebudayaan “Kundha Kabudayan” tahun 2025, mencurahkan isi hati juga bisa dilakukan dengan berkarya sastra, salah satunya berpuisi.
Melalui puisi, Nando, panggilan akrabnya, merasa seperti sedang bercerita tentang keresahan yang dialaminya sehari-hari, tanpa ada perasaan bersalah atau tidak enakan kepada siapapun, ketika menyampaikan atau menuliskan bait demi bait lantunan puisi di dalamnya.
Ia pun baru saja meluncurkan buku antologi puisi tunggal pertamanya, yang berjudul “Kabel Kusut Kota”. Dalam antologi puisi ini, Nando bercerita mengenai seluk beluk kehidupannya selama berada di kampus, yang penuh dengan lika-liku khas anak muda.
Terlebih di saat yang bersamaan, jika Nando hendak menceritakan sesuatu terkait keresahan yang dialaminya, teman-temannya justru sering merasa cuek alias acuh, seolah tidak mau mempedulikan (apalagi) membantu kesulitan yang dialami oleh Nando, dan sebagainya.
“Yang jelas antologi puisi (Kabel Kusut Kota) ini kan gambaran diriku sendiri. Jadi jelas bahwa semua puisi yang ada di antologi ini tuh berdasarkan kisah nyata. Karena sebenarnya aku berpuisi ini adalah sebagai tempat curhatku. Karena aku tuh kadang kalau curhat sama temen-temen itu responnya kayak cuek-cuek gimana gitu,” ucap Nando, dalam sesi diskusi buku antologi puisi berjudul “Kabel Kusut Kota”, dalam rangkaian Selasa Sastra bertajuk “Sajak Rindu pada Desa”, yang berlangsung di Kelingan Garden & Cafe, beberapa waktu lalu.
Dari Story WA Menjadi Antologi Puisi
Dalam keterangannya, Nando menuturkan bahwa antologi puisi ini juga berasal dari berbagai story WA (WhatsApp) yang dituliskannya setiap hari.
Setiap bait demi bait tulisan di dalam story-nya, kemudian dikumpulkan menjadi satu kesatuan, dan terbentuklah sebuah karya antologi puisi pertamanya, yang bisa dinikmati oleh banyak orang.
“Ini (perjalanan menulis puisi) sih awalnya dari story WA. Kumpulan story-story WA aku, cuman aku kumpulin jadi puisi gitu. Terus digabung-gabungin, aku layout ulang, aku tulis ulang, jadilah bentuknya puisi, gitu. Karena aku emang orangnya suka cerita. Cuman ya itu tadi nggak ada tempat curhat aja, gitu,” lanjut Nando.
Melalui karya puisi yang dihasilkannya, Nando merasa ada kepuasan tersendiri di dalam dirinya. Seolah semua masalah yang dialaminya telah terselesaikan begitu saja.
Padahal ia hanya menuliskannya lewat story WA, untuk kemudian dikumpulkan dan dijadikan antologi puisi, dan seterusnya. (*)
