Mabur.co – Operasi penyelamatan darurat kembali digelar di tengah pekatnya kabut asap yang menyelimuti Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada 21 Agustus 2026 lalu.
Tim gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat (Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang), Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), dan Balai Taman Nasional Gunung Palung, meluncur ke lokasi setelah mendapat laporan tiga individu orangutan terperangkap di pinggiran kebun warga.
Hancurkan Ruang Hidup
Tiga individu orangutan bernama Mamak Yuni, Pura, dan Yuni, terpaksa meninggalkan rumah di dalam hutan setelah kobaran api dan gelombang panas ekstrem menghancurkan ruang hidupnya.
Kepala BKSDA Resort Sampit, Muriansyah, menuturkan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) belum dapat memastikan adanya hubungan langsung antara karhutla dengan kemunculan satwa tersebut.
“Lokasi kemunculan orang utan berbeda dengan titik kebakaran,” ujarnya dilansir dari BKSDA Resort Sampit, Senin (24/8/2026).
Muriansyah menyebut karhutla sebelumnya terjadi di Jalur 7, sementara orangutan ditemukan di Jalur 2.
“Di Jalur 2 Desa Bapanggang. Kebakaran saat itu terjadi di Jalur 7,” katanya.
Muriansyah mengatakan, orang utan tidak terlihat berada di lokasi yang sedang terbakar.
Karena itu, BKSDA masih membutuhkan pemantauan lebih lanjut sebelum menarik kesimpulan mengenai penyebab kemunculan satwa tersebut.
“Kemunculan orang utan sempat direkam warga. Di sekitar lokasi terlihat sejumlah anakan sawit berserakan. Umbut sawit yang diduga dimakan satwa tersebut juga ditemukan dalam kondisi telah dikonsumsi,” katanya.
Muriansyah menjelaskan, BKSDA Resort Sampit juga menerima laporan aktivitas satwa liar di Desa Bagendang Permai, Kecamatan Mentaya Hilir Utara. Hewan liar itu yakni beruang madu.
Satwa tersebut diduga kuat merupakan beruang madu. Keberadaannya dilaporkan merusak tanaman anakan sawit dan memakan bagian umbut sawit milik warga.
”Beruang madu dilaporkan merusak tanaman anakan sawit dan memakan bagian umbut sawit milik warga. Meski demikian, BKSDA masih melakukan identifikasi untuk memastikan jenis satwa yang beraktivitas di kawasan perkebunan tersebut,” katanya.
