Mabur.co – Pada 26 Agustus 2026 ini masyarakat dunia memperingati 116 tahun kelahiran sosok Bunda Teresa.
Ia merupakan tokoh kemanusiaan yang mendedikasikan diri untuk membantu masyarakat miskin, sakit, terlantar, dan kelompok marginal.
Meski lebih dikenal di kalangan umat Nasrani, namun kontribusinya terhadap kemanusiaan tidak mengenal sekat agama bahkan negara.
Bagaimanakah sebenarnya peran dan kontribusi Bunda Teresa hingga dikenal dan dihormati masyarakat dunia?
Dilansir dari vajiramandravi.com, Kamis (27/8/2026), Bunda Teresa lahir dengan nama Agnes Gonxha Bojaxhiu di Skopje (kini Makedonia Utara) pada 26 Agustus 1910.
Bergabung dengan Sisters of Loreto
Ia mulai menunjukkan ketertarikan pada kehidupan keagamaan sejak usia muda. Pada usia 18 tahun, ia meninggalkan keluarganya dan bergabung dengan Sisters of Loreto, komunitas religius asal Irlandia yang memiliki misi di India.
Setelah menjalani pelatihan di Dublin, ia berangkat ke India pada 1929. Di negara yang didominasi umat Hindu ini ia awalnya bekerja sebagai guru dan kemudian menjadi kepala sekolah di St. Mary’s High School di Kalkuta.
Namun, kehidupan masyarakat miskin di sekitar Kalkuta membuatnya melihat persoalan yang lebih besar di luar lingkungan sekolah.
Pada 1948, Bunda Teresa mendapat izin untuk meninggalkan sekolah biara dan mulai melayani masyarakat miskin secara langsung.
Dari situ ia kemudian membuka sekolah bagi anak-anak yang tinggal di kawasan kumuh. Dari kegiatan sederhana pelayanan lalu berkembang menjadi berbagai bentuk kegiatan sosial.
Pada 1950 ia mendirikan Misionaris Cinta Kasih. Organisasi tersebut kemudian berkembang ke berbagai negara dengan fokus membantu orang miskin, orang sakit, anak-anak terlantar, penderita kusta, hingga mereka yang membutuhkan perawatan di akhir kehidupan.
Salah satu pelayanan yang dikenal luas adalah rumah perawatan yang didirikannya pada 1952 di Kalkuta. Tempat tersebut ditujukan bagi orang-orang yang sakit parah agar tetap memperoleh perawatan dan perhatian.
Kegiatan Misionaris Cinta Kasih juga berkembang hingga mencakup bantuan bagi korban bencana, wabah penyakit, hingga masyarakat yang terdampak konflik dan pengungsian.
Mendapat Nobel Perdamaian
Dedikasi Bunda Teresa terhadap kemanusiaan itu pun akhirnya mendapat pengakuan internasional. Pada 1979, ia menerima Hadiah Nobel Perdamaian atas kiprahnya membantu masyarakat yang mengalami penderitaan.
Selain Nobel, sejumlah penghargaan lain juga diterimanya, antara lain Ramon Magsaysay Award pada 1962, Jawaharlal Nehru Award pada 1972, dan Bharat Ratna, penghargaan sipil tertinggi India, pada 1980.
Penghargaan tersebut memperkuat posisi Bunda Teresa sebagai salah satu tokoh kemanusiaan yang dikenal luas pada abad ke-20.
Bunda Teresa meninggal di Kalkuta pada 5 September 1997 dalam usia 87 tahun. Dua dekade setelah wafat, Gereja Katolik akhirnya menetapkannya sebagai santa. Proses kanonisasi dilakukan oleh Paus Fransiskus pada 4 September 2016.
Hingga kini, namanya tetap dikaitkan dengan pelayanan kepada kelompok masyarakat yang berada dalam kondisi sulit.
Peringatan 116 tahun kelahirannya pada 2026 menjadi kesempatan untuk kembali melihat warisan Bunda Teresa, terutama mengenai kepedulian terhadap masyarakat miskin, pelayanan sosial, serta penghormatan terhadap martabat manusia.
