Desa Tradisional di Jepang Ini Punya Sistem Canggih Cegah Kebakaran, Seperti Apa?

3 Min Read
Aerial view of a rural village with steep thatched-roof houses as large water sprinklers arc over the scene, spraying fountains across the landscape.
Salah satu desa kuno di Jepang yang menerapkan sistem pemadam otomatis untuk mencegah kebakaran. (Foto: thisiscolossal.com)

Mabur.co – Kebakaran yang melanda Desa Adat Sade, Lombok Tengah, NTB, menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah Indonesia untuk meningkatkan mitigasi bencana di kawasan permukiman tradisional.

Dibangun dengan memanfaatkan material berbahan alam seperi kayu, bambu serta atap daun-daunan, membuat kampung adat tradisional memiliki risiko kebakaran yang sangat tinggi.

Untuk mencegah kebakaran di Desa Adat Sade kembali terulang, pemerintah bisa meniru Jepang. Dimana pemerintah negeri Sakura itu telah memanfaatkan sistem perlindungan kebakaran khusus berbasis teknologi di sejumlah permukiman kuno mereka.

Kampung Tradisional di Jepang

Dikutip dari berbagai sumber, Rabu (26/8/2026), salah satu kawasan permukiman kuno atau kampung tradisional di Jepang yang telah menerapkan sistem tersebut adalah Kayabuki no Sato di Miyama, Prefektur Kyoto. 

Kawasan ini memiliki puluhan rumah tradisional beratap jerami yang mudah terbakar. Karena nilai sejarahnya, desa tersebut bahkan telah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya penting oleh pemerintah Jepang.

Untuk melindungi bangunan-bangunan kuno di desa tersebut, kawasan ini dilengkapi 62 jaringan selang air otomatis yang ditempatkan di berbagai titik kawasan.

Yang menarik, perangkat pemadam tersebut tidak dibiarkan mengganggu pemandangan desa. Sistem pipa dan alat penyemprot disembunyikan di dalam bangunan kecil yang desainnya menyerupai arsitektur tradisional setempat.

Ketika sistem diaktifkan, bagian tengah bangunan pelindung akan terbuka secara otomatis. Alat penyemprot kemudian menyemburkan air bertekanan tinggi ke udara dan membasahi atap rumah-rumah di sekitarnya.

Festival Selang Air

Sistem tersebut juga rutin diuji. Warga dan pemerintah setempat menggelar Water Discharge Drill atau Festival Selang Air dua kali dalam setahun untuk memastikan seluruh peralatan siap digunakan ketika terjadi kebakaran.

Konsep serupa juga diterapkan di Ogimachi, kawasan desa tradisional yang menjadi bagian dari Situs Warisan Dunia Shirakawa-go.

Rumah-rumah bergaya gassho di kawasan tersebut menggunakan kayu dan atap jerami sehingga sangat mudah terbakar. Karena jarak antarbangunan relatif berdekatan, api berpotensi dengan cepat menyebar ke rumah lainnya.

Untuk mengantisipasinya, warga tidak hanya mengandalkan peralatan pemadam. Mereka juga melakukan patroli dan saling mengingatkan mengenai potensi sumber api.

50 Penyemprot Air

Sekitar 50 alat penyemprot air ditempatkan di berbagai titik di antara rumah-rumah tradisional. Saat diaktifkan, semprotan air dapat membentuk semacam penghalang untuk membantu mencegah api menyebar dari satu bangunan ke bangunan lainnya.

Penerapan sistem perlindungan kebakaran khusus berbasis teknologi di sejumlah permukiman kuno di Jepang ini bisa diterapkan di Indonesia.

Terlebih Indonesia memiliki banyak kampung adat dengan bangunan tradisional yang harus dilindungi kelestariannya.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar