Mabur.co – Tak banyak pemuda dari Indonesia bagian timur yang aktif berperan sejak masa pergerakan nasional hingga kemerdekaan. Namun bukan berarti minim jasa.
Pemuda dari Indonesia timur dalam pergerakan seringkali menjadi simbol atau representasi bahwa tidak hanya Jawa atau Sumatra yang ingin merdeka. Mereka menjadi spesial, tapi kerap terlupakan.
Salah satunya Abdoel Moethalib (AM) Sangadji asal Maluku. Mengisi posisi penting dalam Sarekat Islam yang termasyhur, hingga terlibat dalam BPUPKI selaku peletak dasar Republik Indonesia.
AM Sangadji lahir di Desa Rohomoni, Pulau Haruku, Maluku Tengah, Provinsi Maluku pada 3 Juni 1889. Keturunan ningrat dari Abdul Wahab dan Sitti Pattisahusiwa.
Ayahnya seorang raja negeri Rohomoni. Sementara ibunya seorang putri dari keturunan raja Siri Sori Islam. Hidup di keluarga berkecukupan membuat Sangaji bisa memperoleh pendidikan Belanda.
Kiprah A.M. Sangadji dalam sejarah pergerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia, tidak banyak diulas dalam buku-buku sejarah.
Padahal sosok ini dikenal juga sebagai salah satu dari tiga serangkai Syarekat Islam, bersama HOS Tjokroaminoto dan Haji Agus Salim. Dia juga salah satu peserta Sumpah Pemuda 1928 di Jakarta.
Studi literatur sejarah menarasikan faktor historis terhadap kecenderungan perjuangan A.M Sangadji yang coba ditranslasikan dan diekspresikan dalam kurun waktu dan realitas keberadaan sejarah itu sendiri.
Dilansir mabur.co dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Samarinda, Jumat (28/8/2026), di tanah Maluku, tanah para pejuang dan pelaut, ada satu nama yang tak pernah padam dalam ingatan rakyatnya: Abdoel Moethalib Sangadji, atau A.M. Sangadji.
Nama ini bukan sekadar catatan dalam buku sejarah, melainkan denyut perjuangan yang hidup di hati masyarakat Maluku hingga hari ini.
A.M. Sangadji bukan tokoh daerah. Ia adalah tokoh pergerakan nasional, sejajar dengan H.O.S. Cokroaminoto dan Haji Agus Salim, yang bersuara lantang menentang kolonialisme dan menyalakan semangat kebangsaan di masa penjajahan.
Mengabdikan Hidup untuk Kaum Kecil
Ia seorang dokter rakyat yang mengabdikan hidupnya untuk kaum kecil, menjahit luka-luka bangsa yang terluka oleh ketidakadilan. Tapi ironisnya, nama besar itu belum juga disematkan dalam daftar Pahlawan Nasional Republik Indonesia.
A.M Sangadji memulai mengenyam pendidikan dasar pada Sekolah Belanda HIS dan dilanjutkan dengan pendidikan menengah MULO.
A.M. Sangadji tidak sempat melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi kemudian memilih terjun dalam dunia politik. Bersama H.O.S Cokroaminoto dan beberapa pejuang sezamannya seperti H. Agus Salim turut andil dalam mendirikan organisasi Sarekat Islam yang sebelumnya dikenal Serikat Dagang Islam pada 1912.
Gagasan Besar dalam Kongres Pemuda
A.M. Sangadji juga turut aktif dalam merumuskan gagasan besar buat bangsa ini sebagai peserta dalam Kongres Pemuda ll 28 Oktober 1928 di Jakarta. Memiliki kepiawaian dalam berpidato perihal menyampaikan gagasan A.M. Sangadji memiliki mobilitas tidak hanya di Maluku tempat asalnya, tapi juga pernah berkiprah di Borneo, terlebih lagi di Jawa. Pada tahun 1920-an, di Samarinda Kalimantan timur,
Setelah mendengar berita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, A.M. Sangadji melakukan perjalanan dari Samarinda ke Banjarmasin untuk bertemu dengan pemimpin BPRI, menyebarkan berita kemerdekaan bangsa Indonesia di daerah yang dilalui.
Dalam ingatan kolektif bangsa tentu seorang A.M Sangadji mempunyai refleksi sejarah perjuangan yang begitu luar biasa dalam merumuskan ikhtiar berbangsa dan bernegara sebagai identitas keindonesiaan yang bertajuk pahlawan nasional.
Apa yang telah diperjuangkan A.M Sangadji untuk membela dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dapat menggugah semangat juang semua elemen bangsa Indonesia.
Terutama generasi muda untuk bersatu padu menyatukan langkah membangun negeri sebagaimana yang dicita-citakan A.M Sangadji dan para pendahulu negeri hingga mampu berdikari dan berdiri sejajar dengan negara-negara lain di dunia. Serta melanjutkan ikhtiar perjuangan bangsa Indonesia.
Tak heran jika dia termasuk orang yang diperhatikan oleh pemerintah Belanda. Terlebih, dia pun tercatat sebagai anggota Sarekat Islam yang manuvernya telah membuat khawatir pihak kolonialis.
Sangadji pun terlibat dalam Kongres Pemuda II di Jakarta pada 1928. Kongres itu sempat mencetuskan Sumpah Pemuda. Reputasinya kian dihormati. Terlebih, Sangadji terbilang pandai berpidato. Retorikanya bagus.
Pada 1932, Sangadji pulang ke kampung halaman. Dia turut membawa pandangan yang diperoleh dari Jawa, yakni optimisme tentang masa depan Indonesia. Demi mencapainya, dia inisiatif bergerak di bidang pendidikan.
Bersama kakaknya, Abdullah Sangadji, dia mendirikan pendidikan sekolah madrasah di kampung halaman. Dukungan dari masyarakat setempat mengalir deras. Sangadji selalu diintai oleh pemerintah Belanda.
Kala itu, Sangadji sudah termasuk pejabat teras Sarekat Islam, yakni pimpinan Lajnah Tanfidziyah menggantikan Hos Tjokroaminoto yang legendaris. ***
