Misteri A.M. Sangadji, Pejuang Kemerdekaan dari Maluku yang Dimakamkan di Sleman

2 Min Read
Red granite gravestone in a cemetery, with a sunken rectangular burial trough filled with fallen leaves, and the name 'A. Mangahaji' visible on the headstone.
Abdoel Moethalib Sangadji (A.M. Sangadji) dilahirkan di Rohomoni, Pulau Haruku, Maluku, dimakamkan di Blunyah Gede, Sinduadi, Mlati, Sleman. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Yogyakarta merupakan sebuah daerah istimewa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yang masih mempertahankan tata pemerintahan berbentuk kesultanan untuk pemerintahan daerah. Pada zaman sebelum kemerdekaan, Yogya merupakan daerah dengan pemerintahan sendiri yang bergelar Kesultanan Ngayogyakarta dan Kadipaten Pakualaman.

Setelah Republik Indonesia merdeka, kedua pemerintahan daerah tersebut langsung bergabung dalam wilayah kesatuan RI dengan undang–undang istimewa yang mengatur tata pemerintahan daerah.

Keluarga besar Abdoel Moethalib (A.M.) Sangadji ternyata memiliki hubungan emosional dengan Kota Yogya selain Kalimantan dan beberapa kota besar lain di Indonesia yang merekam kegiatan perjuangan, pergerakan seorang anak bangsa dari timur Indonesia, Maluku.

Dilansir mabur.co dari dokumen Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) 1947, Jumat (28/8/2026), Abdoel Moethalib Sangadji bersama tokoh-tokoh pemuda asal Kalimantan dibebaskan bersyarat oleh Belanda.

Menuju Yogyakarta

Langsung bergerak cepat menuju tanah Jawa yakni Yogyakarta. Menggunakan jawatan kereta api dari Stasiun Pasar Senen.

Dalam perjalanan itu, A.M. Sangadji bersama pejuang-pejuang muda sebut saja Haji Oemar Dachlan, Ir. Tajuddin Noer, Dr. Abu Hanifah, Soewirjo, dan Dr. Diapar, pergerakannya selalu diintai spionase polisi Belanda.

A.M. Sangadji pun mengambli langkah seribu. Atas kesepakatan bersama mereka turun dari kereta dan mulai berjalan kaki dari Purwokerto menuju Banjarnegara, Wonosobo, Temanggung, Magelang, kemudian masuk Yogyakarta.

Setelah tiba di Yogyakarta, A.M. Sangadji beserta rombongan pejuang lainnya diterima oleh pemerintah RI di Yogyakarta, dan menginap di Hotel Merdeka, Kamar No. 16, Jalan Malioboro.

Salah satu bekas murid A.M. Sangadji yang berasal dari Gorontalo, Mahmud Latjuba, banyak berjasa membantu perjuangan A.M. Sangadji di Yogya.

Menikahi Janda, Dimakamkan Bersebelahan dengan Mantan Suami

Dari perkenalan dengan Mahmud Latjuba, A.M. Sangadji pun menikahi seorang janda petinggi polisi (R. Sapardi Wignyopranoto).

Dua sosok suami wanita Yogya ini pun kemudian dimakamkan bersebelahan di Jalan Blunyah Gede, Sinduadi, Mlati, Sleman, atas arahan seorang nenek eyang Jawa.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar