Mabur.co – Tepung memang sering dianggap sebagai bahan sederhana. Bisa digunakan untuk memadamkan api karena bentuknya berupa bubuk.
Namun, menggunakan tepung untuk memadamkan api justru dapat menimbulkan bahaya, terutama jika tepung tersebar di udara dalam jumlah banyak.
Partikel tepung yang sangat halus dapat terbakar ketika bercampur dengan oksigen dan terkena sumber api. Karena itu, tepung bukanlah bahan yang aman untuk digunakan sebagai alat pemadam kebakaran.
Pada kondisi tertentu, tepung yang ditaburkan ke api mungkin terlihat seperti membuat api mengecil sesaat. Akan tetapi, tepung justru dapat menghasilkan debu yang mudah terbakar dan berpotensi menyebabkan nyala api membesar.
Risiko tersebut semakin tinggi apabila tepung berada di ruang tertutup atau dalam konsentrasi tinggi di udara. Fenomena ini berkaitan dengan sifat beberapa jenis debu organik yang dapat mengalami pembakaran cepat ketika terdispersi di udara.
Informasi Harus Benar
Penyuluh Pertanian Swadaya (PPS) Kota Yogyakarta, Eka Yulianta, menuturkan, untuk memadamkan api harus ada informasi mendasar dan benar. Selama ini yang digunakan bentuknya berupa serbuk kimia kering, semacam dry chemical atau yang biasa disebut APAR (Alat Pemadam Api Ringan). Alat pemadam kebakaran portabel yang digunakan untuk memadamkan atau mengendalikan api pada tahap awal.
“Serbuk dalam APAR komposisinya menggunakan serbuk silika dan natrium bikarbonat yang bersifat inheren. Berfungsi menyelimuti bahan yang terbakar untuk memisahkan oksigen dari api. Artinya kalau tidak ada oksigen apinya terus mati,” ucapnya, Jumat (28/8/2026)
Menurut Eka, tepung tersebut terbuat dari tepung pati singkong. Istilahnya ubi bombing. Tapi hal itu tidak hanya satu-satunya, ada rangkaiannya. Kajiannya sudah tingkat 4. Artinya sudah dicoba dalam skala kecil.
Tetapi sekarang mau dipakai di Karhutla yang ada Sumatra, Kalimantan, dan sebagainya. Pati singkong yang dikombinasi dengan senyawa fosfat, efektif meningkatkan kemampuan air dalam memadamkan vegetasi. Tepung pati ini bukan yang dijual di pasar. Kalau yang dijual di pasar tepung pati yang kalau disebar di api akan menimbulkan ledakan.
“Pati singkong yang diambil komponen kimianya yakni Holmium (HO) dan dikombinasi asam fosfat yang merupakan senyawa kimia anorganik atau asam mineral. Berwujud cairan kental tidak berwarna atau padat dalam bentuk murni, serta bersifat korosif. Dalam penanganan kebakaran, Holmium (HO) plus OPO3H2 plus H2O. Jadi pati singkong dicampur fosfat dicampur dengan air.
Itu yang disemprotkan di api yang berfungsi menghambat perpindahan panas, menghalangi akses bahan yang terbakar dan memisahkan oksigen dari api. Fungsinya sama seperti APAR yang dari dry chemical powder. Selama ini ada di pasaran. Ini akan dicoba mungkin dalam minggu-minggu ini. Akan dicoba dengan helikopter water bombing,” ucapnya.
Ramah Lingkungan
Menurut Eka pula, ubi bombing penggunaannya lebih friendly dengan lingkungan manusia. Kecepatan pemadaman juga lebih cepat. Penyebarannya lebih cepat daripada APAR yang ada sekarang. Bisa ditembakkan dari jarak agak jauh daripada APAR yang harus mendekat.
“Menggunakan ubi bombing, kita tidak harus mendekati lokasi kebakaran disemprot dari atas selesai. Ubi bombing itu tidak berbahaya ketika kita hirup karena lebih friendly lagi, lebih ramah lingkungan untuk kesehatan manusia juga lebih bagus,” katanya.
Harus Dilihat Ilmiah
Sementara itu, salah satu petani milenial Sleman, Isnaini Baroroh, S. Kom mengatakan, mengenai api dapat dipadamkan dengan tepung ubi, yang terlintas adalah antara pernyataan, inovasi, dan realitas di lapangan.
“Saya sebagai bagian dari generasi petani milenial memandang pernyataan bahwa api dapat dipadamkan dengan tepung ubi perlu dilihat secara lebih utuh dan ilmiah. Bagi petani seperti kami, ubi bukan sekadar bahan pangan. Ubi adalah komoditas pertanian yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk bernilai tambah.
Ketika muncul gagasan pemanfaatan tepung ubi untuk kebutuhan tertentu, jangan buru-buru ditertawakan, tapi juga jangan berhenti pada pernyataan tersebut. Pertanyaan terpentingnya adalah, sudahkah diuji secara ilmiah? Seberapa efektif? Dalam kondisi kebakaran seperti apa dan bagaimana penerapannya di lapangan? Petani masa kini sudah terbiasa dengan satu prinsip yakni ide harus dibuktikan dengan data,” katanya.
Menurut Isnaini, kalau memang benar tepung ubi memiliki potensi sebagai material pemadam api dalam kondisi tertentu, maka ini justru bisa menjadi peluang inovasi yang menarik dari hasil pertanian menjadi produk teknologi. Tapi jika belum memiliki dasar pengujian yang kuat, jangan sampai masyarakat menerima informasi seolah-olah semua jenis kebakaran bisa dipadamkan dengan tepung ubi.
“Kami tidak membutuhkan perdebatan antara ‘percaya’ dan ‘tidak percaya’. Kami membutuhkan riset, uji laboratorium, demonstrasi lapangan, dan data yang dapat dipertanggungjawabkan. Inilah cara generasi petani milenial melihat sebuah gagasan yakni sinergi.
Petani menghasilkan bahan baku, peneliti menguji dan membuktikan, industri mengembangkan, generasi muda menginovasi dan mengomersialisasikan. Jadi, jika tepung ubi memang bisa menjadi bagian dari solusi pemadaman api, mari buktikan dan kembangkan bersama. Karena bagi kami, hasil pertanian tidak harus berhenti menjadi bahan pangan dari lahan pertanian. Bisa lahir inovasi dari hasil tani. Bisa lahir teknologi dan dari petani masa kini bisa lahir solusi untuk negeri,” ucapnya.
