Busana Nuansa Gagrak Yogyakarta Hiasi Peringatan Pengesahan UU Keistimewaan DIY di SMKN 3 Kota Yogyakarta

3 Min Read
A large group of people standing in rows outdoors in traditional batik outfits with colored sashes and feathered headpieces, likely part of a ceremony or parade in a town square.
Hari peringatan pengesahan Undang-undang Keistimewaan Yogyakarta di SMKN 3 Kota Yogyakarta, berlangsung khidmat. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Hari Peringatan Pengesahan Undang-undang Keistimewaan Yogyakarta di SMKN 3 Kota Yogyakarta, berlangsung khidmat di lapangan sekolah.  

Bapak dan ibu guru, pegawai, serta seluruh siswa bersama-sama mengenakan busana adat sehingga suasana  tampak semakin semarak, anggun, dan kental dengan nuansa budaya Yogyakarta.

Kebersamaan dalam mengenakan pakaian adat menjadi salah satu bentuk penghargaan terhadap kekayaan budaya dan keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Busana Adat Tradisional

Penanggung jawab acara, Aji Panular Sejati, S.P.d, mengatakan, pakaian gagrak Yogyakarta adalah busana adat tradisional khas Yogyakarta (gagrak berarti gaya atau corak) yang memiliki pakem dan filosofi tersendiri.

“Pengenaan busana adat Jawa gagrak Ngayogyakarta tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga menjadi sarana menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap budaya daerah, khususnya bagi generasi muda,” ucapnya, Senin (31/8/2026).

Close-up selfie of a person wearing a dark headwrap and glasses outdoors, with a group and buildings in the background.
Penanggung jawab acara peringatan UU Keistimewaan DIY di SMKN 3 Yogyakarta, Aji Panular Sejati, S.P.d. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Aji mengatakan, busana yang dikenakan tetap memperhatikan kenyamanan dan kesesuaian untuk beraktivitas di lingkungan madrasah, sehingga tidak mengganggu kegiatan pembelajaran maupun tugas kedinasan.

“Melalui kegiatan tersebut, siswa diharapkan semakin mengenal nilai-nilai budaya Jawa, seperti kesopanan, kerapian, tata krama, dan penghargaan terhadap warisan budaya daerah,” katanya.

Menurut Aji, SMK Negeri 3 Yogyakarta memang mencoba untuk mengenalkan tradisi Yogyakarta melalui program keistimewaan Yogyakarta.

Upacara Bendera dengan Bahasa Jawa

Mulai dari pakaian, kemudian tata cara upacara bendera dengan bahasa Jawa. Itu juga kita perkenalkan kepada para murid.

Supaya mengenal pakaian adat gagrak Ngayogyakarta dan bahasa Jawa yang bertujuan Nguri-uri Budaya Yogyakarta. Khususnya pada 31 Agustus ini yakni saat yang tepat untuk memperingati Hari Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Saya berharap status keistimewaan untuk masyarakat Yogyakarta semakin membuat sejahtera juga. Tidak hanya sejahtera, tetapi juga bisa nguri-uri, mempertahankan adat, tradisi, dan budaya yang ada di Yogyakarta dengan kearifan lokal yang ada,” katanya.

Untuk upacara Hari Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri, saat menggunakan pakaian gagrak Yogyakarta, baru pertama kali diadakan di sekolah.

“Semoga setiap tahun bisa diadakan upacara seperti ini,” harapnya.

Young man in ceremonial attire with a blue striped outfit and a purple feather headdress at a sunny outdoor festival.
Salah satu siswa, Wahyu Putra Anugerah (Foto: Setiaky A Kusuma)

Salah satu siswa, Wahyu Putra Anugerah, menuturkan, pengalaman menjadi komandan upacara di Hari Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pengalaman baru buat dirinya, apalagi ia juga baru pertama kali jadi komandan menggunakan pakaian gagrak Ngayogyakarta.

“Keistimewaan Yogyakarta bisa diterapkan di sekolah atau di kehidupan sehari-hari. Yakni bisa dari sikap sopan santun, tutur kata bahasa, dan tingkah laku. Saat di luar sekolah juga bisa kita terapkan kebiasaan menghormati yang lebih tua. Kalau mau minta tolong atau habis dimintai tolong, bisa bilang terima kasih dengan bahasa Jawa yang baik dan benar,” katanya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar