Mabur.co – Bagi Anda yang berdomisili di wilayah perkotaan, khususnya di DKI Jakarta, kata “lo” (kamu) dan “gue” (saya) pasti sudah tidak asing lagi diucapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua kata ini biasanya diucapkan dalam situasi santai atau informal, yang melibatkan teman-teman sebaya, anak-anak sekolah/kuliah, hingga sesama orang dewasa.
Bahkan banyak juga yang beranggapan bahwa jika belum terbiasa mengucapkan “lo” dan “gue” dalam keseharian, maka orang itu akan dianggap kudet (kurang update), tidak gaul, serta tidak bisa bergabung dalam kelompok pergaulan tertentu, dan sebagainya.
Hal itu masih belum ditambah dengan istilah-istilah dalam bahasa Inggris, yang ikut disisipkan dalam percakapan sehari-hari. Kata-kata seperti literally, which is, basically, honestly (atau sekarang jadi jujurly), dan lain sebagainya, menjadi sajian komunikasi tambahan bagi anak-anak muda Jakarta di zaman sekarang. Penyisipan kalimat itu kerap diasosiasikan dengan sebutan “Bahasa Jaksel” (Jakarta Selatan).
Banyak yang mengira bahwa kedua kata gaul itu berasal dari bahasa Betawi, yang menjadi bahasa daerah di ibu kota Jakarta. Padahal kenyataannya justru sangatlah berbeda.
Berasal dari Negeri Cina
Melansir dari laman Kumparan, Rabu (2/9/2026), Kata “lo” dan “gue” sebenarnya merupakan serapan dari bahasa Hokkien, atau dialek Tionghoa Fujian, yang masuk ke Indonesia melalui interaksi budaya di Batavia (Jakarta).
Secara harfiah, kata “gue” berasal dari kata “gua” dalam bahasa Hokkien, yang berarti “saya” atau “aku”. Sementara “lo” berasal dari kata “lu” dalam bahasa Hokkien, yang berarti “kamu” atau “engkau”.
Di masa kolonialisme Belanda pada abad ke-16, para pedagang dari Cina memutuskan datang ke Indonesia, tepatnya ke Batavia (Jakarta), guna melakukan ekspansi terhadap bisnis mereka.
Pada saat itu, belum ada yang namanya bahasa Indonesia, sehingga para pedagang ini bebas berbincang-bincang dengan dialek khas Hokkien tadi, salah satunya mengucapkan lu (kamu) dan gua (saya).
Seketika dua kata itu berkembang pesat di lingkungan Batavia. Sehingga banyak masyarakat setempat yang mulai “latah”, dengan ikut-ikutan mengucapkan kata “lu” (berkembang menjadi “lo”) untuk kamu, dan “gua” (berkembang menjadi “gue”) untuk saya.
Hal itu masih belum ditambah dengan istilah perdagangan lain, yang sampai sekarang juga masih cukup menjadi tren di kalangan warga Jakarta.
Salah satunya adalah penyebutan jumlah uang dalam dialek Hokkien. Sebut saja gopek (500 perak), ceban (10,000), gocap (50), cepek (100), goceng (5.000), goban (50.000), dan sebagainya. Semuanya juga berasal dari dialek bahasa Hokkien dari provinsi Fujian, Cina.
Seiring dengan perkembangannya yang mudah diterima dan diucapkan oleh orang Indonesia, kata-kata seperti “lo”, “gue”, dan beberapa istilah jumlah uang di atas, akhirnya turut ditetapkan sebagai kata serapan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pada awal milenium kedua.
Meskipun berasal dari bahasa dialek Hokkien, namun masyarakat Jakarta tetap menjadikan kedua kata itu seolah-olah sebagai bahasa Betawi. Mengingat kata-kata itu lebih sering diucapkan oleh orang-orang Jakarta, dalam kehidupan sehari-hari.
Selain bahasa Betawi, banyak juga yang menjadikan dua kata itu sebagai bagian dari bahasa gaul, atau bahasa modern anak muda Jakarta (termasuk bahasa Jaksel), yang penuh dengan kompleksitas dan hiruk-pikuk ala perkotaan.
Meskipun dua kata itu terdengar sedikit “kasar” ketika diucapkan, namun ketika sudah terbiasa, maka tidak ada kesan buruk yang akan tercipta, ketika mengucapkan dua kata ini kepada teman-teman sepantaran, atau dalam situasi informal yang terjadi dalam keseharian masyarakat.
Namun tentu saja, penggunaan dua kata ini (termasuk bahasa Jaksel maupun istilah uang di atas) tidak serta merta bisa diucapkan dalam berbagai situasi, dan kepada semua orang tanpa terkecuali.
Karena kata-kata semacam ini memang lebih cocok jika diucapkan kepada teman-teman sendiri (yang sudah kenal) di lingkungan yang nyaman, bebas, dan tidak terlalu menuntut norma kesopanan secara ketat dan mengikat. (*)
