Mabur.co – Peristiwa demo yang dilakukan Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, beberapa hari lalu, masih menjadi perhatian besar di kalangan publik, termasuk hingga saat ini.
Blokir Rekening
Salah satu yang turut menjadi perhatian adalah pemblokiran rekening Bank Mandiri milik Koordinator AMPB, Supriyono alias Botok, jelang aksinya di Jakarta beberapa waktu lalu.
Diketahui bahwa saldo sebesar Rp 80,9 juta itu tidak dapat dicairkan oleh Botok, akibat mendapat perintah dari aparat penegak hukum. Di mana mereka hendak menyelidiki sumber dana serta mendalami informasi lebih rinci mengenai anggaran donasi tersebut.
Hal itu turut memantik reaksi dari sejumlah pihak, salah satunya guru besar dan akademisi dari Universitas Indonesia (UI), Rhenald Kasali.
Menurutnya, aksi pemblokiran Bank Mandiri terhadap rekening milik Botok bisa berdampak panjang, serta berpotensi menimbulkan citra yang buruk bagi pihak bank itu sendiri.
Karena secara tidak langsung, Bank Mandiri dapat dipolitisasi oleh pihak-pihak tertentu, dalam hal ini adalah jajaran kepolisian (Polda Metro Jaya).
Dampak Kepercayaan bagi Bank Mandiri
Apalagi setelah itu, Bank Mandiri juga mulai menerima sejumlah dampak yang cukup signifikan, seperti wacana boikot rekening Bank Mandiri, upaya memindahkan saldo Bank Mandiri ke rekening bank lain, tekanan pada saham, hingga kewajiban untuk menyampaikan permintaan maaf secara resmi, yang akhirnya dilakukan pada 26 Agustus 2026 lalu.
“Saya ingin mengingatkan kepada teman-teman muda di Bank Mandiri. Kalian boleh jadi orang cerdas, tapi kalau kalian tidak bijaksana, tidak mampu membaca situasi dengan tepat, tidak memiliki second line of defense (mengendalikan manajemen risiko) dalam tata kelola yang kuat, maka kalian akan terombang-ambing.
Alih-alih hanya kehilangan satu rekening (milik Botok AMPB), atau memblokir satu rekening, maka kalian justru bisa kehilangan sesuatu yang jauh lebih besar dari itu, yaitu trust,” ungkap Rhenald Kasali, seperti dilansir dari kanal YouTube pribadinya, Selasa (1/9/2026).
Bukan yang Pertama Kali
Rhenald menambahkan, aksi pemblokiran rekening semacam ini sejatinya bukanlah yang pertama kali terjadi, termasuk di bagian belahan dunia lainnya.
Mulai dari Kanada, Nepal, Hong Kong, serta Amerika, semuanya pernah mengalami hal serupa, yakni memblokir atau membatasi aktivitas masyarakat tertentu, untuk meloloskan kepentingan pihak-pihak lainnya, dalam hal ini adalah penguasa atau pejabat. Di mana mereka berusaha menggunakan power yang dimiliki, untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya sendiri.
“Nah hari ini, rekening bank diblokir, ternyata efeknya jadi panjang. Kalau bank tidak mempunyai the second line of defense yang memadai, mereka tidak perlu lagi bertanya apakah peraturannya sudah tepat, apakah ketentuannya dan kewenangannya sudah sah, apakah sasarannya tepat, apakah tidak menimbulkan efek lain yang lebih berbahaya, dan lain-lain.
Jangan-jangan, kalau hal ini tidak dijalankan dengan baik, maka yang kehilangan itu bukan hanya satu rekening, tetapi trust. Ini peringatan besar bagi kita semua,” tambah Rhenald.
Bagi Rhenald, trust atau kepercayaan adalah fondasi penting bagi sebuah perusahaan terhadap seluruh konsumennya, agar keberlangsungan perusahaan itu tetap terjaga dengan baik, dan tidak menimbulkan gesekan yang tidak perlu dengan pihak-pihak mana pun, dan seterusnya. (*)
