Peluang Naskah Kuno sebagai Inspirasi Industri Kreatif

2 Min Read
Open two-page spread of an antique manuscript with dense cursive handwriting and yellowed, stained pages on a dark background.
Di balik lembaran-lembaran tua yang usang, tersimpan warisan leluhur yang kaya akan nilai sejarah dan budaya. (Ilustrasi Foto: Istimewa)

Mabur.co – Jauh sebelum informasi hadir dalam satu sentuhan layar, pengetahuan diwariskan melalui lembar demi lembar naskah. Di dalamnya tersimpan cara orang belajar, beragama, berhitung, berkarya, hingga memahami kehidupan pada zamannya. 

Filolog dari Sraddha Institute Surakarta, Rendra Agustan mengatakan, di balik lembaran-lembaran tua yang usang, tersimpan warisan leluhur yang kaya akan nilai sejarah dan budaya.

Pusaka Sakral

Sayangnya, banyak naskah kuno di Indonesia lebih diperlakukan sebagai pusaka sakral ketimbang sebagai pustaka yang bisa dipelajari dan dimanfaatkan secara luas.

“Kesadaran akan pentingnya pelestarian naskah kuno kini menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah dan masyarakat,” katanya, saat usai mengisi bincang literasi  Magisme Aksara Nusantara di Halaman Grhatama Pustaka, DPAD DIY, Kamis (3/9/2026) malam.

Man in a red shirt speaks into a microphone while seated at a panel, with a woman taking notes nearby and event banners in the background.
Filolog Sraddha Institute Surakarta, Rendra Agustan, dan Duta Museum DIY, Tri Pamungkas. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Menurut Rendra, naskah kuno bukan hanya babad atau cerita sejarah. Arsip pertanahan desa pun termasuk, selama berusia lebih dari 50 tahun, ditulis tangan, dan memiliki nilai penting.

“Saya menekankan bahwa dalam proses penelusuran, peneliti harus menghormati kearifan lokal. Beberapa masyarakat menganggap naskah kuno sebagai benda sakral, bahkan sebagai jimat,” katanya.

Naskah Kuno Inspirasi Industri Kreatif

Rendra pun menyoroti potensi besar dari pemanfaatan naskah kuno, yang tak hanya berfungsi sebagai dokumen sejarah, tetapi bisa menjadi inspirasi dalam industri kreatif, alat mitigasi bencana, hingga pengembangan wisata edukatif berbasis living philology.

“Saya mencontohkan kisah masyarakat Tengger yang sempat kehilangan rapalan mantra adat karena naskahnya berada di Inggris selama 250 tahun. Naskah itu akhirnya bisa kembali berkat penelusuran dan penerjemahan,” ujarnya.

Rendra menuturkan, merawat naskah seperti merawat manusia. Pencegahan lebih baik daripada perbaikan, karena naskah yang rusak sulit dipulihkan.

“Saat ini banyak naskah kuno belum teridentifikasi dan hanya tersimpan secara individu,” ucapnya.

TAGGED:
Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar