Mabur.co – Di kalangan para sastrawan, nama Marwanto identik pegiat sastra dari Bumi Menoreh yakni Kulon Progo, Yogyakarta.
Ya, karena salah satu aktivitas awal yang dia lakukan adalah mendirikan Komunitas Sastra Lumbung Aksara pada 2006 atau sekitar dua puluh tahun lalu.
Bersama para penulis di Kulon Progo, di antaranya Akhiriyati Sundari, Fajar R Ayuningtyas, Rio Nisafa, Imam Wahyudi dan yang lainnya, Komunitas Lumbung Aksara sempat sangat aktif berkegiatan di empat tahun pertama.
Ketika Komunitas Lumbung Aksara mengalami penurunan intensitas berkegiatan, Marwanto tetap bersastra.
Selain produktif mengirim tulisan di media cetak, mulai tahun 2010 Marwanto juga diberi amanah sebagai Wakil Ketua Dewan Kebudayaan Kulon Progo.
Oleh Imam Syafii, yang waktu itu Ketua Dewan Kebudayaan Kulon Progo, ia diminta menggerakkan dunia kesusastraan Kulon Progo lewat Dewan Kebudayaan.
Saat masih sebagai Wakil Ketua Dewan Kebudayaan itu pula Marwanto didaulat untuk menjadi Ketua Forum Sastra, Macapat dan Teater Kulon Progo (seiring dibentuknya sekitar 15 forum kesenian sebagai wadah aktivitas berkesenian di Kulon Progo pada awal 2015).
Ketika pada 2020 nama forum berubah menjadi Forum Sastra dan Teater, Marwanto masih terpilih sebagai ketua sebelum ia mengundurkan diri di tahun 2023 karena terpilih sebagai Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Kulon Progo.
Menulis Sejak Awal Kuliah
Namun jauh sebelum aktif bersastra di tanah kelahirannya, Marwanto sudah mulai menulis sejak awal kuliah.
Karya pertamanya berupa esai dimuat koran cetak mingguan Minggu Pagi (Yogyakarta) pada bulan Oktober 1992 saat ia awal kuliah di Fisip UNS Solo.
Bahkan, di tahun 1996, ia sempat mempelopori terbitnya buku antologi puisi mahasiswa Fisip UNS (sesuatu yang belum lazim waktu itu). Dengan demikian, perjalanan kepenulisan Marwanto sebenarnya telah dimulai sejak sekitar 34 tahun lalu.
Sehingga, Ketika Balai Bahasa Yogyakarta (BBY) menawarkan pengumpulan syarat untuk anugerah sastra kategori 25 tahun dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Kemendikdasmen RI), ia sempat minta pertimbangan istrinya.
Pasalnya, enam tahun lagi ia sebenarnya memenuhi syarat untuk anugerah serupa dengan kategori 40 tahun. Namun, sang istri menyarankan agar ia menerima tawaran tersebut karena tidak ada yang dapat menjamin program serupa masih tersedia di masa mendatang.
Dedikasi dan Kiprah di Dunia Sastra
Sebagai sastrawan Marwanto tidak hanya aktif menulis, tetapi juga menggerakkan ekosistem literasi dan sastra lokal di Kulon Progo melalui berbagai wadah atau komunitas.
Selain aktif di Komunitas Lumbung Aksara, Forum Sastra-Teater, dan pengurus Dewan Kebudayaan Kulon Progo (2010-2023) seperti disebutkan di depan, bersama penyair senior Kulon Progo Marjuddin Suaeb dan penulis sastra Jawa, Sumarno, ia mendirikan sekaligus menjadi pembina Komunitas Sastra-Ku sejak 2019 hingga sekarang.
Ia juga sempat menjadi Ketua Lesbumi PCNU Kulon Progo dan Pembina Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca (GPMB) Kulon Progo.
Di sela kesibukannya sebagai penyelenggara pemilu —mulai dari Anggota KPU Kulon Progo (2008-2018) hingga kini Ketua Bawaslu Kulon Progo (2023-2028)— ia terus produktif menelurkan karya dalam berbagai genre seperti esai, opini, puisi, cerpen, resensi, dan cerkak.
Tulisan-tulisannya telah menghiasi puluhan media massa nasional maupun lokal, mulai dari Kompas, Media Indonesia, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Minggu Pagi, Suara Karya, Pos Bali, Suara Merdeka, Koran Sindo, Pikiran Rakyat, Mercusuar, Harian Jogja, Bernas, Solo Pos, Gatra, Gong, Syir‟ah, Mata Jendela, Pagagan, Suara KPU RI, Suara Hidayatullah, Hai, Bakti, Binangun, Adil, Ikhtilaf, basabasi, detik, Times Indonesia, dll.
Prestasi Nasional hingga ASEAN
Selain menulis di koran, Marwanto juga menulis buku. Hingga kini ia telah menelurkan delapan buku tunggal, yakni: Kado Kemenangan (Kumpulan Cerpen, 2016), Demokrasi Kerumunan (Kumpulan Esai, 2018), Hujan Telah Jadi Logam (Kumpulan Cerpen, 2019), Menaksir Waktu (Kumpulan Puisi, 2021), Maklumat Cinta (Puisi, 2025), Di samping buku tunggal, karya-karyanya juga termuat dalam ratusan buku antologi bersama. Di antaranya Herbarium (Antologi Puisi 4 Kota: Padang Bandung Yogya Denpasar, 2007), Suluk Mataram (50 Penyair Membaca Yogya, 2011), Membaca Sastra Jogja (Kumpulan Esai Balai Bahasa DIY: 2012), Perempuan Ghirsereng (Kumpulan Sajak Penyair ASEAN-3, 2020), 121 Purnama (SBP, 2021), Khatulistiwa (Dari Negeri Poci, 2021), Jejak Puisi Digital (Yayasan Hari Puisi Indonesia, 2021), Ombak Camar dan Lautan (Festival Sastra Internasional Gunung Bintan, 2021), Parepare Kota Cinta (Interlude, 2022), Semesta Ingatan (Temu Karya Serumpun: Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Timor Leste, 2025), dan lain-lain.
Berbagai prestasi tingkat nasional hingga ASEAN pun pernah diraihnya, antara lain: Juara Pertama Lomba Cipta Puisi “Pekan Literasi Bank Indonesia” (November, 2020). Juara Kedua Sayembara Mengulas Novel “Meja-17” Gaksa (Gabungan Komunitas Sastra ASEAN, Juli, 2021), Juara Ketiga Lomba Cerpen Nasional “Membumikan Nilai Pancasila” (Uni versitas Negeri Malang, Agustus 2021), Juara Ketiga Lomba Cerpen Nasional (Institut Seni Indonesia Padang, Oktober 2021), Puisi Terbaik “Hari Nelayan Nasional (Negeri.kertas.com, April 2022), Puisi Terbaik Hardiknas (Negeri. kertas.com, 2022), Juara Pertama Lomba Cipta Puisi Nasional (Satria Publisher, 2022). Buku Kita+(Duh)-Kita, terpilih sebagai salah satu Buku Sastra Nasional 2024 Bahan Pengayaan Sastra Indonesia untuk SMA dan Perguruan Tinggi versi Lumbung Puisi Indonesia (pusat dokumentasi sastra di Indramayu).
Karyanya Menarik bagi Mahasiswa
Meski masuk di jajaran usia penulis senior, karya Marwanto tidak hanya dinikmati atau dibaca oleh generasi sezamannya. Buku-buku karyanya juga dilirik oleh golongan pembaca milenial.
Terbukti, tiga bukunya menjadi bahan penelitian skripsi para mahasiswa. Tiga mahasiswa FKIP Universitas Borneo Kalimantan Utara, menjadikan buku karya Marwanto sebagai bahan skripsi. Tiga mahasiswa itu adalah: Nurjanah Umar dengan judul: Gaya Bahasa pada Kumpulan Puisi “Menaksir Waktu” karya Marwanto: Kajian Stilistik.
Martinus Ratu Badin dengan judul: Analisis Gaya Bahasa dalam Buku Puisi “Maklumat Cinta” Karya Marwanto dan Aksai Apriansyah dengan judul: Nilai Sosial dalam kumpulan cerpen “Aroma Wangi Anak-anak Serambi” Karya Marwanto (Kajian Sosiologi Sastra).
Dengan segudang prestasi dan aktivitas dalam jangka waktu yang lama dan konsisten tersebut, tak mengherankan jika pada awal Agustus tahun 2026 ini ia memperoleh anugerah dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen RI.
Anugerah tersebut menjadikan Marwanto sebagai sastrawan Kulon Progo kedua yang memperoleh penghargaan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, menyusul penyair senior Kulon progo Drs. R. Marjudin yang meraih penghargaan serupa pada tahun sebelumnya untuk kategori 50 tahun berkarya.
Meski telah meraih berbagai prestasi dan berkarya selama 34 tahun, ia mengaku masih memendam banyak obsesi.
”Saya masih punya banyak obsesi di dunia penulisan yang belum sepenuhnya terwujud”, ungkapnya pada mabur.co, Jumat (4/9/2026).
Ketika ditanya lebih jauh apa obsesinya itu, ia hanya tersenyum sambil menjawab.
”Tunggu saja tanggal mainnya, semoga Allah masih memberi saya kesempatan berkarya lebih baik dan lebih banyak lagi. Terutama untuk kemaslahatan kehidupan,” tegasnya.
