Mabur.co — Seribu pelajar Muhammadiyah dari berbagai amal usaha pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggemakan tembang macapat di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Sabtu (5/9/2026). Suara para pelajar itu pun melantunkan tembang Jawa.
Ketua Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Dian Korprianing Nugraha, mengatakan, gelaran Macapat 1.000 Siswa Muhammadiyah dirancang sebagai ruang untuk mempertemukan pendidikan, kebudayaan, dan ruang publik.
Menurutnya, macapat tidak semata-mata ditempatkan sebagai kesenian tradisional, tetapi juga sebagai media pembelajaran nilai dan pembentukan karakter generasi muda.
“Kami ingin anak-anak tidak hanya bisa melantunkan macapat, tetapi juga mengenal dan memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Macapat memiliki kekayaan pesan moral yang sangat relevan untuk pendidikan karakter,” ujarnya.
Budaya Jawa Relevan dengan Kehidupan Modern
Dian mengatakan, pemilihan Titik Nol Kilometer sebagai lokasi kegiatan memiliki makna tersendiri. Ruang publik tersebut menjadi tempat bertemunya berbagai kelompok masyarakat sekaligus menjadi panggung untuk menunjukkan bahwa budaya Jawa tetap hidup dan relevan di tengah kehidupan masyarakat modern.
“Budaya tidak cukup hanya dipelajari di dalam kelas. Harus ada ruang untuk menggemakannya di tengah masyarakat. Kami membawa macapat ke ruang publik agar semakin dekat dengan generasi muda sekaligus dapat dinikmati masyarakat luas,” katanya.
Macapat sebagai Warisan Budaya
Wakil Ketua PWM DIY, Iwan Setiawan, mengatakan, para pelajar tidak hanya diajak mengenal macapat sebagai warisan budaya, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung dalam setiap tembang.
“Macapat mengandung banyak pesan dan nasihat yang relevan dengan kehidupan pelajar. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi bagian dari proses pembentukan karakter pelajar Muhammadiyah,” katanya.
Iwan mencontohkan, salah satu larik tembang Jawa, yakni tan kendhat nggonmu sinau, marang piwulang lan buku.
Larik tersebut mengandung pesan agar seseorang tidak berhenti belajar dan terus memperkaya pengetahuan melalui pengajaran maupun buku.
“Pesan-pesan seperti ini sangat relevan dengan kehidupan pelajar. Semangat untuk terus belajar, mencari ilmu, dan memperkaya pengetahuan merupakan nilai yang perlu terus ditanamkan kepada generasi muda,” ujarnya.
