Prof. Djoko Suryo Wafat, Catatkan Jejak Keemasan dalam Literasi Sejarah Indonesia

4 Min Read
Older man in a batik shirt holding a magazine titled 'Sejarah Indonesia: Perspektif Lokal dan Global,' featuring a laughing elderly woman on the cover.
Prof. Djoko Suryo saat membaca buku "Sejarah Indonesia Perspektif Lokal dan Global". (Foto: KAGAMA TV)

Mabur.co – Dunia akademis dan kebudayaan Indonesia baru saja kehilangan salah satu tokoh besar.

Pada Senin ini (7/9/2026), Prof. Djoko Suryo atau KRT (Kanjeng Raden Tumenggung) Suryohadibroto, mengembuskan napas terakhir pada pukul 04.50 di RSA UGM, Yogyakarta.

Salah Satu Tokoh Kunci Keistimewaan Yogyakarta

Djoko Suryo merupakan seorang Guru Besar Ilmu Sejarah di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), dan juga salah satu tokoh kunci yang terlibat aktif dalam penyusunan draft dan pembahasan substansi Keistimewaan Yogyakarta.

Sekaligus melandasi pengesahan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Djoko Suryo lahir di Karanganyar, Pekalongan, Jawa Tengah, pada 30 Desember 1939. Sejak kecil, Djoko Suryo sudah menggemari sejarah, yang berakar dari kegemarannya terhadap keilmuan sejarah, sastra, ilmu pendidikan, serta ilmu humaniora di masa lalu.

Kegemarannya itu pun diwujudkan dengan menempuh pendidikan di sekolah keguruan, yakni Sekolah Guru B selama empat tahun di Wiradesa, Pekalongan. Kemudian dilanjutkan dengan Sekolah Guru A (SGA) di Yogyakarta.

Djoko Suryo pun mantap melanjutkan kariernya sebagai seorang pengajar, khususnya di bidang sejarah. Pengalaman mengajar pertamanya adalah menjadi guru Sekolah Dasar di Widoro, yakni sebuah desa yang terletak di bukit di daerah Wates, Kulon Progo, pada 1959-1962.

Djoko pun melanjutkan kariernya dengan mengajar di Sekolah Dasar Kulon Progo (1962–1964), serta Payak, Piyungan, Bantul (1964).

Di sela-sela kesibukannya mengajar, Djoko memberanikan diri untuk mengambil bangku perkuliahan. Ia pun memilih jurusan Sejarah di Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM (kini FIB UGM), karena kecintaannya yang begitu tinggi terhadap bidang yang satu ini.

Ia pun berhasil meraih predikat sarjana muda pada 1965. Setelah itu, ia langsung diangkat menjadi asisten dosen oleh guru besar sejarawan Indonesia, Prof. Sartono Kartodirdjo.

Aktif dalam Kegiatan Penelitian

Bersama Sartono, Djoko Suryo diajak untuk terlibat aktif dalam berbagai riset, penyusunan bahan buku sejarah sosial perdesaan, serta berbagai seminar nasional di beberapa kota. Hal inilah yang kemudian membentuk fokus keahliannya di bidang sejarah sosial-ekonomi perdesaan sampai akhir hayatnya.

Kemudian pada awal 1970-an, berdirilah Lembaga Studi Perdesaan dan Kawasan, yang diprakarsai oleh Sartono, Djoko pun ditarik ke lembaga tersebut, guna membantu Sartono dalam penelitian. Di lembaga inilah ia diarahkan untuk mendalami sejarah perdesaan, sejarah pembangunan, dan sebagainya.

Berkat kegigihan dan ketekunannya dalam bidang akademis dan sejarah selama bertahun-tahun, ia pun dipercaya untuk menjabat sebagai Dekan Fakultas Sastra UGM selama dua periode, yakni dalam kurun 1991–1998.

Djoko juga merupakan salah satu figur penting dalam penulisan dan penyuntingan master work “Indonesia dalam Arus Sejarah” jilid keempat, serta aktif dalam Konsorsium Bidang Sastra dan Filsafat sejak 1988.

Menurut Djoko, sejarah bukan hanya tentang kumpulan angka dan peristiwa masa lalu yang sudah berakhir, melainkan tentang proses dinamisasi dan integrasi yang dapat dipelajari dari berbagai peristiwa tersebut.

Guna membentuk masa kini dan masa depan yang lebih baik, sekaligus merumuskan identitas bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Sosok yang Tekun

Para rekan sejawat dan mahasiswanya mengenang Djoko Suryo sebagai sosok yang hangat, tekun, dan penuh keteladanan bagi para generasi muda.

Ia menjadi wujud nyata dari sejarawan yang tidak hanya mencatat peristiwa sejarah, tapi juga aktif merawat, serta melestarikan ke berbagai generasi.

Seluruh legacy Djoko Suryo adalah rekam jejak yang akan selalu abadi dalam catatan sejarah bangsa Indonesia, sampai kapan pun. (*)

Share This Article
Avatar photo
Lulusan program studi Jurnalistik STMM Yogyakarta, Jurnalis mabur.co, Writing Is Journey Of My Life
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar