Saf Kosong dalam Ekspresi Kebudayaan Yogya

3 Min Read
Three adults seated in a circular arrangement around a small table with drinks and snacks, chatting under a wooden pergola in a nighttime garden setting.
Akademisi teater dan budayawan Dr. Nur Iswantara, M.A. (ujung kanan), penyair Evi Idawati dan pantomimer Ende Reza. Foto: Dok Pribadi

Akademisi teater dan budayawan, Dr. Nur Iswantara, M.A., telah tiba lebih dulu di Piwulang: Padepokan Sastra asuhan penyair Evi Idawati dan pantomimer Ende Reza. Saya tiba beberapa menit sesudahnya.

Beberapa hari sebelumnya, Mba Evi, begitu saya akrab menyapa salah satu perempuan penyair Jogja ini, mengontak balik ke saya dan Pak Nur Iswantara atas sebuah kegelisahan mendalam tentang makin melebar dan meleburnya ruang-ruang ekspresi kebudayaan di Yogya, setidaknya dalam satu dekade atau sepuluh tahun terakhir.

Melebur dan melebarnya ruang-ruang ekspresi kebudayaan itu tidak hanya dalam konteks ekspresi kesenian, sastra, dan pementasan seni lainnya, tetapi juga melebar secara geografis.

Ruang Ekspresi Kebudayaan Marak

Jika 10 sampai 15 tahun lalu, ruang-ruang ekspresi kebudayaan Yogya rata-rata paling marak dalam lingkup Kota Yogya (secara kuantitas), atau setidaknya dalam kawasan ring road secara geografis, kini acara ekspresi kebudayaan itu, baik sastra, tari, pameran seni rupa dan pementasan seni lainnya, melebar dan tumpah ruah di luar ring road.

Bahkan hingga ke desa-desa di Bantul, Sleman, Kulon Progo juga mulai, hingga ke Gunungkidul. Begitu Evi dan Nur Iswantara mulai memantik diskusi sore itu.

Ibarat barisan saf dalam salat di masjid, sekarang ini barisan itu sudah mulai melebar dan memanjang ke samping kanan kiri. Tinggal bagaimana kita melihat saf yang masih kosong, mari kita isi dengan kreativitas yang kita bisa dan mampu serta bermanfaat.

Begitu saya menimpali sekenanya saja agar diskusi lebih banyak mengalir dari Mbak Evi dan Pak Nur. Artinya, kita menemukan masih ada space atau ruang kosong panggung ekspresi kebudayaan di barat Yogya, setidaknya antara Gamping hingga Kali Progo.

Selama ini kita masih kurang menemukan acara di wilayah ini. Mungkin panggung sastra, musik, teater, dan lain semacamnya.

Banyak Pelaku Seni Tradisi

Tetapi di kawasan ini memang banyak kelompok dan pelaku kesenian tradisi, seperti pertunjukan jatilan, grup hadrah dan kesenian rakyat lainnya. Bukan juga berarti ruang ini kosong sama sekali.

Mungkin lebih tepatnya, ruang ini sudah terisi, tapi barisan saf masih longgar, sehingga memungkinkan kita untuk menjejalkan “kaki kanan” ke dalam saf itu, sehingga makin rapat, lurus dan padat.

Kira-kira kurang lebih begitu jika kita menggunakan metafora salat jemaah dalam Islam. Begitu kesimpulan Pak Nur menutup diskusi yang begitu panjang, dari sore hingga larut malam.

Setidaknya dari diskusi tersebut, lahir gagasan baru untuk memulai sebuah ruang ekspresi kebudayaan di ruang-ruang yang masih longgar, tentu dalam tema besar jagat kebudayaan.

Hal ini memungkinkan banyak pelaku seni, sastra, budaya dapat terlibat di dalamnya, berdialektika, bergesekan secara kreatif, maka akan melahirkan lembar-lembar kebudayaan baru di kota kebudayaan ini. ***

TAGGED:
Share This Article
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar