Bentuk Penghormatan Suharto, Monjali Gelar Haul ke-18

Mabur.co-  Sebagai bentuk penghormatan bagi Presiden ke-2 Republik Indonesia, HM Soeharto, Selasa (27/1/2026), Monumen Jogja Kembali (Monjali) menggelar haul ke-18 di plataran Monumen Jogja Kembali yang diisi dengan doa bersama, pembacaan Surat Yasin, tahlil, serta doa yang diikuti oleh pengurus dan karyawan Monjali.

Namun demikian, Monjali terus berupaya menghadirkan konsep acara yang berbeda setiap tahunnya agar peringatan haul tidak sekadar seremonial.

Pengelola Monjali, Nanang Dwinarto, mengatakan, pada peringatan haul ke-17 tahun lalu, Monjali menghadirkan pameran lukisan bertajuk “Suharto dalam Imajinasiku”.

Pameran tersebut menampilkan 17 karya seni dari berbagai seniman yang mengekspresikan sosok Suharto melalui beragam sudut pandang artistik. Selain lukisan, sejumlah karya patung juga turut dipamerkan dan berhasil menarik perhatian pengunjung.

Pada tahun ini kita mengadakan doa untuk keselamatan bangsa dari para tokoh pahlawan nasional. Momen bersejarah yang setiap tahun ini menjadi agenda rutin dan diisi dengan penambahan acara baru. “Monjali ingin selalu tampil beda,” ujar Nanang.

Nanang mengatakan, inovasi dalam setiap peringatan haul diharapkan dapat memberikan ruang refleksi sejarah yang lebih luas sekaligus mendekatkan generasi muda pada nilai-nilai perjuangan bangsa melalui pendekatan budaya dan seni.

“Haul ke-18 HM Suharto di Monjali diharapkan tidak hanya menjadi ajang doa, tetapi juga sarana edukasi sejarah dan penguatan memori kolektif masyarakat terhadap perjalanan bangsa Indonesia,” katanya.

Nanang menuturkan, sejarah Jenderal Besar Suharto di Yogyakarta, saat Suharto menjadi  pasukan Pembela Tanah Air (PETA) era penjajahan Jepang tahun1943.

Saat itu pasukan PETA mengetahui kemerdekaan telah diproklamasikan oleh Sukarno dan Mohammad Hatta kemudian pasukan PETA yang ada di wilayah Yogyakarta bergerak untuk menyerang pasukan Jepang yang berada di Kotabaru.

Untuk mengamankan gudang amunisi  yang kini menjadi asrama 072 Pamungkas, sebelah timur SMP Negeri  5 Yogyakarta.

“Dalam serbuan tersebut, tentara Jepang mengibarkan bendera putih tanda menyerah dan para pejuang berhasil menduduki gudang senjata Jepang karena menjadi bagian penting senjata bagi pasukan Republik Indonesia. Usai peristiwa serbuan Kotabaru pada 7 Oktober 1945, Belanda melakukan Agresi Militer Belanda I pada 21 Juli 1947 yang menjadi salah satu babak paling kelam dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” katanya.

Nanang mengatakan, serangan besar-besaran yang dilancarkan Belanda ke wilayah Republik Indonesia dilakukan dengan dalih “aksi polisionil”, padahal tujuannya jelas merebut kembali kendali atas Nusantara yang baru dua tahun merdeka.

Saat itu, Jenderal Sudirman menyatakan, akan menunjukkan kepada dunia bahwasanya eksistensi tentara Republik Indonesia masih ada. Bangsa Indonesia itu masih ada dan kedaulatan harus didapatkan.

Pada waktu itu Suharto selaku anak buah Jenderal Sudirman. Suharto saat itu menjadi Komandan Wehrkreise III yang bertugas menyusun strategi untuk melaksanakan serangan umum bertahap.

Atas perintah Suharto dengan perintah kilatnya pada 19 Desember 1948. Suharto menyusun pasukan-pasukan.

Suharto bergerak secara cepat, pasukan-pasukan itu dibagi. Ada Wehrkreise III kemudian Sub Wehrkreise III yang berbeda dari dari wilayah Bantul, Kota Yogyakarta, Sleman, Kulon Progo, dan Gunung Kidul.

Suharto juga membentuk posko pertahanan pertama di Ngoto, tetapi di Ngoto itu dekat dengan kota dan sangat tidak aman. Kemudian dipindahlah dari Ngoto ke Jejeran, Wonokromo, Pleret.

Tahapan berikutnya penyusunan proses yang berkaitan dengan penyerangan-penyerangan bertahap dari Pleret. Dibentuklah pos komando yang strategis di daerah Bibis, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul.

Pengaturan strategi untuk penyerangan di Yogyakarta yang merupakan peristiwa Serangan Umum 1 Maret diatur di markasnya yang di berada di Bibis.

Nanang menjelaskan, sejarah Suharto di Yogyakarta khususnya di wilayah Bantul dalam penyusunan strategi melakukan serangan umum bertahap adalah pos-pos komando.

Semuanya ada di Bantul karena di Bantul adalah garis pertahanan yang aman. Pos pertahanan Pangeran Diponegoro juga berada di Bantul, yakni di Selarong karena wilayah selatan Bantul adalah pantai selatan yang tidak akan mungkin pasukan Belanda bergerak dari sana.

Pasukan Belanda pasti bergerak dari wilayah utara, bisa lewat Sleman, Kulon Progo, dan Kota Yogya sehingga pengamanan yang strategis ada di wilayah Bantul.

“Suharto dalam melaksanakan tugas dari Jenderal Sudirman berkoordinasi dengan Ngarso Dalem Sultan Hamengku Buwono IX. Pada saat itu 14 Februari Suharto berkoordinasi dengan Sultan Hamengku Buwono IX di Keraton Kilen untuk mengatur strategi serangan umum satu Maret yang dilaksanakan pada siang hari.

Waktu itu Keraton Yogyakarta dikepung oleh Belanda sehingga Suharto untuk masuk waktu itu dengan cara menyamar menjadi Abdi Dalem. Masuk untuk mengatur strategi kemudian ketika pelaksanaan serangan umum 1 Maret, Suharto bisa mengerahkan sebanyak 2.000 pasukan dan rakyat Yogyakarta. Di situ Suharto  menunjukkan kepada dunia, sehingga dengan adanya serangan umum 1 Maret akhirnya kedaulatan Republik Indonesia diakui,” katanya.

Nanang juga memaparkan pada 2025, Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, mencanangkan Bantul Bumi Satria.

“Bantul Bumi Satria itu dicanangkan karena ada pemimpin-pemimpin besar yang berjuang untuk bangsa dan negara dari  mulai Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, dan era pasca-kemerdekaan ada sosok anak desa yang lahir di Desa Kemusuk namanya Suharto. Berjuang untuk bangsa dan negara atas rida dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Suharto menjadi presiden Republik Indonesia yang kedua. Membangun Indonesia bersama-sama dengan masyarakat, segala kelebihan dan kekurangan beliau pasti ada juga,” katanya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *