Mabur.co – Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 16.759 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) terjadi akibat dampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kasus tersebut ditemukan di 23 kabupaten/kota yang tersebar di 4 provinsi, yakni Lampung, Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat yang merupakan wilayah terdampak sebaran abu vulkanik.
DIlansir situs resmi Kemenkes, dari total kasus tersebut, sebanyak 3.771 kasus dialami anak usia 0–5 tahun. Sementara 12.988 kasus lainnya terjadi pada masyarakat berusia lima tahun ke atas.
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, mengatakan kemunculan kasus ISPA pada 2026 ini tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Situasi Belum Bebas Abu
Karena itu, masyarakat diminta tidak menganggap kondisi sudah sepenuhnya aman hanya karena abu vulkanik yang terlihat mulai menipis.
“Yang paling penting adalah bahwa masyarakat tetap harus waspada,” katanya.
Berdasarkan hasil pengukuran kualitas udara di sejumlah wilayah, Kemenkes mengungkapkan bahwa partikel halus yang berukuran sangat kecil atau kadar PM2,5 di area Terminal Damri Bandara Soekarno-Hatta, tercatat mencapai 63 mikrogram per meter kubik.
Angka tersebut dinilai masih cukup berbahaya karena lebih dari dua kali lipat batas aman yang digunakan Kemenkes, yakni 25 mikrogram per meter kubik.
Temuan ini pun menjadi perhatian karena kondisi udara yang terlihat secara kasat mata belum tentu menggambarkan seluruh partikulat yang masih berada di udara.
Dante mengatakan, pembukaan kembali aktivitas penerbangan tidak serta-merta berarti kualitas udara sudah aman dari sisi kesehatan.
“Mungkin kalau untuk otoritas bandara itu menggunakan paper test untuk keamanan penerbangan, tapi ternyata particulate matter untuk kesehatannya masih tinggi,” ujarnya.
Kemenkes sendiri mengaku menggunakan alat particulate counter untuk mengukur konsentrasi partikulat, terutama PM2,5.
Alat particulate counter ini dibutuhkan untuk mendeteksi partikel berukuran sangat kecil yang tidak selalu terlihat oleh mata namun berbahaya jika terhirup dan masuk ke dalam paru-paru.
“Untuk kesehatan, itu kita pakai yang 2,5. Kalau nanti partikel yang lebih besar kita anggap sudah mulai menurun, tapi 2,5-nya masih ada, masih tinggi,” jelasnya.
Gunakan Masker
Karena itu Dante pun mengingatkan masyarakat yang masih harus beraktivitas di luar ruangan untuk menggunakan masker.
“Saya mengimbau kepada masyarakat yang melakukan aktivitas di luar ruangan tetap menggunakan masker karena particulate matter-nya yang 2,5 masih di atas normal,” ujarnya.
Selain itu Kemenkes juga memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan, terutama anak-anak, lanjut usia dan masyarakat yang memiliki penyakit tertentu.
Kelompok tersebut diminta mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara belum membaik. Ia juga meminta masyarakat mengurangi paparan abu vulkanik dengan membatasi aktivitas di luar rumah.
“Stay at home, kemudian menggunakan masker, kalau ada gejala datang ke fasilitas kesehatan,” pesannya.
