Mabur.co – Arak-arakan gunungan warna-warni diarak keliling desa dalam Festival Pleretan di Sukorame, Kecamatan Gresik, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.
Ratusan warga nampak mengarak gunungan tersebut sambil mengiringinya dengan lantunan salawat di sepanjang perjalanan hingga finis di lokasi acara.
Gunungan yang diarak warga itu bukan sembarang gunungan. Namanya Gunungan Pleret. Gunungan ini sangat unik karena tak seperti gunungan pada umumnya.
Jika biasanya gunungan dibuat dari hasil bumi seperti sayuran dan buah-buahan, Gunungan Pleret justru dibuat dari warna-warni makanan tradisional berbahan tepung beras.
Dibagikan kepada Warga
Biasanya setelah diarak keliling desa, Gunungan Pleret ini lantas dibagikan kepada seluruh warga yang hadir lewat prosesi rayahan atau rebutan gunungan.
Keunikan inilah yang menjadikan Festival Budaya Pleretan di Kabupaten Gresik istimewa dan tak ditemukan di tempat lainnya.
Dilansir jatimpedia, Selasa (15/9/2026), tahun ini Festival Budaya Pleretan kembali digelar dengan mengangkat tema “Harmoni Budaya, Generasi Berdaya”.
Selain digelar sebagai bagian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW kegiatan ini juga digelar untuk melestarikan Tradisi Pleretan yang merupakan bentuk rasa syukur warga terhadap Tuhan YME.
Pleretan sendiri memiliki tempat khusus bagi kehidupan masyarakat Sukorame. Makanan tradisional berbahan dasar tepung beras tersebut memiliki sejarah tersendiri yang membentuk identitas mereka.

Tokoh budaya sekaligus Ketua Yayasan Mata Seger, Kris Adji, menjelaskan bahwa wilayah Sukorame pada masa lalu merupakan kawasan persawahan. Karena itu, beras memiliki makna penting dalam kehidupan masyarakat setempat.
“Bahan utama pleret adalah beras. Ini menggambarkan pesan mendalam bahwa manusia tidak boleh menerima begitu saja, tetapi bagaimana kita mensyukuri apa yang diberikan Allah sebagai suatu keberkahan. Lalu mengolahnya dengan baik, salah satunya menjadi kue pleret ini,” ujar Kris Adji.
Pleret kemudian berkembang bukan hanya sebagai makanan tradisional, tetapi juga menjadi simbol dalam perayaan budaya masyarakat Sukorame.
Warna-warni pleret yang ditampilkan dalam festival juga memiliki makna tersendiri. Keragaman warna tersebut menggambarkan kehidupan yang beragam sekaligus membawa pesan tentang toleransi.
Sementara bahan tepung beras dikaitkan dengan penghormatan terhadap Dewi Sri. Dalam tradisi masyarakat Jawa dikenal berkaitan dengan kehidupan agraris dan kemakmuran.
“Simbol-simbol inilah yang harus kita pegang teguh sebagai pendidikan karakter bagi generasi muda,” tandas Kris Adji.
Mengemas Tradisi dengan Beragam Kegiatan
Keunikan Festival Budaya Pleretan tidak hanya terkait kirab Gunungan Pleret. Warga mengemas tradisi tersebut dengan berbagai kegiatan yang membuatnya menjadi perayaan lintas generasi.
Selain Kirab Pleret, festival ini juga diisi berbagai kegiatan lainnya seperti pentas Tari Pleretan, Musik Patrol, Fashion Show Batik Bunga Pleretan, bazar UMKM hingga permainan tradisional yang melibatkan berbagai generasi.
Sekretaris Daerah Kabupaten Gresik, Achmad Washil Miftahul Rachman, menilai keterlibatan warga menjadi kekuatan utama dalam menjaga tradisi.
“Saya sangat mengapresiasi Festival Budaya Pleretan ini. Karena ini adalah bukti nyata bahwa masyarakat sangat guyub rukun, kompak, dan memiliki kepedulian yang tinggi terhadap warisan leluhur,” ujar Achmad Washil.
Menurutnya, tantangan terbesar pelestarian tradisi adalah regenerasi. Festival perlu menjadi ruang agar generasi muda tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut mengenal dan menjalankan budaya yang diwariskan masyarakat.
“Budaya lokal seperti ini harus terus ada generasi yang melanjutkan. Jangan sampai berhenti di kita. Anak-anak muda harus bangga dan mengambil peran agar tradisi Festival Budaya Pleretan ini tetap lestari di masa depan,” katanya.
