Mabur.co – Bentuknya sederhana, teksturnya kenyal, dan bercorak warna-warni, itulah kue pleret, jajanan tradisional asal Jawa Timur.
Dibuat dari bahan utama tepung beras, kue pleret menjadi salah satu kuliner tradisional yang semakin langka dan sulit ditemukan saat ini.
Disajikan dalam Acara Syukuran hingga Upacara Adat
Padahal makanan dengan cita rasa perpaduan manis dan gurih ini memiliki sejarah panjang. Dikenal sebagai simbol kemakmuran bagi petani, sejak dulu kue pleret kerap disajikan dalam berbagai acara syukuran hingga upacara adat.
Dilansir dari berbagai sumber, Selasa (15/9/2026), kue pleret sendiri banyak ditemukan di sejumlah daerah khususnya Jawa Timur, seperti Gresik, Kediri, Bojonegoro, Tuban, hingga Lamongan.
Ada beberapa versi yang menjelaskan penamaan kue pleret di tengah masyarakat. Salah satunya terkait proses pembuatannya.
Kue pleret dibuat dari adonan tepung beras yakni dengan cara dipleret-pleret atau digerakkan pada cetakan hingga membentuk kue. Dari situlah jajanan tradisional ini kemudian disebut kue pleret.
Selain dibuat sebagai camilan sehari-hari, kue pleret juga menjadi bagian penting dalam sejumlah acara ritual maupun upacara adat serta tradisi di sejumlah daerah.
Dalam Tradisi Pleretan di Gresik, misalnya. Kue pleret dibuat menjadi gunungan untuk diarak keliling desa dan kemudian diperebutkan seluruh warga.
Simbol Penghormatan kepada Dewi Sri
Dibuat dari bahan utama tepung beras pula, kue pleret memang tak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat agraris atau petani. Kue ini bahkan dipercaya dibuat sebagai simbol penghormatan kepada Dewi Sri.
Coraknya yang warna-warni juga disebut melambangkan kemakmuran sekaligus nilai-nilai keragaman, toleransi, dan keharmonisan masyarakat.
Di sejumlah daerah, kue pleret juga kerap digunakan dalam kegiatan yang berkaitan dengan Tradisi Wiwitan di awal proses penanaman padi. Kue ini biasanya akan diletakkan di sudut-sudut sawah.
Masyarakat setempat memiliki kepercayaan bahwa cara tersebut akan dapat membantu menghindarkan tanaman padi dari ulat. Sehingga tanaman dapat tumbuh subur dan menghasilkan panen melimpah.
Disamping itu kue pleret juga dikenal sebagai salah satu sajian hidangan dalam berbagai acara masyarakat, seperti pernikahan, khitanan, dan syukuran.

Di Nganjuk, misalnya, kue pleret disajikan untuk keperluan hajatan. Dapat dibentuk menyerupai sepasang boneka kecil, laki-laki dan perempuan, yang ditempatkan di bawah satu payung.
Bentuk tersebut mengandung simbol harapan agar pasangan pengantin dapat saling melindungi dan tetap bersama dalam menjalani kehidupan.
Proses Pembuatan Sederhana
Untuk membuat kue pleret sendiri tidaklah sulit. Prosesnya cukup sederhana. Bahan-bahan seperti tepung beras, gula dan pewarna makanan dicampur kemudian dibentuk.
Setelah dibentuk, adonan lalu dikukus hingga matang. Kue pleret kemudian disajikan dengan taburan kelapa parut yang telah dikukus dan diberi sedikit garam. Ada pula yang menyajikannya dengan santan.
Perpaduan rasa manis dari gula dengan gurihnya santan kelapa menjadi ciri khas jajanan ini.
Di Blitar masyarakat bahkan mengubah kue pleret menjadi hidangan berupa es pleret. Es warna-warni ini biasanya akan disajikan bersama santan dan juruh atau gula Jawa yang dicairkan sehingga menjadi hidangan yang menyegarkan.
