Mabur.co — Upaya memperkuat kualitas dan keberlanjutan pariwisata berbasis masyarakat bisa diwujudkan melalui program Indonesia–Malaysia International Community Service “Improving CBT Quality” yang digelar di Desa Wisata Pentingsari, Sleman, Yogyakarta, Minggu (13/9/2026).
Dalam rilis yang diterima mabur.co, Selasa (15/9/2026), dijelaskan, program internasional tersebut merupakan kolaborasi antara STIE Pariwisata API Yogyakarta, Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS), dan Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI).

Kegiatan tersebut diikuti oleh para pemilik homestay dan pengelola Desa Wisata Pentingsari melalui rangkaian sharing session, diskusi, dan pertukaran pengalaman mengenai pengembangan Community-Based Tourism (CBT).
Kegiatan dibuka oleh Ketua STIE Pariwisata API Yogyakarta, Susilo Budi Winarno, S.H., M.H., bersama Ketua Desa Wisata Pentingsari, Ir. Ciptaningsih.
Dalam sambutannya, Susilo Budi Winarno, menekankan pentingnya kolaborasi perguruan tinggi dengan masyarakat dalam mendorong peningkatan kualitas desa wisata.
“Kolaborasi internasional seperti ini menjadi kesempatan penting bagi perguruan tinggi untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman secara langsung dengan masyarakat. Harapannya, kegiatan ini memberikan manfaat nyata bagi pengelola dan masyarakat Desa Wisata Pentingsari dalam meningkatkan kualitas CBT secara berkelanjutan,” papar Susilo Budi Winarno.
UNIMAS: Pentingsari Perlu Memperkuat Strategi Pemasaran
Sesi pertama menghadirkan Prof. Shaik Azahar Bin Shaik Hussain dari Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS) dengan materi “Pentingsari 2026: The Next Evaluation – A Strategic Marketing Proposal for Community-Led Tourism.”
Materi tersebut mengajak para pengelola untuk melihat Desa Wisata Pentingsari tidak hanya sebagai destinasi yang memiliki potensi budaya dan alam, tetapi juga sebagai produk pariwisata yang membutuhkan strategi pemasaran yang terarah.
Pembahasan mencakup pentingnya evaluasi, penguatan identitas destinasi, strategi pemasaran, serta keterlibatan masyarakat dalam membangun pengalaman wisata yang autentik.
“Pentingsari memiliki potensi yang sangat kuat sebagai community led tourism destination. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dikemas melalui strategi pemasaran yang tepat sehingga semakin dikenal, tanpa kehilangan karakter dan kekuatan masyarakat lokal,” papar Shaik.
Shaik juga menekankan bahwa keberhasilan desa wisata tidak hanya ditentukan oleh jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam menciptakan pengalaman yang berkualitas dan berkelanjutan.
UBSI: Ubah Potensi Lokal Menjadi Global melalui Digital Kreatif
Sesi kedua menghadirkan Dr. Anik Andriani, M.Kom. dari UBSI dengan topik “Digital Kreatif dan Marketing: Mengubah Potensi Lokal Menjadi Global.”
Dalam sesi ini, para peserta mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya kreativitas digital dalam memperkenalkan potensi desa wisata kepada masyarakat yang lebih luas.
Menurut Dr. Anik, perkembangan teknologi digital memberikan peluang besar bagi desa wisata untuk membangun branding, memperkenalkan produk lokal, serta menjangkau wisatawan melalui berbagai platform digital.
“Potensi lokal sebenarnya memiliki peluang untuk menjadi global ketika dikemas dengan kreativitas dan strategi digital marketing yang tepat. Desa wisata perlu mampu menceritakan keunikan yang mereka miliki sehingga wisatawan tidak hanya melihat produknya, tetapi juga memahami cerita di balik produk tersebut,” papar Anik.
Ia juga mendorong para pelaku desa wisata untuk lebih aktif memanfaatkan media digital sebagai sarana promosi, komunikasi, dan penguatan identitas destinasi.
PUSDEWI: CBT Harus Memberikan Manfaat bagi Masyarakat
Sementara itu, sesi ketiga disampaikan oleh Direktur PUSDEWI, Setiawan Priatmoko, M.M., Ph.D. Fokus pembahasan diarahkan pada penguatan Community-Based Tourism dan pentingnya menjaga keberlanjutan desa wisata.
Setiawan menegaskan bahwa masyarakat harus tetap menjadi bagian utama dalam proses pengembangan pariwisata. Desa wisata bukan hanya tempat wisata, tetapi juga ruang hidup masyarakat yang memiliki nilai sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan.
“CBT pada dasarnya menempatkan masyarakat sebagai bagian penting dari pembangunan pariwisata. Karena itu, pengembangan desa wisata harus memastikan bahwa masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi menjadi pelaku dan penerima manfaat utama dari aktivitas pariwisata,” ungkap Setiawan.
Menurutnya, keberlanjutan Desa Wisata Pentingsari perlu dibangun melalui keseimbangan antara kepentingan wisatawan, masyarakat, ekonomi lokal, budaya, dan lingkungan.
Kolaborasi Dua Negara, Tiga Perguruan Tinggi
Kegiatan ini mendapat apresiasi dari seluruh pihak yang terlibat. Kolaborasi antara perguruan tinggi Indonesia dan Malaysia dinilai menjadi pengalaman penting dalam membangun jejaring internasional sekaligus memberikan kontribusi langsung kepada masyarakat.
Perwakilan UBSI menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan momentum luar biasa karena mampu mempertemukan dua negara dan tiga institusi dalam sebuah program pengabdian internasional yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.
Kegiatan ini dinilai UBSI sangat luar biasa karena pihaknya dapat melakukan kolaborasi dua negara dan tiga institusi dalam satu program internasional. Yang paling penting adalah bagaimana kolaborasi ini tidak hanya menjadi kegiatan akademik, tetapi memang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.
Sementara itu, pihak Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS) mengungkapkan kesan positif terhadap pelaksanaan program di Desa Wisata Pentingsari.
Interaksi langsung dengan masyarakat memberikan pengalaman berharga dalam memahami praktik pengembangan CBT di Indonesia.
Pihak Universiti Malaysia Sarawak (UNIMAS) menyatakan sangat terkesan dengan pelaksanaan international community service ini.
Berharap ilmu apa yang dibagikan dapat memberikan manfaat bagi warga lokal dan dapat menjadi bagian dari upaya bersama untuk memperkuat pengembangan Desa Wisata Pentingsari.
Bagi pengelola dan pemilik homestay, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mendapatkan perspektif baru mengenai cara menghadapi perubahan kebutuhan wisatawan dan perkembangan industri pariwisata.
Tidak hanya berbicara mengenai promosi, kegiatan juga membuka ruang diskusi mengenai bagaimana masyarakat dapat mempertahankan kekuatan lokal sekaligus beradaptasi dengan perkembangan teknologi, pemasaran digital, dan tuntutan wisata berkelanjutan.
Melalui program Indonesia–Malaysia International Community Service “Improving CBT Quality”, STIE Pariwisata API Yogyakarta, UNIMAS, dan UBSI menunjukkan bahwa perguruan tinggi dapat mengambil peran strategis dalam mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi langkah awal bagi kerja sama yang lebih luas antara Indonesia dan Malaysia dalam pengembangan Community-Based Tourism, sekaligus memperkuat posisi Desa Wisata Pentingsari sebagai salah satu destinasi yang terus berkomitmen pada pariwisata berkualitas dan berkelanjutan. ***
