Mabur.co – Sekitar 200 penari dari usia PAUD hingga remaja tampil dalam ajang Pagelaran Sang Askarya 2026 di Alun-alun Penyembolum, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, belum lama ini.
Pertunjukan yang digelar di depan kantor dinas bupati itu menyatukan berbagai kesenian dari sejumlah daerah Indonesia dalam satu panggung.
Mulai dari tari piring khas Aceh, tari ondel-ondel khas Jakarta, hingga berbagai tarian lainnya dari Kalimantan, Sulawesi, sampai Papua.
Tata Panggung Spektakuler
Dikemas dengan tata panggung yang spektakuler, Pagelaran Sang Askarya tahun ini memang dibuat lebih meriah.
Selain itu panggung dibuat lebih besar serta atraktif dengan layar berukuran besar di bagian tengah panggung.
Jumlah penari yang terlibat tahun ini juga tercatat meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu yang hanya diikuti 100 penari.
Antusiasme masyarakat terhadap ajang ini luar bisa. Terlihat dari membludaknya area depan dan sisi panggung.
Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara sendiri menyebut Pegelaran Sang Askarya digelar tidak hanya sebagau tontonan dan hiburan, tetapi juga ruang bagi generasi muda untuk belajar dan mengekspresikan diri melalui seni.
Staf Ahli Bupati PPU Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, Margono Hadi Susanto, mengatakan kegiatan seni menjadi bagian penting dalam menjaga identitas daerah.
“Kegiatan ini menjadi ruang penting untuk merawat identitas budaya, menumbuhkan kreativitas, sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat. Seni dan budaya adalah identitas daerah yang harus kita jaga bersama sebagai warisan bagi generasi mendatang,” ujarnya dilansir Website Resmi Pemkab PPU, Selasa (15/9/2026).
Penguatan Budaya Seniman Lokal
Menurut Margono, penguatan budaya semakin penting seiring posisi PPU yang berkembang sebagai Gerbang Nusantara. Karena itu, komunitas dan seniman lokal harus terus diberikan ruang untuk menghasilkan karya.
Pagelaran Sang Askarya sendiri telah digelar dua tahun berturut-turut pada 2025 dan 2026. Penyelenggaraan tersebut mendapat dukungan pendanaan penuh dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.
Ia mengatakan keberlanjutan acara menjadi kesempatan bagi seniman muda PPU untuk menunjukkan kemampuan mereka.
“Perjalanan dua tahun ini membuat kami terus belajar dan mengevaluasi diri. Kami ingin membuktikan bahwa anak daerah PPU mampu menghasilkan karya yang membanggakan. Budaya akan selalu tetap hidup bersama generasinya ketika kita melakukannya dari hati,” tuturnya.
Sementara itu, Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Kalimantan Timur, Hetifah Sjaifudian, turut mengapresiasi keterlibatan generasi muda dalam kegiatan tersebut.
“Kebudayaan bukan hanya menjaga warisan masa lalu, tapi memberi ruang kepada generasi muda untuk menunjukkan kreativitas mereka, dan menjaganya hingga masa depan,” katanya. ***
