Mengenal Nyi Tjondrolukito, Maestro Seni Karawitan dengan Koleksi 200 Rekaman Kaset

4 Min Read
Portrait of an older woman wearing glasses and a red patterned blouse, looking to the side with a gentle smile.
Nyi Tjondrolukito adalah legenda pesindhen yang sampai sekarang masih dikenang sebagai seniwati yang besar. (Foto: Istimewa)

Mabur.co – Nyi Tjondrolukito mungkin tak dikenal luas di skena musik populer hari ini. Namun, orang-orang dalam dunia seni karawitan tahu persis siapa sosoknya.

Dia adalah maestro bagi seni karawitan Indonesia, sosok yang telah memperkaya musik dan tembang Jawa, lewat ratusan tembang yang digubah dan dinyanyikannya.

Nyi Tjondrolukito adalah legenda pesindhen yang sampai sekarang masih dikenang sebagai seniwati yang besar.

Lantunan sindhenan Nyi Tjondrolukito selalu memilih syair yang berisi petuah atau nasihat. Baik itu nasihat untuk menghormati ibu bapak, menuntut ilmu, berbakti kepada negara maupun untuk mencintai sesama.

Nyi Tjondrolukito adalah legenda sekaligus pionir persindenan Indonesia pasca-kemerdekaan. Dia membawa tembang-tembang Jawa menjadi hiburan populer baik di pertunjukan langsung, menembang di radio atau melalui kaset. Tembang-tembangnya menyentuh semua kalangan, dari orang-orang kecil hingga pemimpin negara.

Tembang Populer

Beberapa tembang yang populer di antaranya “Uler Kembang Kutut Manggung” hingga “Palaran Dhandanggula”, menjadi tembang yang setia menemani orang-orang beraktivitas setiap harinya.

Termasuk menemani penyair seperti Subagio Sastrowardoyo dalam mencipta sajak, hingga menemani pemimpin negara merefleksikan diri, negara dan kekuasaannya.

Tembang-tembangnya yang bertutur tentang manusia, gairah, laku hidup, alam dan pencipta, merawat rasa bagi orang-orang yang mendengarkannya.

Sekalipun bagi para pendengar yang tak pandai bahasa Jawa, Nyi Tjondrolukito adalah diva musik karawitan Indonesia. Bukan sembarang diva, tapi namanya memang abadi, bahkan dikenang sebagai nama salah satu ruas jalan di Yogyakarta.

Dilansir dari Ensiklopedi Tokoh Kebudayaan terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan 1994, Selasa (15/9/2026), Nyi Tjondrolukito telah menghasilkan karya meliputi lebih dari 200 rekaman kaset dan piringan hitam.

Lahir di Desa Pogung, Sleman Yogyakarta, pada 25 April 1920, Tjondrolukito dulu adalah seorang gadis belia bernama Turah. Ayahnya, Prawirodimedjo, memberikan nama itu karena merasa bersyukur, sebab kehadiran anak itu membuat keluarga mereka terasa “berlebih”, tak kurang.

Nyi Tjondrolukito dihormati oleh Presiden Soekarno dan disayangi oleh Presiden Soeharto. Bukan hanya kemerduan suara tetapi dedikasinya juga kepada seni karawitan.

Pentas di Istana

Pernah di masa Presiden Soekarno, Nyi Tjondrolukito diminta pentas di Istana Negara. Begitu melihat tata panggung yang menempatkan tempat duduk pesindhen lebih rendah dari penonton ia marah dan menegur pegawai istana.

Turah gemar bernyanyi sedari kecil. Setamat Sekolah Dasar, ayahnya tak mampu menyekolahkannya ke tingkat lebih lanjut.

Akhirnya, Turah hanya mendapat penghiburan di rumah, sembari diajak menyanyi oleh ayahnya yang kebetulan menguasai beberapa tembang Jawa.

Sang ayah mencoba melipur kesedihan putrinya karena tak bisa bersekolah dengan menjanjikan kesuksesan seorang penyanyi.

Dia berkata kepada Turah, bahwa orang yang bernyanyi dan menari untuk menghibur orang, akan disayang dan disanjung orang.

Begitulah kisah awal Turah gemar bernyanyi. Karena kegemarannya inilah, ia sering diminta untuk menjaga adiknya sekaligus menghiburnya dengan nyanyian apabila sang adik kumat rewelnya.

Siapa menyangka, Turah di masa itu sebenarnya sedang berlatih menjadi sinden, membawakan tembang-tembang seperti “Kinanti”, “Telulak” sampai “Dandanggula”.

Peruntungan baik untuk Turah terjadi pada suatu hari, ketika seorang lurah sedang berburu di hutan dekat rumahnya. 

Sang lurah mendengar Turah menembang begitu indahnya, begitu merdunya, hingga jatuh hati pada suara emas tersebut.

Maka dia menyarankan agar Turah mulai diberi latihan menyanyi secara serius. Mula-mula Turah dibawa berlatih di Joyodipuran.

Tapi hanya beberapa hari, peruntungan lagi-lagi mengubah hidupnya. Keelokan suaranya membuat dia akhirnya dibawa ke Kepatihan oleh Pangeran Haryo Danurejo, dan diberi nama baru yaitu Penilaras. Sejak dari sinilah nama Penilaras dikenal luas.

Penilaras mulai banyak terlibat dalam berbagai perkumpulan serta mengikuti berbagai lomba. Ada banyak piala yang dimenangkannya dari berbagai lomba menembang di wilayah Yogyakarta.

Sampai ketika berusia 18 tahun, Patih Danureja, sosok di mana Penilaras mengabdi, meninggal dunia. Penilaras akhirnya dibawa ikut ke Keraton Yogyakarta oleh Kanjeng Sultan Hamengku Buwono VIII. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar