Mabur.co – Film pendek karya mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, berjudul “Dihapus dari Peta” atau “Erased from the Map”, berhasil mencuri perhatian di tingkat dunia.
Hal itu setelah film karya Maarij Reka itu terpilih untuk berkompetisi dalam program kompetisi NEST 74th yang merupakan bagian dari San Sebastian International Film Festival di Spanyol.
Situs resmi San Sebastian International Film Festival l mengumumkan film “Dihapus dari Peta” ini sebagai salah satu dari 14 film pendek karya mahasiswa sekolah film dari berbagai negara yang berhasil lolos.
Yakni untuk memperebutkan Tabakalera Nest Film and Audiovisual Laboratory Award. Tahun ini, NEST sendiri menerima 503 film dari 232 sekolah film yang berasal dari 61 negara.
Dikutip langsung dari situs resminya, Rabu (16/9/2026), film berdurasi 17 menit ini menceritakan kisah seorang pemuda yang harus meninggalkan rumah dan desanya karena akan dibangun sebagai ibu kota baru negara.
Terusir dari Desa Karena Dibangun Ibu Kota
Dia pun lalu menceritakan foto-foto dan kenangan masa kecilnya kepada seorang jurnalis. Bersama saudara laki-lakinya, ia kembali mendatangi tempat-tempat yang dahulu menjadi ruang bermain mereka.
Keduanya kemudian memotret kembali lokasi tersebut dan menghidupkan ulang kisah-kisah masa kecil mereka, seolah-olah rumah dan tanah tempat mereka tumbuh masih seperti dulu.
Lewat film ini Maarij mencoba mengangkat isu lingkungan berupa hilangnya ruang hidup dan ingatan personal seorang anak muda terhadap kondisi di negaranya.
Sebelum diputar di San Sebastian International Film Festival, film “Dihapus dari Peta” sendiri sebelumnya juga sempat diputar di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF).
Keikutsertaan film karya sineas muda Indonesia dalam ajang San Sebastian International Film Festival ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi dunia film di Indonesia.
Sebab San Sebastián International Film Festival merupakan salah satu festival film paling bergengsi dan tertua di dunia karena telah berdiri sejak 1953 silam.
