Dr. Mahendra Shah, Membangun Isu Global dari Indonesia

3 Min Read
Speaker standing on the left addresses an audience, with two men seated and listening in front of a vivid mural backdrop.
Dr. Mahendra Shah (tengah) dan istrinya (kanan), ditemani Dr. Nasir Tamara (kiri). Foto: Dok. Pribadi

Ia hadir dalam suatu lingkaran kecil obrolan penulis Indonesia di Natan Royal Heritage, kediaman penulis dan wartawan senior Nasir Tamara di Kotagede, Yogyakarta.

Ia hadir bersama istrinya dan dikenalkan Nasir Tamara di hadapan para penulis sebagai teman, seorang pemikir isu global yang menyoroti krisis ekologi, perubahan iklim, serta pentingnya kesadaran kolektif umat manusia untuk menyelamatkan bumi serta berbagai isu urgen lainnya.

Book cover: 'Mahendra Shah: The Triumphs & Tragedies of a Changemaker' featuring a man in a dark suit gesturing; by Diana S. Zimmerman.
Buku Dr. Mahendra Shah ditulis bersama Diana S. Zimmerman. Foto: Dok. AmazonDS

Termasuk penguatan dan perlindungan atas hak dan keamanan para penulis dalam berpendapat di alam demokrasi dalam tataran nasional dan dunia global.

Pemerhati Lingkungan Hidup

Nama lengkapnya Dr. Mahendra Shah, penulis dan pemerhati lingkungan hidup berdarah India yang lahir di Kenya dan kini menetap di Bali, Indonesia.

Perjalanan kariernya diwarnai oleh dedikasi panjang di lembaga internasional seperti PBB dan Bank Dunia, di mana ia pernah memimpin operasi darurat kemanusiaan di Afrika.

Kontribusi masifnya menginspirasi pernyataan dari mantan Wakil Sekretaris Jenderal PBB, Bradford Morse, yang mengatakan, “There are literally hundreds of thousands of people alive today in Africa because of the unique and creative information system Mahendra Shah developed.”

Setelah mendedikasikan hidupnya untuk geopolitik dan strategi pembangunan, ia memilih Bali untuk mempromosikan kehidupan holistik.

Sebagai penulis produktif, ia menuangkan gagasan besarnya melalui sejumlah karya penting, antara lain: The Awakening: Securing The Living Earth.

Krisis Ekologi Global

Isu yang dibawanya menyoroti krisis ekologi global, perubahan iklim, serta pentingnya kesadaran kolektif umat manusia untuk menyelamatkan bumi.

Sebagaimana ia tuliskan dalam visinya mengenai keberlanjutan, “We stand at a defining moment in time and unless governments, businesses and civil society commit to implementing actions for sustainable development… The very survival of future generations will be put at risk.

Buku lainnya juga memuat tentang Food in the 21st Century. Fokus utama buku ini adalah tantangan ketahanan pangan global, krisis pertanian, serta strategi pemenuhan nutrisi di abad ke-21 yang berkelanjutan demi menghadapi ledakan populasi dunia dan degradasi lahan.

Lalu bukunya yang paling mutakhir dan dikenalkan di hadapan para penulis: The Triumphs and Tragedies of a Changemaker (bersama Diana S. Zimmerman). Buku ini merekam dilema moral, tantangan kemanusiaan, serta dinamika perubahan global.

Ulasan atas karya ini menegaskan bahwa, “His insightful genius casts a penetrating light on the challenges that both humanity and Nature face not with the usual dogmatic rhetoric, but with an elegant, albeit determined and laser-like focus on responsibility”.

Di sela-sela paparannya tentang gagasan dan bukunya, ia sesekali menyelipkan cerita tentang berbagai pengalamannya bekerja di berbagai belahan dunia, termasuk di Kebun Raya Bogor sejak masih muda dan kecintaannya pada Bali-Indonesia.

Di usia senjanya, meskipun ia masih merasa muda, candanya, ia ingin banyak menelorkan pemikirannya dari Indonesia ke arus global. Salah satu bukunya sedang digarap dalam bentuk cerita dan akan segera tayang di Netflix. ***

Share This Article
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar