Di kerendahan kaki bukit Desa Lalampanua, Kecamatan Pamboang, sekitar 20 KM dari Kota Majene, terbaring makam seorang panglima Mataram-Yogya yang memilih jadi penyebar Islam: Raden Mas Suryodilogo. Ia bukan orang biasa.
“Raden Mas Suryo Adilogo adalah panglima perang Kerajaan Mataram Islam pada masa kepemimpinan Sultan Agung. Kedatangannya ke Mandar diduga sedang menempuh jalan salikh atau menyepi setelah merasa gagal dalam mengusir penjajah Belanda di Batavia pada 1628-1629,” tulis Jurnal Al-Qalam UIN Alauddin-Makassar.

Ia datang ke Mandar-Sulbar bersama gurunya Sayyid Zakaria, berlabuh dari Gresik langsung ke Pamboang sekitar tahun 1608-1665.
Raja Pamboang saat itu, Mara’dia Pamboang, tertarik dengan gerakan salat yang diperlihatkan keduanya, lalu masuk Islam dan digelari Tomatindo di Agamana. Dari sinilah Islam masuk Pitu Baqbana Binanga, pesisir Mandar, Sulbar, sekarang.
Diapit Pohon Beringin dan Asam Besar
Makamnya di Galung-galung, sederhana, diapit pohon beringin dan asam besar, mirip makam Raja Todilaling yang teduh dan sejuk.
Meski sekarang dilakukan pemangkasan untuk menjaga kondisi makam tetap utuh, peziarah harus menyusuri jalan setapak dari jalan Trans Sulawesi, melewati beberapa perkebunan warga sebelum akhirnya sampai di kompleks pemakaman sejumlah tokoh adat Pamboang. Di sana pulalah makam Raden Suryodilogo dibaringkan.
“Kalau tidak ziarah ke makam Kapuang Jawa (R.M. Surodilogo), rasanya belum afdol pulang Maulid. Anak-anak kami selalu diajari, Islam di sini dibawa orang Jawa,” kata seorang warga Pamboang yang ditemui di lokasi.
“Kuncen di sini bilang, jangan bicara keras di area makam. Banyak yang kesurupan kalau tidak sopan,” tutur juru kunci makam, menirukan larangan yang juga berlaku di makam raja-raja Mandar seperti dicatat Scribd tentang Situs Sejarah Makam Raja Todilaling.
Tradisi Resmi Pemda
Kegiatan ziarah makam ulama memang tradisi resmi Pemda. “Kegiatan ziarah ini merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada para ulama, tokoh penyebar agama Islam,” kata Kadis Pariwisata Sulbar, Bau Akram Dai, saat ziarah makam ulama di Majene, seperti dikutip Garudapos.id.
“Penyebaran Islam dari Pamboang tergolong cepat diterima karena raja permisif, namun perkembangannya lambat karena pengaruh kepercayaan lama,” jelas sejarawan Abd. Shadiq Kawu, peneliti Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar pada Jurnal Al-Qalam Vol. 17 No. 2 Desember 2011. ***
