Mabur.co – Orang tua Yogyakarta zaman dulu sering menyebut listrik sebagai anim saja. Tiang listrik di pinggir jalan mereka sebut “cagak anim” (tiang anim) maksudnya adalah tiang listrik. Demikian pun ketika mereka menyebut hal ihwal lain yang berhubungan dengan kelistrikan zaman itu.
Dilansir dari laman Kemendikbud, Minggu (20/9/2026), babon ANIEM dibangun perusahaan penyedia listrik swasta yang ada di Hindia Belanda.
Sebuah bangunan kecil berbentuk persegi dengan taman di sekelilingnya berdiri di persimpangan jalan kawasan Kotabaru.
Bangunan ini dikenal masyarakat sebagai babon ANIEM atau gardu listrik peninggalan perusahaan listrik kolonial.
ANIEM kepanjangannya adalah Algemene Nederlandsch Indische Electrisch Maatschappij yang dahulu mengatur distribusi listrik di Yogyakarta.
Babon ANIEM Kotabaru merupakan salah satu peninggalan infrastruktur penting dari masa Hindia Belanda yang masih dapat dijumpai di Yogyakarta hingga sekarang.
Gardu Pengatur Sekaligus Pembagi Daya Listrik
Bangunan ini dulu berfungsi sebagai gardu pengatur sekaligus pembagi daya listrik bagi kawasan Kotabaru yang pada awal abad ke-20 menjadi permukiman elit masyarakat Eropa.
Masyarakat Jawa menggunakan sebutan babon ANIEM untuk menyebut bangunan gardu yang berfungsi sebagai salah satu transformasi pendistribusian jaringan listrik di beberapa wilayah Kota Yogyakarta.
Bentuk bangunan gardu listrik kuno di Yogyakarta ini dominan empat persegi panjang, secara keseluruhan dengan dinding terbuat dari batu bata.
Pada 1911, masyarakat Yogyakarta masih menggunakan minyak jarak sebagai bahan bakar penerangan. Kemudian pada akhir abad 19 sampai dengan 1919, Keraton Yogyakarta beralih menggunakan gas sebagai sumber penerangan.
Jaringan Instalasi Kelistrikan
Namun seiring perkembangan di dunia industri, berbagai usaha yang ada di tanah jajahan, dan kepentingan masyarakat, pihak Keraton Yogyakarta (Sultan HB VII) dengan Residen Yogyakarta (Barend Leonardus van Bijlevelt) kemudian mulai mengusahakan adanya jaringan instalasi kelistrikan.
Hingga pada Februari 1914, ANIEM mendapat hak dalam mengusahakan jaringan listrik untuk Kota Yogyakarta yang proses pengerjaan infrastruktur jaringannya memerlukan waktu kira-kira empat tahun.
Daya listrik yang mengalir di Kota Yogyakarta kala itu berasal dari pembangkit yang ada di Tuntang, Semarang. Sehingga ANIEM pun mulai membangun jaringan listrik dari Semarang ke Yogyakarta sejak 1904 dan baru selesai pada 1918.
Pada 1918, ANIEM selesai membangun infrastruktur dasar kelistrikan dan siap beroperasi secara optimal. Pembangunan instalasi yang pertama adalah pembangunan gedung pabrik ANIEM di Wirobrajan.
Kemudian dibangun juga transformator atau babon ANIEM di beberapa daerah di Yogyakarta seperti sekitar Benteng Baluwarti Keraton, Danurejan Malioboro, Pengok, Pingit, Kotabaru, dan Kotagede.
Pada 1919, wilayah Yogyakarta yang teraliri listrik meliputi Njeron Beteng, Malioboro, dan Kotabaru. Di tahun yang sama juga terjadi peningkatan permintaan sambungan listrik di Yogyakarta yang membuat ANIEM memutuskan untuk membangun pembangkit listrik tenaga diesel.
Pembangkit listrik tenaga diesel tersebut selesai dibangun pada 1922, dan akhirnya seluruh wilayah Kota Yogyakarta telah teraliri listrik. Hingga 1939, seluruh wilayah Karesidenan Yogyakarta, mulai dari Pingit hingga Wirobrajan telah teraliri listrik.
Listrik tidak hanya dialirkan untuk wilayah-wilayah permukiman, namun juga untuk kepentingan penerangan jalan umum yang biayanya ditanggung oleh keraton.
Tagihan Listrik Mahal
Saat itu, biaya pengadaan listrik termasuk masih sangat mahal untuk dijangkau masyarakat umum.
Pada 1938 saja, tagihan listrik yang harus dibayarkan setiap bulan untuk dua buah lampu yang masing-masing berukuran 10 watt adalah sebesar ƒ 1,- atau setara dengan harga 15 kg beras pada waktu itu. ***
