Mabur.co – Museum Majapahit di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, mulai dibangun dengan nilai kontrak mencapai Rp145,30 miliar.
Pembangunan museum ini tidak hanya diarahkan sebagai tempat menyimpan dan memamerkan peninggalan Majapahit, namun juga sebagai pusat edukasi sejarah sekaligus penggerak wisata dan ekonomi budaya di Trowulan.
Peletakan batu pertama saat ini telah dilakukan dan pengerjaannya dikerjakan PT PP (Persero) Tbk dengan skema rancang dan bangun. Masa pelaksanaannya ditetapkan selama 114 hari kerja.
Sekretaris Perusahaan PTPP, Joko Raharjo, mengatakan pembangunan museum menjadi bagian penting dalam upaya menjaga warisan budaya Indonesia.
“Museum Majapahit merupakan proyek yang memiliki nilai penting bagi pelestarian warisan budaya Indonesia. PTPP berkomitmen untuk melaksanakan pembangunan dengan memperhatikan karakter kawasan, kualitas konstruksi, serta prinsip keberlanjutan,” kata Joko dilansir Antara, Minggu (20/9/2026).
Dilengkapi Teknologi Interaktif
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengatakan, Museum Majapahit nantinya diharapkan menjadi etalase peradaban Nusantara.
Menurut Fadli, selama ini nama Majapahit kerap dikaitkan dengan kejayaan sejarah Nusantara. Namun, keberadaan museum yang dianggap representatif untuk menggambarkan peradaban tersebut masih perlu diperkuat.
“Kita selalu mengutip Majapahit dan kebesarannya, tetapi museumnya belum ada yang representatif. Atas arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto, kita melakukan revitalisasi istana, keraton, museum dan cagar budaya, di mana Museum Majapahit ini menjadi bagian sangat penting di tahun 2026,” ujar Fadli.
Konsep baru museum juga dirancang agar pengunjung tidak hanya melihat koleksi benda bersejarah. Museum juga akan dilengkapi ruang immersive, teknologi digital serta ruang rekaman sejarah interaktif yang ditujukan untuk memperkenalkan sejarah Majapahit kepada generasi muda dengan pendekatan yang lebih interaktif.
Jika dalam proses pembangunan ditemukan struktur arkeologis baru, struktur tersebut direncanakan tetap dipertahankan dan diintegrasikan sebagai koleksi in situ.
Tetap Memperhatikan Situs Arkeologi
Pembangunan Museum Majapahit memiliki tantangan tersendiri karena berada di kawasan yang kaya peninggalan arkeologi.
PTPP menggunakan fondasi dangkal atau raft foundation yang dirancang untuk mengurangi dampak terhadap kondisi arkeologi di sekitar lokasi pembangunan.
Aspek lingkungan juga menjadi bagian dari rancangan museum. Sistem drainase disiapkan untuk menampung air hujan yang kemudian dapat digunakan kembali, termasuk untuk menyiram tanaman.
Selain itu museum juga direncanakan memanfaatkan panel surya sebagai salah satu sumber energi penerangan.
Fadli mengatakan, konsep tersebut penting agar bangunan museum lebih ramah lingkungan dan biaya pemeliharaannya dapat ditekan dalam jangka panjang.
“Kita harapkan juga environmentally friendly. Jadi harus menyatu juga dengan alam desainnya. Mungkin harus ada juga dipikirkan pakai tenaga surya, solar nantinya, supaya ke depan maintenance tidak terlalu besar,” ujarnya.
Dibangun Terintegrasi dengan Kawasan Wisata Trowulan
Dibangun terintegrasi dengan kawasan wisata Trowulan yang telah memiliki berbagai aktivitas ekonomi masyarakat, museum ini diharapkan tidak hanya menjadi pusat konservasi dan edukasi, tetapi juga mampu menggerakkan ekosistem ekonomi budaya yang berkelanjutan.
“Kita berharap Museum Majapahit ini ke depan bisa menjadi ‘The Grand Museum of Majapahit’, sebuah enclave budaya yang kuat, hidup sebagai living heritage, serta menjadi ikon museum Indonesia di mata masyarakat dunia,” pungkas Zon. ***
