Masjid Syuhada Perpaduan Arsitektur Modern dan Tradisional, Sarat Simbol Perjuangan

4 Min Read
White mosque with a blue central dome and crescent finial, sun flares in the foreground, and visitors around the entrance on a sunny day.
Masjid Syuhada saat ini sudah ditetapkan sebagai Masjid Agung Kota Yogyakarta, sebuah tempat ibadah umat Islam yang sampai saat ini masih sering dikunjungi para wisatawan yang ingin mempelajari sejarah, pendidikan maupun religi. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Siapa yang tak mengenal salah satu masjid yang ada di Kota Yogyakarta dan kental dengan sejarahnya?

Masjid Syuhada saat ini memang sudah ditetapkan sebagai Masjid Agung Kota Yogyakarta. Sebuah tempat ibadah umat Islam yang sampai saat ini masih sering dikunjungi para wisatawan yang ingin mempelajari sejarah, pendidikan maupun religi.

Street view with a white mosque featuring a large silver dome on the right and minarets; traffic includes cars, motorbikes, and a rickshaw in the foreground under a clear blue sky
Masjid Syuhada juga merupakan masjid di Kota Yogyakarta yang awalnya menjadi momentum sejarah para pejuang yang gugur pada peristiwa perlawanan tentara Jepang. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Story Teller Jogja Walking Tour, Lana, menjelaskan, Masjid Syuhada juga merupakan masjid di Kota Yogyakarta yang awalnya menjadi momentum sejarah para pejuang yang gugur pada peristiwa perlawanan tentara Jepang.

Disebut dengan peristiwa pertempuran Kotabaru, jatuh pada 7 Oktober 1945 dengan tokoh misalnya Ahmad Jazuli, Supadi, Sunaryo, Akhmad Zakir, Abubakar Ali, dan lain-lain.

“Untuk menghormati dan mengenang jasa-jasa mereka, berbagai elemen masyarakat Muslim setempat berinisiatif mendirikan masjid. Pada 1950 di kawasan Kotabaru, rencana itu akhirnya terwujud. Berdirilah sebuah tempat ibadah umat Islam yang kemudian dinamakan Masjid Peringatan Syuhada,” ucapnya, Minggu (20/9/2026).

Close-up of a young man wearing a black cap, glasses, and a headset microphone, speaking outdoors in daylight.
Story teller Jogja Walking Tour, Lana. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Lana mengatakan, Masjid Syuhada dibangun di atas lahan pemberian dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Lokasi tanah itu persis di dekat bibir Kali Code, yakni antara Jembatan Kridonggo (Kreteg Kewek) dan Jembatan Gondolayu.

“Masjid Syuhada dirancang terdiri atas tiga lantai. Atap masjid sebagai puncak masjid terdapat kupel (mustoko) besar sebagai kubah masjid. Bagian tengah merupakan ruangan untuk salat dan bagian bawah berupa ruangan yang digunakan sebagai kantor serta perpustakaan masjid,” katanya.

Menurut Lana, peletakan batu pertama pembangunan Masjid Syuhada berlangsung pada 23 September 1950 atau 11 Zulhijjah 1369 H. Itu bertepatan dengan Hari Raya Iduladha.

“Sultan Hamengku Buwono IX yang ketika itu menjabat sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia, turut hadir dalam momen tersebut,” katanya.

Corak Arsitektur Modern Sekaligus Tradisional

Lana menjelaskan, Masjid Syuhada mengadopsi corak arsitektur modern sekaligus tradisional. Struktur bangunan yang berlantai tiga ini, selintas mengingatkan publik pada denah Candi Borobudur, yakni tahapan-tahapan Kamadatu, Rupadatu, dan Arupadatu.

Masjid itu dirancang oleh anggota-anggota panitia pendirian, yang merupakan perwujudan hasil musyawarah mufakat para tokoh. Pembangunan fisiknya ditangani seorang kepala proyek, yaitu Supono.

“Ia bekerja menurut petunjuk seorang penasihat teknik, Ir. R Feenstra dari NV Associate yang berkantor di Jakarta,” ucapnya.

Sarat Simbol

Lana menuturkan pula, Masjid Syuhada sarat simbol-simbol. Umpamanya, jumlah anak tangga pada bagian depan mencapai 17 buah.

Di dekatnya, terdapat delapan segi tiang gapura, empat kupel bawah, serta lima kupel atas. Dengan demikian, semua bagian itu menyiratkan tanggal kelahiran Republik Indonesia, yakni 17-08-45 atau 17 Agustus 1945.

“Pada lantai dasar, terdapat sebuah ruangan kuliah yang dilengkapi dengan 20 jendela. Itu melambangkan peringatan tentang 20 sifat wajib bagi Allah SWT. Lantai dua masjid dijadikan sebagai ruang salat bagi kaum perempuan. Di sana, terdapat dua tiang yang seolah-olah menyangga bangunan. Keduanya menggambarkan dua iktikad manusia. Ada pun lantai tiga masjid ini digunakan sebagai ruang salat utama. Pada bagian mihrab, ada lima lubang angin yang mengilustrasikan jumlah rukun Islam,” ucapnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar