Palembang Kota Maritim Tertua di Indonesia, Disegani Dunia

5 Min Read
Engraved panorama of a walled fortress town along a river, with towers, church, and surrounding landscape.
Gambaran Kota Palembang di masa lalu. (Foto: freeenglishsite.com)

Mabur.co – Hari ini 23 September diperingati sebagai Hari Maritim Nasional. Peringatan ini ditetapkan Presiden Soekarno pada 1964 berdasarkan hasil Musyawarah Nasional Maritim I.

Peringatan ini menjadi momentum untuk mengingat kembali sejarah kehidupan masyarakat Indonesia yang tidak bisa dipisahkan dari budaya maritim sebagai denyut nadi utama. 

Bagaimana tidak, sejak ratusan tahun silam Nusantara dibentuk oleh kota-kota pelabuhan maupun kerajaan maritim wilayah pesisir mulai dari ujung Sumatra, Jawa, hingga Maluku.

Sejarah Kehidupan Maritim

Salah satu kota yang memiliki sejarah panjang sebagai pusat kehidupan maritim adalah Palembang, Sumatra Selatan atau yang dulu lebih dikenal dengan Sriwijaya. 

Jauh sebelum berkembang menjadi kota modern seperti sekarang, Palembang atau Sriwijaya telah tumbuh menjadi pusat maritim di kawasan Asia Tenggara yang dikenal dan dikagumi dunia.

Dilansir situs resmi Pemerintah Kota Palembang, Rabu (23/9/2026), kota ini bahkan telah ada sejak abad ke-7.  Dibuktikan dengan catatan dalam Prasasti Kedukan Bukit tertanggal 16 Juni 682 Masehi. 

Berdasarkan sumber tersebut, pada masa itu penguasa Sriwijaya mendirikan sebuah Wanua atau wilayah yang kini dikenal sebagai Palembang.

Gambaran Palembang pada masa lalu tidak bisa dilepaskan dari kondisi geografis. Kota ini berada di kawasan dataran rendah yang banyak dialiri sungai dan dikelilingi rawa. 

Sungai Musi Jalur Utama

Sungai Musi menjadi jalur air utama yang menghubungkan kota ini dengan berbagai wilayah di sekitarnya.

Kondisi tersebut membuat air bukan sekadar bagian dari bentang alam, tetapi menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat.

Transportasi melalui sungai menjadi pilihan yang lebih mudah dan efisien untuk membawa manusia maupun barang.

Dari kawasan pedalaman, berbagai komoditas dapat dibawa melalui jaringan sungai menuju kawasan Palembang, kemudian diteruskan ke wilayah pesisir dan jalur pelayaran yang lebih luas.

Posisi geografis Palembang juga sangat strategis. Wilayah ini berada di antara kawasan pegunungan Bukit Barisan di bagian barat Sumatra, daerah pertemuan berbagai anak sungai di dataran rendah, serta kawasan pesisir di bagian timur.

Dengan kondisi itu, Palembang menjadi titik pertemuan antara wilayah pedalaman dan kawasan pesisir. Terlebih Palembang juga berada tak jauh dari Selat Malaka yang menjadi jalur utama perdagangan dunia.

Melihat kondisi tersebut, tak heran Sriwijaya kemudian berkembang sebagai kekuatan maritim. Palembang tidak hanya menjadi tempat tinggal masyarakat, tetapi juga berkembang sebagai pusat pertukaran barang, manusia dan kebudayaan.

Dalam sejumlah sumber sejarah, Sriwijaya bahkan digambarkan sebagai sebuah port polity atau kekuatan yang bertumpu pada pelabuhan dan jaringan perdagangan. 

Armada Laut Sriwijaya Sangat Kuat

Catatan asing turut memberikan gambaran mengenai ramainya aktivitas tersebut. Pejabat pelabuhan Cina, Chau Ju-Kua dalam Chu-Fan-Chi menggambarkan Sriwijaya sebagai salah satu negara di kawasan Laut Selatan yang memiliki kendali atas perdagangan melalui selat. 

Catatan tersebut juga menggambarkan bagaimana Sriwijaya dengan armada laut yang sangat kuat mampu menjaga stabilitas kawasan pelabuhan dan jalur perdagangan laut dari berbagai ancaman termasuk perompak.

Sementara itu, catatan para pelaut Arab dan Persia menyebut, kawasan Musi atau Palembang sebagai kota besar. 

Catatan dari pelaut Cina lainnya juga memberikan gambaran kehidupan masyarakat yang dekat dengan air, termasuk permukiman di atas rakit, sementara penguasa tinggal di daratan dalam rumah bertiang.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa sungai bukan sekadar jalur transportasi. Air juga menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat.

Rumah, aktivitas perdagangan, perjalanan, hingga hubungan antara pusat kekuasaan dan masyarakat berkembang mengikuti kondisi lingkungan perairan.

Karena itu, karakter Palembang sebagai kota sungai telah terbentuk sejak masa yang sangat lama.

Nama Palembang sendiri juga memiliki kaitan dengan kondisi geografis tersebut. Dalam penjelasan Pemkot Palembang, unsur “lembang” atau “lembeng” berkaitan dengan kondisi tanah rendah, lembah, atau kawasan yang tergenang air. Dalam bahasa Melayu-Palembang, istilah tersebut juga berkaitan dengan tempat penampungan air.

Karakter perairan inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan Palembang sebagai pusat Sriwijaya.

Pada masa kejayaannya sekitar abad ke-7 hingga ke-9, Sriwijaya berkembang menjadi salah satu kekuatan penting di Asia Tenggara. 

Jejak tersebut menjadikan sejarah Palembang tidak dapat dipisahkan dari sejarah maritim di Nusantara. Meski akhirnya mengalami kemunduran, Sriwijaya tetap menjadi cikal bakal tumbuhnya kota-kota maupun kerajaan maritim lainnya di Nusantara. 

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar