Ketika Singapura Membayar Warga Negara yang Suka Membaca

3 Min Read
Gerakan Singapura Membaca. (Foto: Ilustrasi Satuju)

Di MRT Jurong East jam 7 pagi, semua orang menunduk. Bukan berdoa, tapi scroll. Singapura sadar, warganya masih membaca, tapi tidak lagi membaca buku. Maka pemerintahnya membuat cara yang agak ganjil, membayar orang untuk membaca.

Awal September 2026, National Library Board (NLB) meluncurkan gerakan nasional lima tahun bernama ReadSG.

Aturannya sederhana: baca apa saja minimal 15 menit sehari, catat di platform pemerintah CrowdTaskSG, dapat 20 koin virtual. Koin bisa ditukar uang.

Seperti dicatat Republika, “Singapura rupanya sedang mengajari warganya membaca dengan cara yang agak ganjil: dibayar. Bukan dibayar besar, tentu saja. Untuk membaca sedikitnya 15 menit sehari, warga yang mengikuti ReadSG mendapat 20 koin virtual. Seribu koin bernilai S$1. Jadi, untuk memperoleh satu dolar Singapura, seseorang harus membaca 15 menit selama 50 hari.”

National Reading Month

Program ini diresmikan Presiden Tharman Shanmugaratnam dengan menetapkan September sebagai National Reading Month.

Hadir di peluncuran itu CEO NLB Melissa Tam. Mengapa negara dengan tradisi literasi kuat harus membayar?

Jawabannya ada di data. Laman Depoedu.com mengutip National Reading Habits Study 2024, 89 persen orang dewasa Singapura memang membaca lebih dari sekali seminggu, tapi yang membaca buku hanya 28 persen. Sisanya membaca berita (76%) dan artikel daring (65%).

CEO NLB Melissa Tam menjelaskan, seperti dikutip VIV.co.id dan Depoedu: “Inisiatif ini hadir sebagai respons terhadap perubahan kebiasaan membaca di era digital”.

Menurut Melissa, masyarakat perlu didorong untuk terus membaca dalam format panjang, karena dapat membantu melatih fokus perhatian, pemikiran kritis, imajinasi, serta kemampuan memahami berbagai perspektif.

Tujuan akhirnya bukan 15 menitnya. Ia menegaskan tujuan akhir dari inisiatif ini bukan hanya sekadar membuat masyarakat membaca selama 15 menit setiap hari, tetapi hendak membangun masyarakat yang memiliki rasa ingin tahu dan mampu berpikir secara mendalam.

Desain Kebiasaan Menjadi Budaya

Begitulah Singapura selalu mendesain kebiasaan dan akhirnya menjadi budaya. Dari denda buang permen karet, kampanye Speak Good English, hingga Library@Orchard yang dibuat seperti mall, ReadSG adalah kelanjutannya.

Kalau dulu pemerintah mendenda untuk disiplin fisik, sekarang memberi insentif mikro untuk disiplin atensi.

Seperti ditulis kolumnis Ahmadie Thaha di Republika, Singapura tampaknya memahami satu hal sederhana: kebiasaan membutuhkan desain. Dan koin 20 itu bukan upah.

Melainkan receh yang dilempar ke mesin kebiasaan, agar di tengah algoritma TikTok yang memotong perhatian menjadi 8 detik, masih ada orang yang mau duduk, diam, 15 menit.

Menyelesaikan minimal satu bab bacaan atau setidaknya beberapa halaman sebagai bagian dari membangun kebudayaan yang baik setiap harinya. ***

Share This Article
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar