Candi Kedulan, Jejak Era Kerajaan Mataram Kuno yang Pernah Tertutup Lahar 8 Meter

7 Min Read
Close-up portrait of a woman in a maroon shirt outdoors, with a green fence and houses in the background.
Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Kebudayaan DIY, Eri Budiarto. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co – Menyusuri area di Kabupaten Sleman di daerah Kalasan, ada salah satu candi bercorak agama Hindu.

Baca Juga: https://mabur.co/budaya/candi-gebang-situs-candi-kecil-di-sleman-bergaya-arsitektur-klasik-tua/

Candi Kedulan namanya, yang letaknya tidak jauh dari Candi Kalasan yakni di Desa Tirtomartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman.

Baca Juga: https://mabur.co/budaya/candi-palgading-simpan-jejak-peradaban-kuno-hadirkan-nuansa-arkeologis-autentik/

Nuansa hijau yang menyelimuti candi ini membuat mata terasa nyaman. Meski ketika ingin mendekat ke candi harus menuruni anak tangga. Candi ini dibangun sekitar abad ke-8 dan ke-9 pada saat zaman Kerajaan Mataram Kuno.

Relief Mulut Raksasa

Pamong Budaya Ahli Muda, Balai Pelestarian Kebudayaan DIY, Eri Budiarto, menjelaskan, Candi Kedulan mempunyai hiasan berupa relief mulut kala (raksasa) dengan taring bawah yang ditemukan pertama kali di tengah sawah pada 1993 oleh para pencari pasir yang sedang mengeduk pasir.

Kemudian melaporkan temuan tersebut kepada Balai Pelestarian Cagar Budaya Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Dari hasil rekonstruksi dapat diketahui bahwa Candi Kedulan terdiri dari satu candi induk yang menghadap ke arah timur dengan tiga candi perwara berada di sisi timur candi induk,” ucapnya, Rabu (23/9/2026).

Eri menuturkan, layaknya Candi Hindu pada umumnya, Candi Kedulan memiliki corak-corak dan arca khas Hindu. Seperti Lingga Yoni sebagai perwujudan Dewa Siwa yang terletak di ruang candi induk.

Kemudian ada Arca Nandi atau arca berwujud sapi jantan yang berada di Candi Perwara bagian tengah.

“Jadi memang kalau candi-candi yang besar, kayak Prambanan itu, Dewa Siwa diwujudkan benar-benar berbentuk Arca Dewa. Tapi untuk candi yang lain dan itu malah kebanyakan, justru hanya diwujudkan dalam bentuk lingga yoni, sebagai simbol Dewa Siwa,” urainya.

Cerminan Teknologi Manusia di Masa Lampau

Menurut Eri pula, Candi Kedulan disebut menjadi cerminan teknologi manusia di masa itu. Pasalnya, di dalam candi ada benda berbentuk kotak yang isinya berbagai logam mulia.

Logam-logam itu konon menjadi semacam chip untuk menghubungkan manusia dengan Tuhan saat itu. Kotak itu disebut peripih.

Kotak dari batu atau gerabah yang berisi benda-benda persembahan bagi para dewa. Kotak itu ditanam di dalam candi, di bawah arca.

“Peripih itu kalau orang Jawa mungkin kayak pendeman. Jadi, candi-candi itu memang biasanya di bawah arca. Itu ada kotak peripih di dalamnya. Ada isiannya, kadang batu-batu mulia, kemudian biji-bijian, terus logam ya. Ada kadang emas, perak kayak gitu,” terangnya.

Eri mengatakan lagi, pada masa lalu memang peripih menjadi zat hidup dari arca, arca yang ada di atasnya.

“Arca itu representasi dari dewa,” katanya.

Induk Candi Kedulan Ditemukan pada 1993

Bangunan induk Candi Kedulan sendiri ditemukan pada 24 November 1993 secara tidak sengaja oleh penambang pasir di lahan gersang yang merupakan tanah bengkok di Desa Tirtomartani.

“Candi ini ditemukan terpendam tiga sampai tujuh meter di bawah permukaan tanah. Diduga, candi tertimbun lahar Gunung Merapi yang meletus besar-besaran pada awal abad ke-11,” katanya.

Eri menjelaskan, ada kendala pada saat proses penggalian Candi Kedulan usai ditemukan. Kendala itu muncul karena posisi candi yang terpendam.

Ditambah lingkungan candi lebih rendah dari Sungai Wareng di sekitarnya.

“Jadi, di sana itu kan dari dulu ngembeng, kayak kolam gitu, susah kering gitu. Jadi pada saat pemugaran sama teman-teman sudah diantisipasi, membuat sumur-sumur resapan yang banyak, saluran-saluran air,” paparnya.

Candi Kedulan adalah salah satu bukti peradaban masa lalu Nusantara. Candi Kedulan seakan menjadi mozaik budaya adiluhung peninggalan Mataram Hindu.

“Terkuaknya Candi Kedulan makin menunjukkan adanya pilar-pilar budaya adiluhung Nusantara pada masa lalu. Di sisi lain juga menunjukkan adanya bukti kekuasaan dan kekuatan politik Mataram Hindu,” ucapnya.

Dalam konteks pembangunan peradaban, terkuaknya Candi Kedulan juga menunjukkan wilayah Prambanan sekitar (saat itu) menjadi pusat pemerintahan.

Sebab di wilayah tersebut tersebar candi-candi Hindu dengan pusat perhatian di Candi Prambanan. Ada pun candi-candi Hindu tersebut antara lain kompleks Candi Ijo, Candi Gebang, kompleks Candi Morangan, kompleks Candi Sambisari, terakhir adalah Candi Kedulan.

Jarak antar-candi tersebut relatif dekat, sebab hanya dalam kisaran 5 kilometer antar-candi satu dengan lainnya.

“Banyaknya candi dalam jarak yang tidak terlalu jauh, setidaknya mengindikasikan bahwa wilayah Prambanan (saat itu) menjadi pusat kegiatan sosial, ekonomi, budaya, religi maupun politik. Tidak mustahil juga wilayah tersebut pernah menjadi pusat pemerintahan Mataram Hindu,” katanya.

Di mata Eri, ada hubungan fungsional antara Candi Kedulan dan keberadaan Gunung Merapi. Sebagai gunung yang sangat aktif, selain membawa bahaya, Gunung Merapi juga menyuguhkan kesuburan tanah di wilayah sekitarnya.

“Kondisi demikian yang mendorong masyarakat menjadikan wilayah sekitar Gunung Merapi sebagai pemukiman dan mata pencaharian. Hukum tersebut masih berjalan sampai sekarang,” katanya.

Wilayah-wilayah yang berada di lereng Gunung Merapi dari radius 6 km terlihat padat permukiman. Ada pertimbangan yang bersifat ekologis maupun geomorfologis antara kondisi alam dengan keberadaan masyarakat. 

“Candi Kedulan dibangun sebagai upaya memenuhi kebutuhan spiritual masyarakat maka Candi Kedulan berfungsi sebagai tempat ibadah. Sebagai tempat ibadah, maka membutuhkan pertimbangan lokasi yang matang.

Pertimbangan lokasi bangunan setidaknya harus memenuhi persyaratan tentang kenyamanan, kesakralan, nuansa kedewataan, keamanan, dan kemudahan memperoleh bahan dasar,” ungkapnya.

Kaum Brahmana dalam memilih lahan tempat candi dibuat, memilih lahan antara lain hutan yang lebat, lereng gunung, dekat rangkaian pegunungan, keramat, tenang, dan jauh dari keramaian.

“Tempat-tempat tersebut harus mempertimbangkan nuansa kedewataan dan menyimpan kekuatan dewa yang diyakini, bahkan lokasi tempat kekuatan supernatural senang bersemayam,” ungkap Eri.

Candi Kedulan memang dibangun di lereng Gunung Merapi. Lokasinya berjarak sekitar 15 kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Sekitar 500 meter dari lokasi candi terdapat sungai yang berhulu di puncak Merapi yaitu sungai Wareng.

“Sebagai gunung berapi yang sangat aktif, Gunung Merapi berkali-kali mengalami erupsi. Sejak 1006 M Gunung Merapi meletus dahsyat, sehingga memporak-porandakan peradaban Mataram Kuno. Sangat mungkin, peristiwa tersebut juga berdampak pada Candi Kedulan. Letusan demi letusan, akhirnya mengubur serpihan budaya kerajaan Mataram Hindu tersebut,” kata Eri.

Tertutup Lahar 8 Meter

Menurut Eri lagi, Candi Kedulan pernah tertutup lahar setebal 8 meter yang tersusun atas 15 lapisan sedimen.

Gunung Merapi berkali-kali terjadi letusan yang laharnya mengubur Candi Kedulan sehingga setelah ditemukan memang terdapat 15 lapisan sedimen.

“Kondisi tersebut baru terkuak pada 1993 oleh penambang pasir yang biasa melakukan penggalian dengan masyarakat lain di lokasi Candi Kedulan sekarang. Sejak itu aktivitas penggalian pasir dihentikan. Sejak itu pula misteri Candi Kedulan mulai terkuak,” katanya. ***

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar