Kisah akhir tentang Haji Hammadia atau Hammadiyah atau Ahmadiyah, ia meninggal dunia setelah bolak balik berobat ke Jerman.
PT. Air Baja, perlahan redup. Cukup disayangkan sebab perusahaan besar ini tak meneruskan masa jayanya, padahal ia memiliki jasa besar untuk negara ini. Terang Munir Pustakawan Rumpita Mandar.
Kabar lain menyebutkan, peristiwa Gestapu 1965 berpengaruh besar pada langkah strategis Air Baja termasuk penolakannya untuk mengubah PT. Air Baja menjadi perusahaan plat merah. Kata Khalik anak muda Baruga yang masih memiliki pertalian keluarga.
Belum lagi Haji Hammadia diduga dekat Soekarno dan harus berhenti pasca-kekuasaan Soekarno. Terutama setelah Soekarno berpulang pada 21 Juni 1970, Pukul 05.00 WIB, di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Kenang KH. Ahmad Ma’ruf di masa hidupnya.
Baca juga: Nasib Haji Hammadia dan PT. Air Baja Setelah Tahun Keramat 1965 (Bagian 3)
Di fase inilah para perantauan Mandar, Bugis, dan Makassar yang menjadi karyawan mayoritas PT. Air Baja, kehilangan pekerjaan, kehilangan mata pencaharian untuk menafkahi keluarga di tengah-tengah kerasnya kehidupan Ibu Kota Jakarta.
Akhirnya ratusan bahkan mungkin ribuan eks. karyawan Air Baja itulah yang menyebar ke berbagai pinggiran Jakarta, termasuk ke Kawasan Linking Park yang oleh Kepala Cori diganti menjadi Kawasan Lokasari.
Saat ini daerah tersebut dikenal dengan Kawasan Mangga Besar, Mangga Dua. Sebagian kelompok ini pulalah yang masuk ke kawasan Kalijodo hingga hari ini. Ucap Munir.
Gelombang Besar Migrasi Penduduk
Tentang gelombang besar migrasi penduduk 1950-1960-an di Jakarta, jurnal UGM Menuju Masyarakat Urban: Sejarah Pendatang di Jakarta Pasca-Kemerdekaan (1949-1970) mencatat, orang Bugis, Mandar termasuk di dalamnya dan Makassar, terkonsentrasi di Tanjung Priok, karena profesi pelaut dan nelayan. Jakarta Utara jadi basis. Dari Priok, mereka menyebar ke Penjaringan, termasuk Pejagalan.
Baca juga: Soekarno, PT. Air Baja, Istiqlal, Haji Hammadia, dan Kemiripan Nama Ahmadiyah (Bagian 2)
Tesis Universitas Andalas dan jurnal Undip mencatat hal yang sama, migrasi besar-besaran Bugis-Makassar gelombang awal terjadi pasca-Perang Makassar 1667 (Perjanjian Bongaya) dan kedua kalinya karena DI/TII Kahar Muzakkar 1950-an.
Falsafahnya sompe, berlayar, dan malleke dapureng, merantau mencari penghidupan. Mereka pelaut ulung, dan ketika VOC menghancurkan ekonomi pelabuhan, banyak yang terpaksa jadi bajak laut melawan kapal Belanda, hingga penjaga pelabuhan.
Masuk Kalijodo 1960-1963, media.neliti.com menyebut hal yang sama, pada sekitar 1960 kondisi ekonomi sulit, urbanisasi besar terjadi di Jakarta.
Tahun 1963 bisnis malam di Kalijodo mulai tumbuh. Lahan kosong di bantaran Kanal Banjir Barat yang tidak bertuan jadi lahan rebutan.
Di sinilah tiga kelompok penguasa muncul, seperti ditulis detikNews 2016, yaitu kelompok Bugis, Mandar, dan Banten.
Mereka bukan sekadar warga biasa, tapi jaringan keamanan informal yang menguasai lapak di 3 titik utama Kalijodo.
“Itu kan dari tempat kumpul orang-orang Tionghoa, pelarian preman eks Pasar Senen di zaman Ali Sadikin, pelarian eks lokalisasi Kramat Tunggak, tempat tiga kelompok (Bugis, Mandar, Banten) bersaing mencari penghidupan. Wajah ibu kota lengkap di sana,” kata Wahana, pengamat sosial Jakarta, seperti dikutip Kaskus.co.id.
Gesekan Antar Kelompok
Di kawasan ini, gesekan antar-kelompok sering terjadi. Jurnal Education and Development IP Tapanuli 2019 mencatat, “Adanya kelompok-kelompok tersebut memunculkan gesekan di antara mereka sendiri. Para pekerja menggunakan panah, tombak, atau pun senjata tajam lain. Bahkan, polisi tidak berani masuk ke Kalijodo karena risiko yang terlalu besar.”
Baca juga: Jejak Haji Hammadia, Pemasok Besi Istiqlal dan Monas yang Hilang dalam Sejarah (Bagian 1)
Sampai 2001, Kapolsek Penjaringan, Krishna Murti, memulai penertiban kriminalitas di kawasan ini. Tapi struktur ekonomi tetap: orang Bugis biasanya kuasai pengamanan dan bos kafe besar (seperti Daeng Aziz, nama Bugis Makassar yang paling terkenal sebagai pemilik besar Kalijodo sebelum digusur), orang Mandar banyak jadi penjaga perahu dan penjualan ikan di Angke yang kemudian jadi penjaga parkir dan penagih, orang Banten jaringan jawara. Mandar sendiri datang menyusul kemudian.
Pada mulanya di era kolonial, orang Mandar dari Sulawesi Barat memang pelaut ulung, tapi masih lebih kecil jaringannya saat itu. Mereka ikut ke Jakarta via Sunda Kelapa sebagai ABK pinisi, lalu tinggal di Muara Angke.
Karena sesama pelaut, mereka gabung di bawah payung Bugis. Saat penggusuran 2016, data Kecamatan Penjaringan mencatat 3.052 jiwa di Kalijodo, 1.340 KK.
Mayoritas bukan warga DKI, banyak dari Jawa Barat, Banten, Jatim, Jateng, juga Sulawesi. Mereka bahkan ditawari pulang kampung gratis oleh Walikota Jakarta Utara, Rustam Effendi, tapi mereka tetap bertahan.
Jadi mitos Kalijodo sebagai “Kali Jodoh Tionghoa” hanya setengah cerita. Separuh lainnya adalah kisah passompe, orang Bugis-Makassar-Mandar yang berlayar jauh meninggalkan kampung halaman, bertaruh nyawa menghadapi badai lautan dan kehidupan. Merekalah pelayar-pelayar tangguh yang sesungguhnya. ***
