Mabur.co – Tahun ini, kekeringan tidak datang sebagai musim. Ia datang sebagai tamu yang lupa pulang. Di Moyudan, Sleman, di Kali Progo yang biasanya coklat keruh jadi putih pasir. Anak-anak main bola di delta sungai.
Di tempat lain lebih parah di Mamasa Sulawesi Barat, misalnya.
“Musim kemarau mulai memberi dampak serius terhadap pertanian warga di wilayah Rano, Desa Mehalaan Barat, Kecamatan Mehalaan. Lahan persawahan seluas sekitar delapan hektare yang menjadi salah satu tumpuan hidup petani, kini mulai mengalami kekeringan,” tulis SulbarUpdate, 1 Oktober 2026.
Kekeringan di Pegunungan Mamasa
Ketua Kelompok Tani Rano Indah, Rusani, bilang: “Kami khawatir dengan kondisi ini. Kalau kemarau terus berlangsung dan tidak ada air, padi kami terancam gagal panen.” Itu di Mamasa.
Di Bandung Barat, tanah sawah “mengeras menyerupai batu”. Di Grobogan, 43 desa di 12 kecamatan krisis air bersih. Di Kalsel, 6.691 hektare lahan kekeringan, 275 kg benih puso.
BMKG sudah ingatkan jauh hari. El Nino 2026 sangat kuat.
“Kekeringan ini perlu disikapi dengan bijak oleh semua warga negara karena ini juga bisa mengganggu produksi pertanian, menurunkan ketersediaan air bersih, meningkatkan risiko kebakaran, hingga ancaman terhadap ketahanan pangan serta kesehatan masyarakat,” kata Plt Kepala Pusat Data BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers, 16 September 2026 lalu, dikutip Astakom.
Waktu itu, BNPB paparkan, siapkan empat strategi; cadangan air, distribusi, pompanisasi, embung. Sementara Guru Besar IPB, Dwi Andreas Santosa, bilang dampaknya riil.
“Ada potensi terjadi penurunan produksi di beberapa komoditas pangan. Menurut saya, terjadi penurunan produksi kira-kira ya ini sekitar 3-5% untuk padi. Selain itu, jagung kemungkinan juga akan menurun, karena jagung juga perlu air,” tulis Validnews.id.
Dewi Sri sedang Mengeringkan Dirinya
Kepercayaan di Jawa punya penjelasan lain. Ketika Dewi Sri – dewi padi – marah, ia tidak pergi. Ia mengeringkan diri.
Ia jadi retakan, maka petani di Gunungkidul masih melakukan ritual “ngobeng” mengelilingi sawah kering sambil membawa air dari tujuh mata air, memanggil Sri kembali.
Mereka percaya kekeringan bukan kurang hujan, tapi lupa sesajen. Tapi sains bilang: IOD positif + El Nino kuat hingga awal 2027.
Puncak Agustus-September 2026, 81% wilayah Indonesia peringatan Awas Kekeringan.
Di Jember, Asosiasi Petani Pangan Indonesia (APPI) catat cabai naik Rp40 ribu karena kekurangan air.
Ketua APPI, Jumantoro, menyampaikan, “Banyak tanaman jagung yang kekurangan air, sedangkan tanaman hortikultura seperti cabai juga mengalami kerusakan akibat kekeringan.”
Kekeringan di Indonesia tidak pernah adil. Yang punya sumur bor dalam 100 meter masih bisa mandi. Yang tadah hujan harus beli air Rp150 ribu per tangki.
Seperti baris terakhir novel Kubah karya Ahmad Tohari: “Kemarau adalah waktu Tuhan menguji apakah manusia masih mau berbagi air.” Tahun ini ujiannya panjang.
