Mabur.co – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Kelas II Yogyakarta menyatakan seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) berada dalam status awas peringatan dini kekeringan meteorologis.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Yogyakarta, Dr. Mamenun, S.Si., M.Si, menjelaskan, peringatan dini kekeringan meteorologis DIY pada Dasarian II Oktober 2026 berada dalam status Awas di seluruh wilayah DIY.
Kondisi tersebut berdasarkan pengamatan gejala fisis dan data dinamika atmosfer-laut terkini menunjukkan angin di wilayah Indonesia bagian selatan ekuator bertiup dari timur mengindikasikan Monsun Australia aktif.
Kemudian Indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) dalam fase sangat kuat, sehingga fenomena El Nino berpeluang terjadi hingga awal 2027, Dipole Mode Indeks (DMI) berada dalam fase positif dan berpeluang terjadi sampai awal 2027, Madden Julian Oscillation (MJO) diprediksi tidak aktif di wilayah Indonesia.
“Analisis anomali suhu muka air laut di perairan selatan DIY antara -0.5 sampai dengan +0.5 derajat Celsius atau kategori netral, dengan suhu berkisar antara 26 sampai 30 derajat Celsius,” katanya, Selasa (13/10/2026).
Waspadai Kekeringan Meteorologis
Mamenun, mengatakan, atas kondisi cuaca tersebut, BMKG mengimbau kepada pemerintah daerah, institusi terkait dan seluruh masyarakat, untuk meningkatkan kewaspadaan kekeringan meteorologis.
“Tetap waspada terhadap kekeringan, kebakaran hutan atas lahan, dan kondisi kualitas udara yang buruk akibat mundurnya awal musim hujan,” katanya.
BMKG juga mengimbau seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan pada masa peralihan atau akhir musim kemarau yang ditandai dengan cuaca ekstrem, seperti hujan lebat, petir, angin kencang, puting beliung, dan hujan es.
“Lakukan langkah mitigasi antara lain membersihkan saluran air, memangkas dahan pohon yang berisiko tumbang, serta memastikan struktur bangunan dan baliho dalam kondisi kuat guna mengurangi potensi dampak cuaca ekstrem selama masa peralihan musim,” katanya.
Lindungi Sumber Air yang Masih Tersedia
Sementara itu, pakar hidrologi UGM, Prof. Agus Maryono, mengatakan langkah yang dapat dilakukan di saat kekeringan melanda antara lain mencari dan melindungi sumber air yang masih tersedia, termasuk mata air yang debitnya kecil.
Agus menilai sumber air sekecil apa pun tetap memiliki arti bagi masyarakat yang menghadapi kekeringan.
“Mata air itu, meskipun kecil, satu liter saja berarti untuk seribu orang. Kalau seperempat liter, berarti 250 orang bisa selamat dari itu,” ujarnya, Selasa (13/10/2026).

Agus Maryono, mengatakan, untuk kondisi sungai yang telah mengering, masyarakat dapat mencari kembali sumber air yang masih tersimpan di bawah aliran sungai.
Agus menyebut pengerukan pada bagian tertentu dan pembuatan sumur-sumur kecil dapat dilakukan agar air yang masih berada di bawah permukaan dapat dimanfaatkan hingga hujan kembali turun.
“Sungai-sungai yang mengering itu coba dikeruk. Dibuat sumuran kecil. Itu airnya masih ada di sungai itu. Di bawah sungai itu air ada,” jelasnya.
Hidupkan Embung yang Mati, Lakukan Reboisasi
Upaya menghadapi kekeringan juga perlu dilakukan pada sisi hulu dan sumber air. Agus mendorong masyarakat untuk menghidupkan kembali embung yang telah mati, melakukan reboisasi, serta memasukkan air hujan ke dalam tanah melalui sumur-sumur yang tidak lagi digunakan.
Menurutnya, langkah tersebut perlu dilakukan secara lebih luas dan tidak hanya menunggu program pemerintah.
“Saya mendorong adanya program bersama yang berbasis masyarakat untuk menghadapi kekeringan saat ini sekaligus mengantisipasi kemarau berikutnya. Kondisi cuaca ke depan tidak dapat dipastikan sehingga ketahanan air perlu dibangun sejak sekarang. Kita harus membuat program bersama-sama masyarakat, serentak, program serentak berbasis masyarakat, menyelesaikan masalah kemarau sekarang dan untuk kemarau yang akan datang,” ujarnya.
Oleh sebab itu pula, pengelolaan air perlu bersifat preventif. Air hujan pada musim penghujan perlu dipersiapkan sebagai cadangan untuk menghadapi musim kemarau.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari perubahan cara pandang terhadap sungai, bukan hanya menangani persoalan ketika air sudah habis, tetapi membangun sistem agar air tetap tersedia.
“Untuk air itu preventif. Memikirkan air hujan, musim hujan untuk musim kemarau,” ujarnya.
Gerakan Restorasi Sungai
Gerakan restorasi sungai yang dimulai dari Yogyakarta pada 2014 berkembang dari satu hingga dua komunitas menjadi lebih dari 2.500 komunitas di berbagai wilayah Indonesia.
“Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pemulihan sungai dapat tumbuh menjadi gerakan masyarakat ketika kepedulian terhadap lingkungan dibangun melalui pengetahuan, kebersamaan, dan keberlanjutan,” ucapnya.
Rasa cinta dan peduli terhadap sungai menjadi titik awal terbentuknya gerakan. Ketika masyarakat mulai merasa memiliki dan peduli terhadap kondisi sungai, kepedulian tersebut dapat berkembang menjadi kebersamaan, semangat, dan motivasi untuk melakukan perubahan.
“Kalau itu kita tumbuhkan, maka kita akan bisa mengembalikan semua itu menjadi bersih lagi. Kemudian kebersamaan, kemudian spirit dan motivasinya muncul,” katanya.
Gerakan restorasi sungai membutuhkan masyarakat yang memiliki rasa cinta terhadap sungai dan kemauan untuk bergerak bersama.
Agus menekankan bahwa gerakan itu tidak cukup hanya mengandalkan semangat dan tenaga masyarakat.
Pengetahuan diperlukan agar gerakan mampu memahami persoalan sungai secara lebih menyeluruh.
“Gerakan itu tidak hanya semangat, tapi ilmu. Tidak hanya otot, tapi ilmunya harus diisi,” ujarnya. ***
