Mabur.co –Siapa bilang sebuah karya seni atau desain produk selalu dilahirkan dari kebebasan yang luas? Sebab tak jarang hal itu justru kerap lahir dari pertemuan antara gagasan, imajinasi, serta keterbatasan.
Hal itulah yang menjadi poin utama dalam pameran seni desain produk bertajuk “RESILIENCE” (Primo Temporis #4) yang digelar Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Yogyakarta di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta.
Digelar pada 12–16 Oktober 2026, pameran ini menampilkan puluhan karya mahasiswa FSRD ISI Yogyakarta dengan memanfaatkan berbagai material sederhana yang banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Barang-barang seperti batu, pasir, baju atau kain bekas, mainan anak, hingga ranting kayu dan sebagainya justru mampu dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai karya seni rupa maupun desain yang menarik.
Bahkan lewat karyanya sejumlah mahasiswa mampu menyampaikan pesan yang kuat terhadap berbagai persoalan yang tengah dihadapi masyarakat saat ini.
Isu Aktual
Seperti isu kebakaran hutan, dampak aktivitas pertambangan, hingga isu keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Salah satu karya yang mengangkat persoalan lingkungan adalah Suar Sunyi karya Carmen Ghia Anindya. Karya ini menyuarakan isu kebakaran hutan, dengan memanfaatkan barang sederhana seperti ranting kering, pasir hingga mainan anak.
Kritik terhadap aktivitas pertambangan juga hadir lewat Amdal Amdalan karya Irena Dhian Anggraeny. Sang kreator mencoba membahas analisis dampak lingkungan (AMDAL) lagi-lagi dengan material sederhana.
Sementara itu, isu keracunan dalam program MBG juga turut diangkat Amanda Mutia Ramadhani melalui karya berjudul Tak Layak tapi Disajikan. Karya ini membawa perhatian pada persoalan kelayakan makanan yang disajikan kepada masyarakat.

Kurator pameran, Eunike Permatasari, menjelaskan bahwa masyarakat sering kali hanya melihat sebuah benda ketika sudah selesai dibuat. Padahal, ada proses panjang yang harus dilalui sebelum sebuah karya mencapai bentuk akhirnya.
Menurut Eunike, bagi para desainer, proses merancang merupakan seni berdamai dengan berbagai batasan. Dikatakan desain tidak selalu lahir dari kebebasan tanpa hambatan, melainkan dari negosiasi antara imajinasi, tuntutan klien, keterbatasan anggaran, dan karakter material.
Keterbatasan Bukan Penghalang
Melalui pameran ini, pengunjung diajak melihat bagaimana para desainer memperlakukan keterbatasan bukan semata-mata sebagai penghalang, melainkan sebagai bagian dari proses kreatif.
Setiap lekuk, sambungan, dan pilihan material dalam sebuah karya tidak hanya menunjukkan keindahan hasil akhir, tetapi juga merepresentasikan proses berpikir dan pengambilan keputusan yang menyertainya.
Eunike menggambarkan proses tersebut sebagai upaya mengubah kebuntuan menjadi bahasa desain baru. Keterbatasan justru dapat mendorong desainer menemukan bentuk dan makna yang sebelumnya tidak terpikirkan.
“Mereka tidak menghindari hambatan, mereka mendekapnya,” tulis Eunike dalam pengantar kuratorialnya.
Lebih jauh, ia memandang pameran ini sebagai refleksi bagi kehidupan sehari-hari. Setiap orang, menurutnya, juga terus bernegosiasi dengan waktu, kondisi fisik, dan keadaan yang tidak selalu ideal.
Dalam konteks itu, batasan tidak harus dipandang sebagai akhir dari sebuah perjalanan. Sebaliknya, keterbatasan dapat menjadi bagian penting untuk membentuk kemungkinan baru.
Melalui pameran “RESILIENCE” ini pengunjung pun tidak hanya diajak menikmati hasil akhir sebuah karya, tetapi juga mampu memahami setiap proses, pertimbangan, hingga pesan yang melatarbelakangi.
