Mabur.co – Guna mendekatkan museum dengan masyarakat sekaligus memperkuat fungsi sebagai tempat belajar, mengenal sejarah, dan memahami warisan budaya, maka perlu ada banyak kegiatan.
Museum pun tidak hanya dipandang sebagai tempat menyimpan benda bersejarah, tetapi juga sebagai ruang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman.
Oleh sebab itu pula, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menggelar pameran Trinetra di Museum Dr. YAP, Kota Yogyakarta, mengusung tema Lensa Mata, Mata Hati, Mata Angin. Pameran yang digelar pada 13–17 Oktober 2026 ini berlangsung di Selasar Museum Dr. Yap Prawirohusodo, Yogyakarta.
Tiga Mata Dewa Siwa
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menuturkan, tema Trinetra: Lensa Mata, Mata Hati, Mata Angin mengangkat filosofi tiga mata Dewa Siwa sebagai ajakan untuk melihat dunia secara lebih utuh.
“Melalui tiga zona pameran, pengunjung akan diajak menelusuri perkembangan ilmu dan praktik medis, memahami peran pendidikan dan budi pekerti dalam membebaskan pikiran, serta membaca arah perubahan zaman. Juga pentingnya menjaga kedaulatan bangsa,” katanya, Rabu (14/10/2026).

Yetti Martanti mengatakan, Trinetra merupakan proyek akhir dari program Museum Youth Internship 2026 yang diinisiasi untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa magang dalam mengelola museum.
“Ini merupakan sebuah program yang memang kami inisiasi dari Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta untuk memberikan kesempatan kepada generasi muda, khususnya mahasiswa, belajar langsung di beberapa museum,” ujarnya.
Yetti Martanti menuturkan, program ini menjadi upaya untuk mengoptimalkan potensi museum, termasuk dalam memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan sejarah dan budaya.
Keterlibatan mahasiswa diharapkan mampu menghadirkan gagasan dan ide segar agar museum semakin dikenal dan menarik untuk dikunjungi.
“Melalui pameran ini, museum diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga ruang belajar yang relevan dengan kehidupan masyarakat masa kini,” ucapnya.
Peralatan Medis Lawas
Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Dr. Yap, Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GPBH) H. Prabukusumo menjelaskan tentang pentingnya merawat peralatan medis lawas sebagai bagian dari sejarah perkembangan ilmu kesehatan mata.
Koleksi tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi saat ini, termasuk tenaga medis muda, untuk memahami sejarah perjalanan teknologi kedokteran.
“Alat-alat yang lama sudah tidak digunakan, kita pelihara, kita rawat ini supaya dokter-dokter koas di sini juga bisa melihat bahwa peralatan-peralatan seperti itu zaman dulu,” ujarnya.
