Mabur.co – Rabu malam, 15 Oktober 2026, Alun-alun Wates padam. Listrik dimatikan sengaja. Di tengah gelap, Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X menyulut satu obor.
Cahaya itu lalu merambat. Estafet dari tangan Sultan ke panewu, ke lurah, ke 7.500 warga yang membawa obor. Ribuan titik api menyala serentak.
Di panggung, 75 sinden melantun, 750 penari bergerak, bendera 75 meter dibentangkan. Di sinilah yang disebut warga sebagai tangisan HB X terjadi. Bukan tangis keras.
Mata Raja Yogya itu berkaca-kaca saat melihat lautan api dan lantunan Indonesia Pusaka oleh dua penyanyi Cilik Kulon Progo. Inilah kabupaten paling barat Yogya. Kulon Progo yang dulu dianggap wingking atau belakang, tertinggal, kini menyala.
Lahir dari Laku Prihatin
Kulon Progo memang lahir dari laku prihatin. Resmi 15 Oktober 1951, gabungan Kulon Progo Kesultanan dan Adikarto Pakualaman.
Nama Kulon Progo artinya barat Sungai Progo. Wilayah Menoreh yang terjal, Pantai Glagah yang dulu hanya pasir besi.
Pemkab memberi tema tahun ini: “Nggugah Budaya Menoreh-Nyawiji Anjayeng Bawana”. Bersatu padu dalam semesta.
“Api yang bisa kita tata dan kita kendalikan itu adalah spirit. Kalau api membakar diri, itu yang tidak bersemangat. Maknanya jelas, untuk membakar semangat agar kita semua lebih fokus,” kata Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, dikutip jogjakini.com tentang filosofi 7.500 obor itu.
Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan), Joko Mursito, menambahkan: “Inspirasi utamanya adalah Api di Bukit Menoreh. Api di sini bukan sekadar kobaran fisik, melainkan simbol bara semangat masyarakat Kulon Progo dalam menghadapi dinamika dan tantangan zaman,” ujarnya, juga dikutip jogjakini.com. Api di Bukit Menoreh bukan judul sembarang. Itu adalah roman kolosal karya SH Mintardja, 400 jilid, tentang Arya Salaka melawan kekuasaan Pajang.
Kulon Progo Butuh Nyala yang Dijaga
Dalam mitos lokal, Api di Bukit Menoreh adalah api kiai, penanda perlawanan. Dari api itu lahir Nagari Pengasih. Maka ketika Ketua DPRD Kulon Progo, Aris Syarifuddin, mengkritik obor dan mengusulkan 75 kendi air di tengah kemarau 161 hari tanpa hujan, perdebatan itu justru Jawa sekali: api vs air.
“Air adalah simbol kemakmuran dan kehidupan, sejalan dengan semangat nyawiji, sekaligus menjadi doa bersama agar kemarau segera berlalu,” kata Aris, dikutip prolimannews.id.
Sementara Sultan HB X hanya diam memandangi lautan obor. Di usia 80 tahun lebih, ia tahu persis: Kulon Progo tidak butuh tangisan. Ia butuh nyala yang dijaga.
Seperti kata penyair Sindhunata dalam Anak Bajang Menggiring Angin: “Api yang kecil akan menjadi besar jika dijaga bersama.”
Malam itu, Menoreh menyala. ***
