Musim Kemarau, Kelompok Belajar Setyarini Sedayu Gali Ilmu ke Basarnas

3 Min Read
A safety demonstration for young children: left shows kids gathered around two instructors in orange uniforms; right shows kids wearing helmets seated in an orange inflatable raft with an instructor.
Sambutan Kepala KB Setyarini, Ika Verayanti, S.E (kiri), dan anak-anak yang sedang dikenalkan perahu rescue. (Foto: KB Setyarini)

Mabur.co – Pagi di Kantor Basarnas Yogyakarta. Puluhan anak Kelompok Belajar (KB) Setyarini, Pedes, Argomulyo, Sedayu, Bantul, yang rata-rata berumur 3-4 tahun, turun dari mobil jemputan, sebagian dengan jilbab kecil dan topi yang lucu-lucu.

Di depan mereka bukan perosotan, tapi perahu karet oranye, helm, dan peluit. Ini outdoor learning mereka minggu ini.

“Maksud diadakannya kunjungan outdoor anak KB Setyarini ke Basarnas adalah sebagai kegiatan pembelajaran luar kelas untuk mengenalkan tugas kemanusiaan Basarnas dalam pencarian dan pertolongan. Serta menanamkan pendidikan keselamatan diri dan mitigasi bencana sederhana kepada anak usia dini,” kata Ika Verayanti, S.E, Kepala KB Setyarini, Jumat (16/10/2026).

Poin kedua, lanjut Ika, “Pengenalan profesi kepada anak, siapa itu Tim Basarnas, tugasnya seperti apa, seragamnya, peralatan yang dipakai saat bertugas.”

Anak-anak pun diajak naik truk personel, mencoba pelampung, mendengar sirine.

Posisi Basarnas Saat Musim Kemarau

Group of young students in green uniforms listening to a rescue demo beside orange Basarnas emergency vehicles under a covered area.
Tim BASARNAS mengenalkan berbagai peralatan rescue kepada anak-anak KB Setyarini (Foto: KB Setyarini)

Seorang petugas Basarnas Yogyakarta yang mendampingi menjelaskan, hubungan dengan musim kemarau seperti sekarang ini bukan berarti Basarnas diam.

“Kalau dari BASARNAS sendiri, sebenarnya di musim kemarau atau kekeringan seperti sekarang, tugas utama kami tetap pada pencarian dan pertolongan. Ketika ada masyarakat yang mengalami kondisi membahayakan atau membutuhkan evakuasi. Nah, untuk anak-anak PAUD, yang paling penting justru bagaimana kita mengenalkan sejak dini tentang keselamatan dan kesiapsiagaan,” tuturnya.

Penting untuk Eling lan Waspada

Anak-anak juga diajarkan untuk tidak bermain di tempat yang berbahaya, tidak pergi sendirian tanpa sepengetahuan orang tua atau guru, dan kalau melihat atau mengalami keadaan darurat, segera meminta bantuan kepada orang dewasa.

Petugas kembali menekankan, “BASARNAS tidak hanya hadir ketika terjadi musibah, tapi kami juga punya peran untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, termasuk anak-anak, supaya sejak kecil mereka sudah tahu bagaimana menjaga keselamatan diri dan bagaimana meminta pertolongan ketika menghadapi keadaan darurat”.

Di Kulon Progo, Moyudan berbatasan langsung dengan Selokan Mataram, saluran yang dibangun HB IX pada 1944 untuk mencegah romusha. Sebenarnya air itu kini juga bisa dijadikan lokasi latihan SAR air.

Anak-anak yang hari ini belajar memakai pelampung, kelak mungkin menolong tetangga hanyut. Ada filosofi Jawa: eling lan waspada. Ingat dan waspada.

Di PAUD atau di KB Setyarini misalnya, semua itu diajarkan lewat bermain: jangan ke sumur, jangan ke selokan sendirian.

Ini seperti ada di bait Puisi Sapardi Djoko Damono: “Pada suatu hari nanti, tubuhku tak ada lagi, tapi dalam bait-bait sajak ini kau tetap akan kucari.”

Petugas SAR tahu, tubuhnya mungkin tak ada saat bencana. Tapi pengetahuan anak kecil hari ini akan tetap tinggal menjadi penyelamat masa depan. ***

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar