Mabur.co – Hari ini, 76 tahun silam, bangsa Indonesia kehilangan sosok legenda pejuang besar bernama Jenderal Sudirman atau akrab pula dipanggil Pak Dirman. Ia meninggal di usia masih sangat muda akibat penyakit TBC di usia 34 tahun.
Pak Dirman, sapaan akrabnya, dikenal sebagai panglima TNI pertama sekaligus jenderal termuda sepanjang sejarah Indonesia. Jasanya yang luar biasa besar bagi bangsa dan negara, membuatnya begitu disegani dan dihormati hingga saat ini.
Tak hanya diabadikan sebagai nama jalan-jalan protokol di kota-kota besar di Indonesia, nama Jenderal Sudirman juga diabadikan sebagai nama universitas, bandar udara, hingga fotonya dipasang di uang kertas maupun uang logam.
Entah sudah berapa banyak patung Pak Dirman dibuat dan menghiasai halaman depan markas-markas militer hingga berbagai monumen di berbagai daerah di Indonesia.
Lahir di Purbalingga pada 24 Januari 1916, Pak Dirman dikenal sebagai sosok pemimpin militer yang sangat sederhana dan religius.
Meski begitu, ia juga dikenal sebagai seorang ahli militer serta penyusun strategi perang ulung yang pantang menyerah dan disegani musuh.
Tak hanya disebut sebagai titisan dari Pangeran Diponegoro, sosok Pak Dirman juga kerap disejajarkan dengan sejumlah tokoh dunia lainnya seperti Mao Zedong hingga Che Guevara, yang terkenal dengan perjuangannya menggunakan strategi perang gerilya.
Namun meski sering dielu-elukan sebagai sosok pahlawan besar yang harus dicontoh dan diteladani, saat ini rasanya sangat sulit menemukan sosok pejabat atau petinggi negara yang memiliki sikap dan kepribadian seperti Pak Dirman.
Sikap hidup Pak Dirman yang sangat religius, sederhana dan merakyat, jelas tak nampak pada perilaku para pejabat maupun jenderal-jenderal kita saat ini yang hidup penuh dengan kemewahan dan selalu pamer kekuasaan.
Alih-alih berjuang dan mengorbankan jiwa dan hartanya demi bangsa dan negara, banyak pejabat kita saat ini justru hidup penuh kerakusan dengan sibuk memperkaya diri dan mempertahankan posisi maupun jabatannya masing-masing.
Di tataran masyarakat sendiri, rasa-rasanya juga tak banyak yang benar-benar mengetahui atau peduli terhadap siapa dan seperti apa Pak Dirman. Namanya memang banyak muncul di buku-buku pelajaran sekolah, namun seolah semakin dilupakan dan ditinggalkan di hati dan perilaku masyarakat Indonesia.
Meski begitu, di tengah minimnya sosok seperti Pak Dirman yang dimiliki Indonesia saat ini, tetap selalu ada harapan akan lahirnya Sudirman-Sudirman baru di tengah-tengah kehidupan bangsa ini.
Dan mungkin saja, saat ini mereka sudah ada dan sedang berjuang, bergerilya dengan caranya masing-masing, di tengah belantara hutan alam demokrasi, untuk melawan musuh-musuh bangsa dan negara ini.
Semoga kita termasuk di antaranya. ***



