70 Tahun Prof. Suminto A Sayuti dan Ingatan tentang Simplifikasi Karya Sastra

4 Min Read
YouTube video page showing a history video about William Shakespeare for kids, with a medieval building in the paused video and the dark YouTube UI on screen.
Biography of William Shakespeare for Kids: Famous Writers for Children Free School. (Ilustrasi dari YouTube)

Hari ini, 26 Oktober 2026, Prof. Suminto A Sayuti, guru besar sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta, yang karib disapa Pak Minto itu, merayakan ulang tahun yang ke-70.

Pastilah dunia sastra Yogyakarta dan dunia sastra seantero Indonesia banyak berutang budi dan mengenang Pak Minto sebagai kenangan tersendiri.

Terkhusus pula bagi saya. Meskipun saya sangat jarang berinteraksi dengan Pak Minto namun atas kiprahnya di dunia sastra Indonesia, terasa kehadirannya yang mencerahkan.

Salah satu ingatan yang cukup berkesan bagi saya mengenai Pak Minto ketika beberapa tahun lalu saya mengikuti finalisasi program penulisan alih wahana cerpen ke bentuk audio yang diselenggarakan Balai Pengembangan Media Radio, Pendidikan, dan Kebudayaan (BPMRPK) Yogyakarta.

Waktu itu acaranya di sebuah hotel di Solo. Sesi pertemuan tinggal menunggu Pak Minto saja di hari terakhir. Menunggu ACC tanda tangannya.

Saat Pak Minto datang pastilah acara penandatanganan berkas hanya sebentar. Pak Minto pun datang dan pergi dengan cepat. Tentu saja setelah menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan para penulis program alih wahana karya sastra itu.

Sebagai orang yang kuper, baru saat itu saya mendengar penjelasan Pak Minto mengenai simplifikasi karya sastra Barat.

Menurut Pak Minto, karya sastra di luar negeri sudah biasa mengalami simplifikasi. Misalnya karya pemenang nobel kemudian tersimplifikasi menjadi bisa dikonsumsi untuk anak-anak, ibu-ibu rumah tangga, dan kelas sosial lain.

Lebih detail, misalnya, karya pemenang nobel sastra asal Jepang, Kenzaburo Oe, menjadi tersosialisasi dalam bentuk Kenzaburo Oe for Kids, bisa dikonsumsi untuk anak-anak.

Pastilah ini merupakan tantangan alih wahana. Logikanya bagaimana meringkas pemahaman karya Kenzaburo Oe sehingga berperspektif anak-anak?

Ternyata di luar negeri sudah biasa dan rupanya tidak menemui kendala. Sampai di sini saya cukup penasaran juga, karena hingga tulisan ini dibuat, yang berarti sudah lebih dari lima tahun informasi itu saya dapat dari Pak Minto, tradisi simplifikasi karya sastra Indonesia seperti itu, belum pernah atau memang jarang dilakukan.

Kalau bisa dilakukan ini merupakan program terobosan yang menarik untuk dapat diterapkan di Indonesia. Menjadi sangat mungkin bahwa anak-anak pun bisa mengerti karya Umar Kayam, Linus Suryadi, dan sastrawan lainnya. Bahkan karya puisi Pak Minto sendiri yang pekat dengan budaya Jawa itu, menjadi bisa dipahami anak-anak.

Saya bayangkan biaya produksinya juga tidak mahal karena bisa diakses di perangkat digital. Tentu saja ini terpulang kepada kita semua, apakah kita akan menyelamatkan anak-anak menjadi melek karya sastra dan tokoh-tokohnya sejak dini?

Jika Anda para pembaca yang budiman pernah tahu proyek simplikasi karya sastra untuk berbagai usia ini pernah dilakukan di Indonesia, bisa hubungi saya. Untuk memberikan akses link.

Beberapa cerita tokoh kepahlawanan di Indonesia memang sudah pernah saya temukan menjadi cerita komik visual atau kartun visual. Namun untuk tokoh karya sastra dan karyanya saya belum pernah menemukan.

Terima kasih, Pak Minto, meskipun mungkin baru sekadar gagasan, informasi soal simplikasi karya sastra itu sungguh menarik.

Di tengah era post truth kini dan era AI yang kian menjauhkan generasi anak-anak kita dari substansi karya sastra para pendahulu. Sebuah gagasan yang substantif untuk mendekatkan karya sastra pada berbagai usia. ***

Share This Article
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar