Oktober Bulan Teater Eska: Kincir Ria, Siklus Lupa, dan Gelak Tawa

3 Min Read
Live stage stunt show with performers on a tall ladder and curved bridge rig, blue lighting, and a yellow inflatable prop on stage; KABAR KAMPUS caption bottom left.
Pentas Kincir Ria, Siklus Lupa & Gelak Tawa, Teater Eska di Concert Hall TBY. (Foto: Arena)

Mabur.co – Oktober di Gelanggang Teater Eska Yogyakarta selalu bau cat panggung. Bukan karena Festival Kesenian sedang dihelat, tapi karena Teater ESKA ulang tahun.

Tahun ini, pekan lalu, 18 Oktober 2026, Eska berusia 46 tahun. Di sekretariat kecil UIN Sunan Kalijaga, Lurah Teater ESKA, Ahmad Sulton Afauna, duduk di antara poster-poster lama: Kesadaran yang Kembali (1980), Khuldi, Pancer ing Penjuru, Metaevolusi, Tiga Bayangan 5.0, Taskhir.

Di meja, ada rilis pentas produksi terbaru: Kincir Ria, Siklus Lupa & Gelak Tawa.

“Oktober bulannya Teater ESKA,” kata Sulton, Tolareng nama medsosnya.

Sejarah yang Tidak Lupa

ESKA bukan teater biasa. Sejarahnya sudah 46 tahun merentang. Berdirinya Teater ESKA dimotori sejumlah nama, Babe Rahmatullah, Dedi Hilman Harun, Sholihin Watimena dan sejumlah nama lainnya.

“ESKA merupakan akronim fonologis dari Sunan Kalijaga. Jadi penyebutan Teater ESKA sama artinya dengan mengucapkan Teater Sunan Kalijaga,” tulis laman kemahasiswaan UIN Sunan Kalijaga.

“Pendirian teater ESKA ini ditandai dengan pentas drama ‘Kesadaran yang Kembali’ pada 18 Oktober 1980,” dilansir dari kemahasiswaan.uin-suka.ac.id, dikutip mabur.co, Senin (26/10/2026).

Large diverse group of people posing together on a stage, smiling and giving thumbs up after a performance event.
Warga Teater ESKA tumpah di panggung saat perayaan Ultah ESKA ke-46, dari generasi Hamdy Salad hingga Lurah Sulton. (Foto: ESKA)

Sejak 1980, ESKA memilih jalan profetik.

Sejumlah skripsi mahasiswa UIN Sunan Kalijaga mencatat: “Salah satu kelompok/komunitas seni teater yang masih aktif, produktif dan tetap berpegang teguh pada prinsip keprofetikannya yakni komunitas Teater ESKA Yogyakarta,” dikutip digilib.uin-suka.ac.id.

Prinsipnya tiga hal: liberasi, humanisasi, transendensi.

Menjadi Ruang Refleksi dan Evaluasi

Mengutip konsep profetik Kuntowijoyo, sebenarnya teater bukan hiburan, tapi ibadah sosial. Sulton, yang kini Lurah, istilah ESKA untuk ketua, bilang, tema ulang tahun ini: Menempa Karya, Merawat Bahagia.

“Menurutku Mas, tema Menempa Karya, Merawat Bahagia menjadi ajakan bagi teman-teman Teater ESKA untuk merefleksikan perjalanan yang telah dilalui, baik pencapaian, kegagalan, maupun hal-hal yang masih perlu dibenahi.

Sebab, keberlangsungan organisasi bukan sebatas soal produktivitas karya, tetapi juga kesediaan untuk belajar dari masa lalu, merawat hubungan antargenerasi, dan membangun masa depan bersama,” ujar Ahmad Sulton Afauna dalam rilis Lurah yang dibagikan ke mabur.co, Senin (26/10/2026).

“Hal ini sejalan dengan pertunjukan Kincir Ria, Siklus Lupa & Gelak Tawa, yang mempertanyakan apakah kebahagiaan benar-benar dirasakan atau sekadar menjadi perayaan yang terus berulang tanpa perubahan. Karena itu, ulang tahun ESKA diharapkan menjadi ruang refleksi dan evaluasi, sekaligus pembaruan semangat dalam berkesenian. 

Pada akhirnya, setelah 46 tahun perjalanan, ESKA diharapkan tidak hanya terus berkarya dan bertahan, tetapi juga mampu menjaga kebahagiaan dalam prosesnya, merawat hubungan, serta mewariskan nilai dan pengalaman kepada generasi berikutnya,” tutup rilis Lurah Eska yang setiap hari berkejaran dengan tugas kuliah dan tugas sebagai Lurah Teater Kampus ini. (Bersambung).

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar