Mabur.co – Masih terus beredar polemik di media sosial, Sri Sultan HB X mau baca naskah milik Keraton Yogyakarta sendiri harus bayar 7 poundsterling per halaman. Data itu ada di Leiden-Belanda.
Kalimat itu cukup menohok. 7 poundsterling jika dirupiahkan sekitar Rp145.000 per halaman. Ambil contoh, jika satu serat tebalnya 300 halaman, dibutuhkan dana kurang lebih hampir Rp 45 juta untuk membaca satu bendel serat.
“Padahal itu data milik kita milik sendiri,” klaim Sultan yang baru saja menapaki usia 80 tahun.
Data yang dimaksud: catatan harian residen, serat, foto KITLV, peta tanah kesultanan 1830-1945, daftar tanah Sultan Ground, arsip Selokan Mataram, dan ratusan naskah yang kini tersimpan di Universiteitsbibliotheek Leiden dan British Library London.
Seorang abdi dalem yang mendengar itu langsung cerita: “Ngarsa Dalem dawuh, itu arsip kita, tapi kita yang harus nebus. Rasanya seperti punya rumah, tapi kunci dibawa orang”.
Padahal citranya keraton seperti punya segalanya, Namanya juga Sultan. Ini Sultan yang sesungguhnya. Realitasnya, sebagian besar memori keraton ada di luar negeri.
Lantas, Apa Peran Negara Indonesia?
Geger Sepehi 1812 itu sangat dramatis. Ceritanya hampir menyerupai Robin Hood yang menjarah keraton. Semua bermula 20 Juni 1812.
Pasukan Inggris di bawah Gillespie menyerbu Keraton Yogyakarta pada peristiwa Geger Sepehi. Sultan Hamengku Buwono II digulingkan. Keraton dijarah.
“Records from the kraton of Yogyakarta taken at the deposition of Hamengku Buwana II in 1812,” tulis katalog British Library untuk kode Add MS 12303.
“Taken at the deposition of Hamengku Buwana II in 1812. In Javanese language and script. The contents are miscellaneous, being mostly of a legal nature”. Inilah yang dimaksud pengandaian Robin Hood menjarah keraton.

Blog budaya Rajapatni menulis tajam.
“Bayangan ini seperti halnya yang pernah terjadi pada pusat pemerintahan Mataram Ngayogyakarta Hadiningrat pada 1812 oleh Inggris. Lantas apa peran negara Indonesia atas fakta sejarah yang hingga saat ini masih melukai secara psikologis dan kosmis,” tulis rajapatni.com, dikutip mabur.co, Senin (26/10/2026).
Puri Aksara Rajapatni menambahkan: Pemerintah Inggris memang secara bertahap menyerahkan salinan digital (seperti 75 naskah pada 2019 dan 120 naskah pada 2023) kepada pihak Keraton Yogyakarta.
Bagaimana pun, salinan adalah bukan asli, 75 naskah itu yang menjadi kunci.
Sri Margana: Tidak Semua Rampasan
Menanggapi polemik ini, Ahli Manuskrip Sejarah UGM, Dr. Sri Margana, S.S., M.Hum., M.Phil. memberikan tanggapan panjang yang menenangkan tapi juga jujur dalam wawancara tertulis dengan mabur.co, Minggu (25/10/2026).
“Naskah Nusantara di luar negeri itu banyak, terutama di Eropa ada di Belanda, Inggris, Jerman, dan Rusia. Tidak semua naskah yang ada di sana naskah rampasan. Sebagian besar yang lain juga ada naskah hasil proyek penyalinan naskah yang dilakukan para orientalis Eropa dalam rangka kajian mereka. Naskah yang dibeli dari pemilik sebelumnya, naskah persembahan dari para tokoh bangsawan dan raja-raja Nusantara serta naskah yang dihibahkan para kolektor naskah Eropa/Belanda,” tutur Sri Margana.
Menurut Sri Margana pula, khusus naskah yang dirampas dari Keraton Yogya dalam peristiwa Geger Sepehi disimpan di beberapa lembaga di Inggris terutama di British Library.
Naskah-naskah itu sebagian (75) naskah sudah didigitalkan dan arsip digitalnya diberikan kepada keraton Yogyakarta beberapa tahun lalu. (Bersambung).
