Imperialisme Budaya Halloween

4 Min Read
A family in Halloween costumes poses behind lit jack-o'-lanterns, with two children and two adults making spooky faces and gestures toward the camera.
Keluarga Halloween. Foto: Kompas

Dulu penjajahan datang dengan kapal perang dan senapan. Namanya VOC. Sekarang penjajahan datang dengan labu dan kostum hantu. Namanya Halloween.

Halloween bukan kebudayaan kita. Ia berasal dari Irlandia kuno, festival Samhain, ritual panen bangsa Celtic. Di Bavaria disebut karnaval Fasching. Tapi setelah dibawa ke Amerika Serikat, ia dibungkus oleh Hollywood dan dijual ke seluruh dunia sebagai produk wajib.

Dulu, labu adalah makanan. Di Amerika, labu adalah buah untuk pai Thanksgiving. Lalu Hollywood mengubahnya menjadi Jack-o’-lantern, labu yang dipahat jadi wajah setan dan diberi lilin di dalamnya.

Kenapa labu? Karena Amerika punya labu yang besar dan murah. Mereka tidak punya buah lain yang bisa dipahat. Kalau mereka punya pepaya, mungkin sekarang kita semua memahat pepaya jadi setan Halloween.

Tapi Hollywood berhasil menjual labu sebagai simbol ketakutan yang lucu. Film Halloween tahun 1978 membuat Michael Myers tenar sebagai pembunuh berantai dengan memakai topeng putih.

Film Hocus Pocus membuat nenek penyihir terbang dengan sapu di atas labu. Film-film Disney membuat anak-anak memakai kostum samaran dan pergi minta permen dari rumah ke rumah.

Dan kita di Indonesia, yang tidak punya musim gugur, yang tidak punya labu raksasa, yang tidak pernah punya tradisi minta permen ke tetangga, tiba-tiba ikut merayakan Halloween.

Mal-mal di Jakarta mulai bulan Oktober sudah menghias lobi dengan labu plastik. Anak-anak TK disuruh pakai kostum vampir dan zombie. Kafe-kafe menjual latte labu. Perusahaan-perusahaan dan klab-klab mengadakan lomba kostum Halloween terbaik. Kita semua merayakan ketakutan yang bukan ketakutan kita.

Ini adalah imperialisme budaya yang paling halus. Ia tidak memaksa dengan tentara, ia memaksa dengan film dan iklan. Amerika Serikat tidak perlu mengirim pasukan untuk menguasai Indonesia. Cukup kirim film Halloween, maka generasi muda kita akan berpikir bahwa memakai kostum hantu adalah lebih keren daripada memakai batik.

Padahal kita punya hantu yang jauh lebih seram dari hantu Amerika. Mereka punya Dracula, yang takut bawang putih. Kita punya Kuntilanak, yang tidak takut apa-apa. Amerika punya Zombie, yang jalannya lambat.

Kita punya Pocong, yang bisa melompat dan tidak bisa ditangkap. Amerika punya hantu labu yang lucu. Kita punya Genderuwo yang benar-benar menakutkan. Juga masih ada Glundung Pecengis atau Suster Ngesot.

Tapi hantu kita tidak pernah dijual oleh Hollywood. Tidak ada film Hollywood yang menceritakan Kuntilanak sebagai pahlawan. Karena Hollywood hanya menjual hantu Amerika. Dan kita membeli hantu Amerika dengan bangga.

Halloween adalah kolonialisme yang datang lewat permen. Ia mengajarkan anak-anak kita bahwa tradisi meminta-minta adalah hal yang lucu. Ia mengajarkan bahwa labu Halloween lebih penting dari ketupat Lebaran. Ia mengajarkan bahwa memakai kostum setan adalah hal yang modern, sementara memakai sarung adalah hal yang kuno.

Kita tidak anti-Halloween. Kita hanya anti-lupa. Kita lupa bahwa kita punya tradisi sendiri yang lebih kaya. Kita punya tradisi malam satu Suro, tradisi sedekah laut, tradisi nyadran. Kita punya hantu sendiri yang lebih orisinal. Tapi kita lebih memilih memakai hantu impor.

Imperialisme budaya tidak datang dengan senapan. Ia datang dengan labu plastik yang dijual Rp50 ribu di mal. Dan kita membelinya, kita memahatnya, kita menyalakan lilinnya, dan kita merayakan penjajahan kita sendiri dengan sorak sorai bahagia.

Share This Article
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar