Majegau, Pohon Sakral Identitas Provinsi Bali yang Semakin Langka dan Dilupakan 

3 Min Read
Pohon Majegau yang merupakan flora identitas Provinsi Bali (foto : Dok Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Denpasar)

Mabur.co – Sebagai negara dengan tingkat keanekaragaman hayati terbesar di dunia, Indonesia dikenal memiliki berbagai macam jenis pohon serta tanaman langka.

Salah satunya adalah Pohon Majegau, pohon yang sangat penting dan disakralkan dalam kehidupan tradisional masyarakat  Bali. Saking istimewanya, pohon ini bahkan ditetapkan sebagai flora identitas Provinsi Bali.

Sayangnya, saat ini keberadaan pohon Majegau sudah sangat langka dan jarang ditemui. Tak sedikit masyarakat Bali khususnya generasi muda bahkan mulai melupakan dan tak mengenali pohon ini.

Dilansir situs resmi Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Denpasar serta Tatkala.co, pohon Majegau memiliki nama ilmiah Epicharis densiflora.

Pohon ini termasuk keluarga Meliaceae yang masih berkerabat dengan pohon Mahoni, pohon Cendana, dan Gaharu. 

Dapat tumbuh setinggi 45 meter dengan diameter batang 65 sentimeter, pohon Mejagau memiliki kulit pohon berwarna kelabu-hijau. Bunganya bewarna kuning, sementara buahnya berwarna merah kecoklatan.

Majegau dikenal memiliki sejumlah nama atau penyebutan yang berbeda-beda di sejumlah daerah. Seperti pohon pingku (Sunda), cempaga (Jawa), kheuruh (Madura), hingga tumbawa rendai (Minahasa).

Salah satu keistimewaan pohon ini adalah kayunya yang terkenal kuat dan tahan lama. Sehingga kerap dimanfaatkan untuk bahan membuat bangunan peribadatan penting seperti pura atau bangunan suci lainnya.

Kayu majegau juga dikenal memiliki warna cokelat kemerahan yang semakin indah seiring waktu. Sehingga tak jarang kayu Majegau ini juga selalu menjadi pilihan utama untuk seni ukir dan furnitur khas Bali.

Pemanfaatan pohon Majegau di kalangan masyarakat Bali bahkan sudah berlangsung selama ratusan tahun silam dan tercatat dalam sejumlah lontar kuno. Tak hanya untuk kebutuhan bangunan dan karya seni saja, namun juga dalam praktik ritual keagamaan. 

Sebelum terpengaruh budaya China dan menggunakan dupa untuk ritual keagamaan, masyarakat Bali di masa lampau memanfaatkan kayu pohon Majegau yang terkenal harum untuk setiap upacara persembahyangan.

Caranya dengan membakar kayu pohon Majegau yang terkenal harum sehingga aromanya menyebar ke seluruh ruangan tempat suci ataupun lokasi ritual upacara keagamaan.

Dalam tradisi masyarakat Hindu Bali, aroma harum khas pohon Majegau bahkan  dipercaya dapat menjadi sarana untuk memanggil dewa tertentu sehingga keberadaannya menjadi hal yang wajib dan tak boleh dilupakan.

Selain kayunya, daun dan bunga pohon Majegau juga kerap dimanfaatkan untuk berbagai keperluan upacara adat maupun ritual keagamaan.

Meski sangat disakralkan dan menjadi bagian penting tradisi spiritual masyarakat Bali, sayangnya kini keberadaan Pohon Majegau sudah semakin langka dan jarang ditemui. 

Karena itulah upaya pelestarian pohon Majegau sangat penting dilakukan. Yakni untuk menjaga keberadaannya agar tetap lestari dan tidak punah begitu saja.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar