Mabur.co – Sempat dilarang dan dianggap sebagai kesenian yang identik dengan gerakan komunis dan PKI, Sandur kini mulai diangkat kembali sebagai identitas budaya Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Meski sempat hilang akibat para pelakunya diburu dan disingkirkan pasca peristiwa tahun 1965, perlahan kesenian drama teater tradisional ini mulai kembali dipentaskan.
Terbaru, Sandur bahkan ditampilkan di pusat kota, tepatnya di Alun-alun Bojonegoro, dalam Festival Sandur yang digelar dalam acara peringatan Hari Jadi ke-349 Kabupaten Bojonegoro.
Tak hanya sekedar pelengkap, pertunjukan Sandur bahkan menjadi sajian utama dalam pentas kesenian rakyat yang dihadiri ribuan orang warga dari berbagai daerah tersebut.
Dikutip laman resmi Pemerintah Kabupaten Bojonegoro, Festival Sandur ini digelar untuk memberikan ruang bagi masyarakat agar dapat mengenal kembali kesenian tradisional Sandur.
Terlebih Sandur memiliki sejarah panjang yang menyimpan nilai-nilai filosofi sekaligus menjadi bagian dari identitas masyarakat Kabupaten Bojonegoro.
Lewat Festival ini Bupati Bojonegoro Setyo Wahono berharap Sandur sebagai warisan budaya asal Bojonegoro dapat terus dilestarikan dan diwariskan ke generasi berikutnya.
“Sandur merupakan salah satu tradisi kesenian yang menjadi bagian dari ikhtiar kita untuk merawat tradisi, khususnya peninggalan para pendahulu yang menggambarkan identitas Kabupaten Bojonegoro,” ujarnya
Dilansir dari laman Taman Budaya Jawa Timur, Sandur sendiri merupakan kesenian tradisional khas Bojonegoro yang identik dengan aktivitas masyarakat agraris. Yakni dengan memadukan pementasan drama, tari, karawitan, akrobatik, serta unsur ritual.
Awalnya, kesenian ini menjadi hiburan bagi masyarakat kalangan petani setelah bekerja di sawah, kemudian berkembang sebagai bagian dari ritual ungkapan syukur atas hasil panen.
Jika kesenian ketoprak muncul dari lingkungan Keraton dan menceritakan kisah-kisah cerita rakyat atau legenda kerajaan. Maka Sandur lahir dari kalangan masyarakat kelas bawah yang lebih banyak menceritakan kisah kehidupan sehari-hari.
Pertunjukan Sandur tradisional biasanya digelar mulai malam hingga pagi hari di tanah lapang dengan arena berpagar tali yang disebut Blabar Janur Kuning.
Pementasannya melibatkan sekitar 20–25 orang dengan musik pengiring menggunakan kendang dan gong bumbung, disertai tembang yang berfungsi mengiringi adegan sekaligus memiliki makna ritual.
Salah satu adegan yang paling dinantikan adalah kalongking, yakni atraksi akrobatik ketika pemain memanjat bambu dan bergerak di atas tali yang dibentangkan di antara dua batang bambu.
Selain menjadi hiburan, Sandur mengandung pesan tentang kehidupan masyarakat pertanian, rasa syukur, hubungan antarmanusia, serta nilai-nilai kebaikan yang diwariskan leluhur.
Dalam perkembangannya, Sandur mengalami perubahan dari bentuk ritual menuju seni pertunjukan yang lebih dinamis. Dimana iringan musiknya semakin berkembang dengan adanya tambahan gamelan, saksofon, biola, drum, dsb.
Sejak tahun 2018 silam Sandur telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Dalam Festival Sandur 2026 ini, Pemkab Bojonegoro tak hanya sekedar menampilkan pementasan Sandur. Namun juga menggelar berbagai kegiatan pendukung.
Diantaranya lokakarya pagelaran Sandur dengan melibatkan guru dan siswa SMP/MTs. Lomba tembang sandur hingga lomba mewarnai bertema Sandur untuk tingkat RA dan TK.
Selain untuk mengajak generasi muda mengenal dan mencingai Sandur, berbagai kegiatan ini juga bertujuan untuk mengajak generasi muda mau mempelajari sejarah, filosofi, serta praktik pementasan Sandur.
Dengan begitu Sandur yang sempat hilang akibat dampak peristiwa politik di masa lalu, bisa kembali hadir di tengah masyarakat, bukan hanya sebagai warisan budaya yang dikenang, tetapi sebagai kesenian yang terus diperkenalkan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
