Mabur.co – Gerakan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 tak mungkin terjadi tanpa adanya rasa persatuan dan pemikiran nasionalisme di kalangan para pemuda Indonesia pada awal abad ke-20.
Dalam buku-buku sejarah, begitu banyak tokoh penting pada masa awal pergerakan nasional Indonesia disebut, mulai dari Dr. Wahidin Soedirohoesodo, Dr. Cipto Mangunkusumo hingga HOS Tjokroaminoto.
Namun ada satu tokoh yang sangat jarang dibahas padahal ia merupakan salah satu tokoh awal pelopor pemikiran nasionalisme Indonesia. Dia adalah Dr. Abdoel Rivai.
Lahir 13 Agustus 1871 di Sumatra Barat, ia merupakan sosok dokter pribumi pertama, sekaligus orang Indonesia pertama yang meraih gelar doktor di Eropa.
Tak hanya itu ia juga dikenal sebagai pelopor jurnalisme modern tanah air, yang menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu pertama dari luar negeri.
Melalui gagasan yang disebarkan melalui tulisan maupun surat kabar itulah Abdoel Rivai mencetuskan ide persatuan dan mendorong pendidikan, solidaritas, dan keterlibatan masyarakat dalam kehidupan ekonomi serta politik.
Hebatnya semua itu ia lakukan di masa awal pergerakan ketika organisasi modern di Indonesia saat itu belum tumbuh dan masih sangat dikuasai pemikiran dan pandangan pemerintah kolonial.
Gagasan Rivai sendiri muncul sebelum Boedi Oetomo berdiri pada 20 Mei 1908, yang menjadi tonggak awal Kebangkitan Nasional.
Pers sebagai Sarana Membangun Kesadaran
Peran Rivai dalam pergerakan memang tidak dimulai dari organisasi politik, melainkan melalui media massa. Ia menggunakan pers berbahasa Melayu untuk memperluas pengetahuan masyarakat dan membuka pembicaraan tentang kemajuan kaum pribumi.
Dilansir Historiek, salah satu penerbitan awalnya adalah Perwarta Wolanda, yang dirintis pada 1899 untuk menyampaikan informasi mengenai Belanda kepada pembaca di Hindia Belanda.
Setelah media itu berhenti terbit, Rivai bekerja sama dengan perwira KNIL H.C.C. Clockener Brousson dalam penerbitan Bandera Wolanda pada 1901.
Kolaborasi tersebut kemudian berlanjut melalui Bintang Hindia, yang mulai terbit pada 1 Januari 1903. Majalah ini menyajikan informasi dari Eropa dan Hindia Belanda dengan tampilan modern serta penggunaan foto.
Menurut artikel Ronald Frisart, oplahnya umumnya melampaui 10.000 eksemplar dan pernah mencapai 27.000 eksemplar, angka yang menunjukkan luasnya jangkauan media tersebut pada masanya.
Meski memiliki orientasi yang relatif moderat dan masih memberi tempat bagi hubungan dengan pemerintah kolonial, Bintang Hindia menjadi ruang bagi Rivai untuk menyebarkan gagasan yang lebih maju.
Pembacanya mencakup kalangan pribumi terdidik yang mulai terbuka terhadap pengetahuan modern dan perkembangan dunia.
Menggagas Organisasi Kaum Muda
Pada 1905, Rivai menulis tentang kelompok yang disebutnya kaoem moeda atau kaum muda. Istilah ini merujuk pada kalangan terdidik yang bersedia menerima pengetahuan baru tanpa harus meninggalkan latar belakang dan identitas mereka.
Rivai mengusulkan pembentukan Perhimpoenan Kaoem Moeda, sebuah perkumpulan pemuda yang diharapkan memiliki cabang di kota-kota besar di Hindia Belanda.
Organisasi itu, menurut gagasannya, perlu mendorong perluasan pendidikan, mengajukan tuntutan kepada pemerintah, menerbitkan buku pelajaran, serta membentuk dana bantuan pendidikan.
Ia juga ingin menumbuhkan solidaritas di kalangan pribumi terdidik dan memperluas kesempatan mereka dalam perdagangan serta kegiatan ekonomi.
Dengan demikian, pendidikan tidak hanya dipandang sebagai jalan bagi kemajuan individu, tetapi juga sebagai sarana memperbaiki kedudukan masyarakat secara kolektif.
Pemikiran tersebut melampaui kepentingan satu daerah atau kelompok. Rivai menghendaki organisasi yang mewakili masyarakat pribumi secara lebih luas, bukan hanya perkumpulan yang berpusat pada satu pulau atau kepentingan lokal.
Namun, gagasan itu tidak sepenuhnya diterima. Hubungan Rivai dengan Clockener Brousson kemudian memburuk akibat perbedaan pandangan mengenai isi penerbitan. Perselisihan tersebut, ditambah masalah keuangan, membuat Bintang Hindia berhenti terbit pada 15 Juni 1907.
Dari Gagasan Persatuan Menuju Pergerakan Nasional
Setahun setelah Bintang Hindia berhenti terbit, Boedi Oetomo berdiri di Batavia pada 20 Mei 1908. Organisasi ini berfokus pada pendidikan dan kemajuan masyarakat, terutama dalam lingkungan Jawa.
Dalam perkembangannya, pergerakan nasional Indonesia tumbuh melalui beragam organisasi dengan cakupan dan tujuan yang berbeda.
Gagasan Rivai tentang organisasi kaum muda yang menjangkau berbagai daerah menjadi salah satu pemikiran awal mengenai pentingnya persatuan yang lebih luas.
Menyuarakan Kepentingan Rakyat di Dewan Rakyat
Peran Rivai kemudian berlanjut di bidang politik. Pada 1918, ia menjadi anggota Volksraad atau Dewan Rakyat mewakili Persatuan Sumatra.
Walaupun lembaga tersebut hanya memiliki kewenangan terbatas dan berfungsi terutama sebagai badan penasihat, forum itu menjadi tempat bagi sejumlah tokoh pribumi untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan kolonial.
Salah satu sikap Rivai terlihat dalam perdebatan anggaran armada pada 1922. Ia mengkritik rencana pembiayaan armada laut yang menurutnya akan membebani anggaran Hindia Belanda selama puluhan tahun. Dana tersebut, dalam pandangannya, seharusnya dapat digunakan untuk kepentingan masyarakat.
Rivai menilai belanja militer berisiko mengurangi anggaran bagi pembangunan dan kebutuhan umum. Ia juga melihat kebijakan tersebut dari sudut pandang penduduk pribumi yang selama berabad-abad mengalami eksploitasi kolonial.
Sikap kritis itu menunjukkan perubahan penting dalam pemikirannya. Jika pada masa awal ia lebih banyak mengupayakan kemajuan melalui pendidikan dan pers, di Dewan Rakyat ia menyampaikan kritik secara langsung terhadap kebijakan pemerintah kolonial.
Abdoel Rivai meninggal pada 1937 dan tidak sempat menyaksikan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Namun, gagasannya mengenai pendidikan, persatuan kaum muda, dan organisasi lintas daerah menjadi bagian dari sejarah awal pemikiran nasionalisme Indonesia.
Sejarawan Harry Poeze, yang banyak meneliti kehidupan Rivai, menilai perannya dalam perkembangan nasionalisme Indonesia kurang mendapat perhatian.
Pemerintah Indonesia sendiri menempatkan Dr. Abdoel Rivai sebagai tokoh Perintis Pers Indonesia pada tahun 1974. Masyarakat juga sering menyebutnya sebagai Bapak Jurnalistik Indonesia. ***
