Teater ESKA: Merawat Bahagia di Tengah Absurditas Dunia

4 Min Read
Pentas "Tiga Bayangan" Teater ESKA. (Foto: Istimewa)
3 dari 3 Series - Oktober Bulan Teater Eska: Kincir Ria, Siklus Lupa, dan Gelak Tawa

Mabur.co – Tradisi lain Teater ESKA: sarasehan. Setelah pentas, kru, dan penonton membentuk lingkaran diskusi.

“Sebagaimana yang kerap dilakukan oleh teater kampus di Yogyakarta ketika hendak mengakhiri pertunjukan. Semua kru, sutradara, dan penonton akan membentuk lingkaran serta berdiskusi mengenai pengalaman maupun kritiknya terhadap presentasi pertunjukan yang telah mereka saksikan. Momen melingkar semacam ini sering disebut sebagai sarasehan,” tulis ekspresionline.com tentang tradisi Teater ESKA, dikutip mabur.co, Rabu (28/10/2026).

Dorongan untuk Bahagia, Tapi Dipaksa Bahagia

Kritikus gelaran.id tentang pentas Teater ESKA “Tiga Bayangan 5.0” juga mencatat: ESKA tidak takut kata-kata berat, bahkan soal AI dan komputer besar yang berisi wajah manusia.

“Di dalamnya berisi seonggok wajah, bukan wallpaper melainkan manusia yang merepresentasikan kecerdasan buatan/AI,” tulis gelaran.id. Kemudian pentas “Kincir Ria” melanjutkan itu.

Pertengahan Oktober lalu di Concert Hall Taman Budaya Yogya, Teater ESKA menyetting panggung yang dipasangi kincir ria mini dari bambu dan besi bekas, dililit lampu pasar malam.

Aktor akan naik turun, tertawa, lalu lupa. Seperti kata sutradara Teater ESKA sebelumnya, Ananda Bagus Wirahadi Kusuma tentang pentas “Tiga Bayangan”: pementasan mempersembahkan tiga naskah, tiga sutradara, tiga tata panggung yang berbeda. Tentang dorongan dalam diri manusia untuk melakukan baik dan buruk.

“Kincir Ria” juga tentang itu: dorongan untuk bahagia, tapi dipaksa bahagia. Seperti puisi Sulton sendiri, Lurah Teater ESKA yang juga penyair, yang pernah menulis di Majalah Frasa: “Kita menertawakan lupa, karena lupa menertawakan kita”.

Seperti kata Emha Ainun Nadjib, budayawan kondang dan sesepuh perteateran Yogya yang juga banyak bersentuhan dengan Teater ESKA di Yogya, baik personal maupun komunitas: “Bahagia itu bukan tujuan, bahagia itu kendaraan”.

Teater ESKA Rumah Kita Bersama

Sastrawan dan sosiolog, pembina Teater ESKA B.J. Sujibto, M.A, penuh bahagia dan haru menyambut 46 tahun Teater ESKA tahun ini.

“Ini usia yang sangat-sangat matang. Transformasi nilai-nilai ESKA terus terjaga, meski dengan kontekstualisasi pada pengalaman aktor-aktor dan era yang berbeda. Produksi kali ini menyajikan itu: satu sisi bersetia dengan nilai-nilai esensial dari ESKA seperti profetik dan refleksi absurd soal kehidupan. Di sisi lain sentuhan generasional macam Gen Z juga terasa,” kata dosen muda yang akrab disapa Mas Beje ini.

“Ke depan, saya lihat dunia teater kampus harus peka dengan dinamika internal kampus itu sendiri, terkait dengan masa studi, peminatan dan lainnya. Intinya, teater kampus macam ESKA harus siap untuk melakukan transformasi yang menyeluruh dengan tetap menjaga ‘mazhab’ yang sudah dibangun para pendiri dan pendahulu ESKA selama bertahun-tahun,” pungkas Beje penyuka novel-novel Orhan Pamuk.

Ideolog Teater ESKA Hamdy Salad (istilah Raudal Tanjung Banua) alumni ESKA, era 1980-an, yang kini menjadi salah satu tokoh sastra dan teater di Yogya sering menyebut dalam obrolan santai di pelataran ESKA.

“ESKA ini bukan sekadar komunitas teater, ESKA ya rumah kita bersama. Rumah yang mengajarkan kehidupan, merawat napas panjang kreativitas, itu yang sulit,” kata Hamdy Salad.

Sejurus dengan itu, tema ultah ESKA tahun ini: Menempa Karya, Merawat Bahagia. Karena 46 tahun itu bukan soal berapa kali pentas, tapi berapa kali kita masih mau kembali setelah lupa.

Oktober bulannya Teater ESKA. Bulan di mana kincir berputar.

Lupa dirayakan, tawa digema, dan di antara itu, Teater ESKA bertanya pelan: kita ini bahagia beneran atau cuma lupa caranya sedih? (Selesai).

Share This Article
Cartoon man singing into a microphone, holding a sheet of paper, wearing a hat and scarf against an orange background.
Sastrawan, Antropolog.
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar