Mabur.co – Hari ini ribuan mahasiswa bersama elemen masyarakat turun ke jalan untuk menggelar aksi demonstrasi.
Selain di Jakarta, aksi demonstrasi juga digelar di kawasan Jalan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Aksi ini digelar bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober. Berbagai isu disuarakan massa aksi mulai dari persoalan ekonomi, korupsi, hingga kerusakan lingkungan.
Tak hanya mahasiswa, sejumlah dosen hingga guru besar sejumlah perguruan tinggi di Yogyakarta juga ikut turun ke jalan untuk melakukan aksi. Salah satunya Guru Besar Universitas Islam Indonesia (UII), Prof. Masduki.
Lahir dari Kegelisahan Nyata
Dekan FPSB UII sekaligus Kepala Pusat Studi Agama dan Demokrasi (PSAD) UII itu menilai, aksi demonstrasi mahasiswa Rabu (28/10/2026) hari ini merupakan gerakan yang genuine atau lahir dari kegelisahan nyata.
“Aksi ini adalah bentuk ekspresi kekecewaan, ekspresi kemarahan mahasiswa yang mewakili semangat sumpah pemuda. Hanya mahasiswa saat ini punya feeling, punya chemistry terhadap bangsanya yang sedang sakit,” kata Masduki dilansir video unggahan akun Instagram @krjogjadotkom.
Menurut Masduki, aksi mahasiswa yang digelar tepat pada peringatan Sumpah Pemuda ini merupakan aksi yang genuine atau asli muncul dari keresahan mahasiswa melihat kondisi bangsa dan negara saat ini. Karena itu sudah semestinya pemerintah harus segera merespons.
“Aksi ini genuine. Mungkin di tempat lain ada yang KW atau bisa dimobilisasi. Tapi yang hari ini asli. Artinya pemerintah harus mendengarkan, meski terlambat tapi harus segera merespons,” ungkapnya.
Mahasiswa Kehilangan Patron
Ia juga menyoroti aksi demontrasi di sejumlah daerah hari ini memiliki pesan moral yang sangat mendalam. Di mana generasi muda termasuk mahasiswa kehilangan sosok teladan (role model) atau patron di tingkat pucuk pimpinan negara.
Masduki mengaitkan persoalan itu dengan semangat Sumpah Pemuda, yang seharusnya tercermin dalam kecintaan, kesetiaan, dan pengabdian tanpa pamrih kepada bangsa.
“Pesan moral aksi mahasiswa hari ini adalah anak-anak muda Indonesia termasuk mahasiswa kehilangan role model. Role model di pucuk pimpinan negara saat ini. Misalnya Wakil Presiden Gibran justru role model yang buruk sekali. Role model yang mengalami fabrikasi politik.
Jauh dari semangat peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober. Bagaimana harusnya pemuda mencintai bangsanya, bagaimana pemuda menunjukkan kesetiaan kepada bangsanya tanpa pamrih. Menunjukkan kompetensinya dan kelayakannya memimpin bangsa,” bebernya.
Masduki melihat, para mahasiswa kecewa dengan sosok Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dinilai tidak layak menjadi teladan bagi generasi muda. Karena itu ia meminta Presiden Prabowo Subianto segera mengambil tindakan atas persoalan tersebut.
“Tapi mereka (mahasiswa) melihat Gibran tidak layak dan ini harusnya Prabowo bertindak kalau tidak berarti sama saja. Berarti Prabowo juga harusnya mendapatkan sanksi dari rakyat,” ujarnya.
