Kartu Literasi Budaya, Sarana Pembelajaran Edukatif dan Menyenangkan untuk Siswa

3 Min Read
Siswi SMP IT Abu Bakar Full Day School Yogyakarta, sedang menggunakan Kartu Literasi Budaya di Museum Jenderal Besar Sudirman. (Foto: Setiaky A Kusuma)

Mabur.co –  Melalui Wajib Kunjung Museum (WKM), peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih nyata, interaktif, dan menyenangkan.

Program WKM merupakan fasilitasi dari Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta yang memberikan kesempatan kepada masyarakat, khususnya satuan pendidikan dengan peserta didik usia 7–18 tahun, untuk mengunjungi museum sebagai sarana pembelajaran yang edukatif, inspiratif, dan menyenangkan.

Kepala Bidang Sejarah, Permuseuman, Bahasa, dan Sastra, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Andrini Wiramawati, menjelaskan, pelaksanaan WKM ini merupakan bagian dari implementasi Aksi Perubahan Pelatihan Kepemimpinan Pengawas (PKP) Angkatan I Tahun 2026 yang dikembangkan melalui inovasi Kartu Literasi Budaya.

“Selama kunjungan, para siswa mendapatkan penjelasan sejarah dan informasi mengenai tokoh-tokoh penting dari edukator museum. Pembelajaran tersebut dilengkapi dengan penggunaan KLB sebagai instrumen evaluasi untuk mengetahui perubahan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan,” ucapnya, saat ditemui di Museum Jenderal Besar Sudirman, Kamis (29/10/2026).

Pembelajaran Berbasis Permainan

Andrini, mengatakan, kartu literasi budaya dirancang sebagai media evaluasi pembelajaran berbasis permainan.

Peserta mengikuti pre-test sebelum mendapatkan materi dari pemandu museum dan post-test setelah seluruh rangkaian kunjungan selesai. Melalui permainan kartu, peserta diajak mencocokkan informasi sejarah dengan tokoh yang sesuai.

“Penggunaan permainan sebagai instrumen pengukuran diharapkan membuat proses evaluasi berlangsung lebih interaktif dan menyenangkan. Selain memperoleh pengalaman belajar, peserta juga berpartisipasi aktif dalam proses pengukuran pengetahuan yang diperoleh selama kunjungan,” ucapnya.

Penguatan Kualitas Wajib Kunjung Museum

Andrini mengatakan, kehadiran kartu literasi budaya diharapkan menjadi langkah penguatan kualitas program Wajib Kunjung Museum.

“Keberhasilan kegiatan tidak hanya dilihat dari jumlah peserta dan kunjungan, tetapi juga dari pengetahuan yang diperoleh setelah mengenal sejarah dan kebudayaan secara langsung,” ucapnya.

Salah satu peserta, Emran dari SMP IT Abu Bakar Full Day School Yogyakarta, menyampaikan bahwa permainan pre-test dan post-test menggunakan KLB terasa seru, menantang, dan bervariasi.

“Metode ini membuat kegiatan pengukuran pengetahuan menjadi pengalaman yang menarik,” ucapnya.

Sementara itu, Komunitas Malam Museum, menjelaskan, KLB merupakan inovasi yang penting dalam pengembangan evaluasi program edukasi museum.

“Ini salah satu inovasi luar biasa untuk mengukur seberapa jauh pemahaman peserta selama mengikuti Wajib Kunjung Museum. Selama ini, pengukuran lebih banyak berfokus pada jumlah pengunjung dan berapa banyak museum yang dikunjungi. KLB menjadi upaya untuk mengukur penambahan pengetahuan sebelum dan sesudah berkunjung,” ujarnya.

Share This Article
Teruslah Berbuat baik kepada siapapun karena hal baik itu, akan kembali padamu dengan berbagai cara
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar