Tradisi Methil, Cara Petani Jawa Syukuri Hasil Panen

3 Min Read
Sejumlah petani melakukan tradisi methil. (Foto: Pemkab Magetan)

Mabur.co – Mengenakan caping serta pakaian tradisional, sejumlah petani di wilayah Sragen, Jawa Tengah, mulai menggelar tradisi methil. 

Tradisi ini rutin digelar setiap memasuki awal masa panen, yakni sebagai ungkapan rasa syukur para petani atas hasil panen yang mereka dapatkan.

Methil sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti memetik. Tradisi ini biasa dilakukan untuk mengawali panen raya yakni dengan cara memetik padi hasil panen untuk pertama kalinya.

Sesaji Aneka Makanan

Prosesi methil sendiri biasanya diawali dengan menyiapkan sejumlah sesaji berisi aneka makanan. Warga atau petani kemudian bersama-sama menuju sawah untuk melakukan doa bersama.

Doa ini dilakukan untuk memohon kelancaran saat proses panen raya nantinya, sekaligus juga untuk memohon berkah kepada Tuhan YME atas hasil panen melimpah yang diberikan.

Prosesi Panen Pertama

Setelah itu prosesi panen pertama pun dilakukan. Tetua adat akan mkethil atau memetik padi untuk pertama kali, yang nantinya akan dibawa pulang sebagai bentuk berkah dari alam.

Begitu ritual utama selesai dilakukan, para petani kemudian akan melakukan kenduri atau selametan yakni dengan makan bersama-sama sebagai bentuk rasa syukur mereka.

Dilansir laman resmi Pemkab Magetan, tradisi methil ini tak bisa dilepaskan dari kepercayaan kuno masyarakat Jawa terhadap Dewi Sri yang dipercaya sebagai dewi pelindung padi dan dewi kemakmuran.

Meski berbeda-beda di tiap daerah, dalam prosesi methil biasanya akan disediakan berbagai macam sesaji. Terdiri dari satu tangkep pisang, jamu sirih, takir, telur ayam kampung, hingga uang koin.

Berbagai macam sesaji tersebut memiliki beragam simbol dan makna. Mulai dari rasa syukur atas hasil panen yang melimpah, permohonan ampun kepada Tuhan YME, simbol kerja keras petani, harapan sikap tatag, tutug, tangguh, hingga bentuk penghormatan kepada leluhur.

Para petani biasanya akan berjalan mengelilingi sawah yang sudah panen dengan meletakkan sesaji di setiap sudut sawah yang dipanen.

Selain menjadi bentuk rasa syukur setiap musim panen, tradisi ini juga mengandung nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap kehidupan pertanian yang diwariskan secara turun-temurun.

Melalui tradisi methil, para petani tidak hanya merayakan dan mensyukuri  hasil panen. Namun juga menjaga ikatan kebersamaan, melestarikan warisan budaya pertanian dan meneruskannya kepada generasi mendatang.

Share This Article
Avatar photo
Jurnalis lahir dan tinggal di Jogja
Avatar photo
Pemimpin redaksi mabur.co
Tidak ada komentar